SMART RTKU – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengumumkan penerima pendanaan riset dan pengembangan tahun 2026.
Adapun total anggaran sebesar Rp1,7 triliun. Anggaran itu dialokasikan untuk mendukung 18.215 kegiatan riset.
Termasuk pengembangan di perguruan tinggi seluruh Indonesia.
Pengumuman itu dirilis di laman resmi Kemdiktisaintek, yang dinukil dari Balikpapan, pada Rabu 17 Juni 2026.
Pendanaan ini disalurkan melalui sembilan program utama.
Yakni Program Penelitian, Program Pengabdian kepada Masyarakat, Program Hilirisasi Riset Prioritas.
Kemