SMART RTKU – Bangsa ini punya beragam sejarah, cerita pewayangan, cerita rakyat, hikayat, yang seru dan memikat.
Kita simak kembali salah satu cerita pewayangan legendaris tentang seorang Ksatria. Namanya, Gatotkaca.
Ia masyhur dengan kesaktiannya. Tak hanya sakti, tapi juga punya kemampuan terbang.
Gatotkaca anak dari Bimasena atau Pandawa, dan ibunya Dewi Arimbi: putri raksasa dari Kerajaan Pringgandani.
Kesaktian Gatotkaca sudah terlihat sejak lahir. Tali pusatnya tak bisa dipotong dengan senjata tajam biasa.
Dikenal memiliki otot kawat, tulang besi.
Tangan kanannya mampu memecahkan karang batu raksasa. Pusaka itu dikenal dengan nama Brajamusti.
Ada pula pusakanya bernama Brajadenta, yakni tangan kirinya yang punya kekuatan sama dengan tangan kanannya.
Gatotkaca juga mampu terbang tanpa sayap. Punya kemampuan melesat di udara dengan kecepatan luar biasa laiknya burung elang.
Selain itu, ia punya beragam senjata sakti. Salah satunya, Kasut Pada Kacarma.
Sebuah sepatu sakti yang membuatnya kebal saat menyentuh tanah berapi atau tempat berbahaya.
Kekebalan Gatotkaca hanya bisa ditembus satu senjata pusaka, yaitu Panah Konta atau Kunta Wijayandanu milik Adipati Karna.
Panah Konta juga dikenal sebagai senjata dewa. Ini pula yang mengakhiri nyawa Gatotkaca dalam perang Baratayuda.
Cerita Gatotkaca memang melegenda. Kisah bertutur ini kerap diceritakan turun temurun.
Ada pula yang membukukannya, bahkan ada film tentang Gatotkaca.
Terlepas kisah fiksi atau cerita hikayat, namun banyak hikmah di dalam kisah-kisah yang kerap dituturkan leluhur bangsa ini.
Saya jadi berimajinasi, Gatotkaca zaman sekarang ada pada sosok mahasiswa.
Bukan karena mahasiswa Indonesia sakti-sakti atau kebal senjata.
Tapi mereka punya kelebihan yang tak dimiliki kebanyakan.
Mahasiswa sejak dulu berperan sebagai agen perubahan.
Banyak sejarah pergerakan mahasiswa yang mengubah bangsa ini.
Mereka adalah kaum intelektual, punya banyak visi misi dan daya kritis yang tajam.
Mereka bisa bergerak bersamaan, mengubah wajah peradaban.
Dalam sejarah bangsa ini, mahasiswa bisa menaklukkan kursi penguasa yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Menumbangkan rezim Orba.
Kelebihan-kelebihan mahasiswa ini ibarat senjata sakti dalam diri Gatotkaca.
Misalnya, Gatotkaca punya Kasut Pada Kacarma. Yang membuatnya kebal saat menyentuh tanah berapi atau tempat berbahaya.
Kalau mahasiswa punya idealisme kokoh, yang mampu mengubah wajah peradaban.
Pun seperti Gatotkaca, mahasiswa juga punya kelemahan.
Kalau Gatotkaca lemah terhadap Panah Konta, mahasiswa punya potensi kelemahan untuk disuap dan dipecahnya gerakan.
Kelemahan mahasiswa ini juga sering kita saksikan dalam kehidupan. Terbaru, aliansi BEM Bersatu, yang ternyata abal-abal.
Bahkan, belakangan diketahui, mereka yang menemui Gibran disuap sampai ratusan juta.
Gerakan mereka berkebalikan dengan gerakan kebanyakan.
Saat mahasiswa menolak MBG, harga kenaikan Pertamax dan mendesak penurunan harga kebutuhan pokok.
Ada sejumlah mahasiswa yang malah bermesraan dengan kekuasaan.
Kelemahan mereka dihantam, takluk kala disuap hingga akhirnya memecah gerakan.
Namun untung saja, jauh lebih banyak mahasiswa yang seperti Gatotkaca.
Mereka tetap mengendalikan senjata utamanya: idealisme.
Menjaga kelemahannya, berani menolak upaya suap. Dan tetap bergerak untuk kepentingan masyarakat.
Kita tentu berharap mahasiswa-mahasiswa seperti Gatotkaca tidak tunduk pada kekuasaan.
Tetap membela rakyat kebanyakan.
Membela hajat hidup orang banyak, yang kini berteriak: terhimpit masalah ekonomi.
Terdesak masalah kehidupan.
Yang kian hari kian berat, harga-harga kebutuhan yang semakin melonjak.
Kita berharap mahasiswa-mahasiswa Gatotkaca bisa mengubah kondisi sakitnya bangsa ini.
Berharap mereka mampu memenangi pertempuran: idealisme melawan oligarki.
Semoga. Mari kita doakan bersama.
Rudi Agung














