SMART RTKU – Jumat, 12 Juni 2026, lautan manusia menyemut. Memenuhi jalanan Jakarta.
Ribuan mahasiswa berbagai elemen, termasuk dari UI, tumpah ruah bersama masyarakat.
Mereka melakukan aksi menuntut perbaikan atas kebijakan-kebijakan Prabowo Subianto, yang dinilai kian mencekik rakyat.
Terbaru, menaikkan harga Pertamax. Yang diumumkan tanpa persetujuan DPR. Tanpa pemberitahuan awal.
Padahal, menteri ESDM Bahlil, menjanjikan tak akan menaikan harga BBM sampai akhir tahun.
Tapi pada 10 Juni, tengah malam, di saat bintang-bintang di langit mulai meredup.
Di saat kebanyakan manusia berada dalam lelap, pemerintah menaikan harga Pertamax.
Mengumumkan diam-diam.
Banyak masyarakat di pagi hari, saat mau bekerja, mengisi bahan bakar kendaraannya, mengaku terkaget-kaget.
Terkejut, Petamax sudah naik. Bukan seratus atau dua ratus rupiah. Tapi empat ribu rupiah.
Naik, di saat harga minyak dunia turun. Persis sebuah kebijakan yang dulu pernah dilakukan pendahulu Prabowo: Jokowi.
Kenaikan harga Pertamax kali ini tinggi sekali, sampai 32%.
Kenaikan ini dinilai banyak pakar ekonomi, berpotensi menurunkan kelas menengah.
Dan tentu, kenaikan BBM selalu berefek domino menekan ekonomi seluruh masyarakat.
Kecuali masyarakat kelas atas dan para pejabat.
Rakyat, sang majikan yang membayar pajak untuk gaji pejabat, menuntut perbaikan dari catur pemerintahan yang dikendalikan Prabowo.
Selang dua hari dari pengumuman kenaikan harga Pertamax, ribuan orang protes keras.
Berunjuk rasa. Menuntut turunnya harga. Menuntut perbaikan.
Aksi protes massa itu dilakukan sampai malam. CCTV dilumpuhkan, lampu dipadamkan, sinyal dikacaukan.
Sampai-sampai media sosial, seperti Instagram, dibuat error. Sulit posting. Komentar hilang.
Beruntung, para peserta aksi membaca tanda-tanda anomali ini.
Mereka pun bubar dengan tertib tanpa kerusakan, apalagi kerusuhan.
Menyeret Memori
Aksi 12/6 Jumat malam itu, menyeret memori di kepala pada peristiwa puluhan tahun lalu.
Tepatnya sebuah memori di tahun 2009.
Saat itu, saya masih bertugas di Surat Kabar Harian, sebuah koran nasional di Jakarta.
Kebetulan, ikut meliput tiki taka pasangan capres-cawapres yang dulu dikenal sebagai Koalisi Mega Pro.
Yakni pasangan yang mengusung Megawati Soekarmoputri dengan Prabowo Subianto.
Pasangan ini diusung koalisi PDIP dan Gerindra.
Mega Pro mendeklarasikan pencalonannya secara simbolis, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi.
Alasannya, secara politik tentu saja menjual: mau menunjukkan keberpihakan ke rakyat kecil atau wong cilik.
Meski mendapat urutan nomor 1 dari 3 pasangan saat itu, Mega Pro, tetap tumbang.
Mereka mengumpulkan suara 26,79% suara, atau sekitar 32.548.105 suara.
Mega Pro hanya berhasil di urutan kedua. Suaranya beda jauh dari sang juara, yang saat itu dimenangkan pasangan SBY-Boediono.
Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono menang satu putaran.
Mereka meraih perolehan 60,80% suara, dan memimpin Indonesia di periode 2009-2014.
Ini periode kedua bagi SBY menahkodai Republik Indonesia. Periode pertama, SBY menggandeng Jusuf Kalla.
Adapun posisi ketiga pada kontestasi Pilpres 2009, ditempati Jusuf Kalla dan Wiranto.
Dalam catatan sejarah kepemiluan di Indonesia, Prabowo telah maju sebagai calon presiden dan atau wakil presiden sebanyak lima kali dalam pemilihan umum.
Prabowo mengalami kekalahan sebanyak empat kali, sebelum akhirnya memenangkan Pilpres, di putaran upayanya, yang kelima.
Rincian rekam jejak Prabowo dalam pilpres, diawali tahun 2004.
Prabowo mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Konvensi Capres Golkar 2004.
Saat itu, ia sempat lolos sampai putaran akhir. Tapi akhirnya Prabowo tergilas di tengah jalan. Ia kalah suara dari Wiranto.
Di tahun 2009, Prabowo maju dalam kontestasi perdananya dengan menjadi calon wakil presiden, yang digandeng Megawati.
Hasilnya, kalah.
Tahun 2014, ia kembali mencalonkan diri sebagai Calon Presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa.
Kali ini, kalah lagi.
Di Pilpres 2019, Prabowo kembali mencalonkan diri sebagai Calon Presiden berpasangan dengan Sandiaga Uno.
Hasilnya sama, lagi-lagi kalah kembali.
Barulah di Pilpres 2024, Prabowo maju sebagai Capres, berpasangan dengan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Hasilnya, menang.
Kepercayaan Publik Mulai Pudar
Sayang seribu sayang. Di saat Prabowo meraih kemenangan, di kala dapat kursi kekuasaan, baru sejenak menjabat, ia beberapa kali memicu kontroversi.
Bahkan, mengundang aksi massa yang terkenal dengan tuntutan 18+7.
Aksi yang dilakukan Agustus 2025, menelan sejumlah korban jiwa. Termasuk driver online.
Dalam demonstrasi itu juga, aparat menangkap ribuan peserta aksi dari seluruh Indonesia.
Dari situ, tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Prabowo mulai memudar.
Akumulasi kekecewaan publik sebetulnya telah meletup sejak awal ia dilantik.
Jika mengulik catatan sejarah, mengacu data dari Sekretariat Kabinet: jajaran pembantu Prabowo, tercatat paling gemuk.
Tergemuk, sepanjang era Orde Baru hingga Reformasi.
Kabinet Merah Putih, punya 48 kementerian, 56 wakil menteri.
Lalu ada pula posisi penasihat, utusan, dan staf khusus presiden. Termasuk beberapa kementerian yang dipecah.
Membentuk beberapa lembaga baru. Kabinet gemuk yang memboroskan anggaran.
Saat sama, Prabowo justru menerbitkan regulasi untuk efisiensi anggaran. Daerah menjerit, dana transfer ke daerah dipangkas.
Prabowo juga memploting anggaran luar biasa untuk program-program yang digagasnya.
Mulai makan bergizi gratis, koperasi Merah Putih sampai sekolah rakyat. Anggaran-anggaran itu mengorbankan banyak kebutuhan lain.
Kebutuhan yang jauh lebih krusial bagi daerah dan seluruh masyarakat Indonesia.
Belakangan, punggawa-punggawa Badan Gizi Nasional, yang mengelola urusan MBG justru ditangkap Kejaksaan Agung.
Sudah banyak anggaran rakyat terbuang, yang berujung pada penangkapan.
Prabowo juga dinilai memboroskan anggaran untuk lawatannya ke luar negeri.
Isu Prabowo yang dinilai boros mencuat setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, mengkritik frekuensi dan biaya lawatan luar negeri kepala negara.
Lawatan itu dinilai di luar batas kewajaran.
Prabowo telah melakukan 49 kali kunjungan luar negeri hanya kurun 18 bulan, yang berarti menghabiskan sekitar 1 dari 6 hari masa jabatannya di luar negeri.
Kunjungan terbanyak dibanding presiden sebelumnya. Dus termasuk kunjungan terboros.
Prabowo tercatat menempuh 49 kali ke luar negeri sejak November 2024 hingga Mei 2026.
Kunjungan itu menjangkau 28 negara, dengan sejumlah negara didatangi lebih dari sekali. Salah satunya, Prancis.
Di masa Prabowo pula, rupiah melemah hingga menembus Rp 18.000 lebih per dolar Amerika.
Penurunan rupiah terlemah dalam sejarah.
Rela Duduk Semeja
Di eranya juga, ia mengukir sejarah yang menyakitii pendiri bangsa dan rakyat Indonesia, bersikap kebalikan dengan UUD 1945.
Ia rela duduk semeja dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Netanyahu adalah buronan global, yang dicari Mahkamah Internasional atas kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.
Prabowo bergabung satu forum dalam Board of Peace. Indonesia di bawah kepemimpinannya masuk BoP, di saat dunia membela Palestina.
Di saat masyarakat global mengutuk Israel dan Netanyahu.
Di saat bangsa ini, sejak Indonesia merdeka, selalu memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Menolak segala bentuk penjajahan di atas muka bumi. Bukan malah semeja dengan penjajah.
Sejak dulu Indonesia menerapkan kebijakan politik luar negeri bebas aktif. Negara non blok.
Politik bebas aktif ini dasar diplomasi yang diwariskan sejak awal kemerdekaan.
Diplomasi yang tidak memihak blok kekuatan dunia mana pun.
Saat sama Indonesia senantiasa proaktif memperjuangkan kemerdekaan sebuah bangsa, menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia.
Tapi sejak 6 Januari 2025, Indonesia bergabung dengan BRICS, bersama Cina dan Rusia.
BRICS saat ini beranggotakan 11 negara.
Blok kerja sama ekonomi dan geopolitik ini terdirii lima negara pendiri utama.
Empat negara telah nergabung sejak awal 2024. Seiring waktu Arab Saudi dan Indonesia, resmi masuk tahun 2025.
Tapi setahun kemudian, pada 22 Januari 2026 di sela-sela pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos Swiss, Prabowo meneken Paiagam BoP.
Di BoP, Indonesia bergabung bersama Amerika dan Israel.
Langkah ini sempat disebut sebagai anomali diplomatik. Diplomasi yang sejak dulu netral, tak memihak, berubah menjadi diplomasi dua kaki.
Diplomasi Indionesia yang sejak dulu selalu menentang segala bentuk penjajahan, justru semeja dengan negara penjajah.
Semeja, dengan buronan internasional yang melakukan genosida di Gaza, Lebanon dan Iran.
Dulu, banyak yang mengira Prabowo adalah harapan. Ia tak menyerah meski berkali-kali kalah.
Publik akhirnya mendukungnya, melihat ia gigih berjuang di Pilpres, dan berhasil menang.
Dulu, banyak yang mengira Prabowo adalah macan Asia. Mengharumkan nama bangsa.
Dulu, tak sedikit yang mengira ia sosok patriotik yang berani melawan antek-antek asing.
Tapi data dan fakta bicara sebaliknya.
Sampai-sampai media asing berkali-kali ikut mengkritiknya. Beberapa kali media asing menyoroti kebijakan Prabowo.
Mulai sorotan soal kebijakan ekonomi populis, fiskal,sampai seringnya lawatan ke luar negeri.
Jauh berbeda dengan Xi Jinping. Presiden Cina, yang justru disambangi banyak kepala negara.
Mulai Presiden Amerika Donald Trump sampai Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kita semakin jauh tertinggal dari Cina, teramat jauh. Tertinggal, dalam banyak hal.
Termasuk, tertinggal dalam propaganda dramanya. Yang telah mendunia.
Sampai sekelas Menkeu Purbaya, mengaku hanyut menikmati drama Cina.
Begitupun, saya, larut di dalamnya. Haha.
Rudi Agung













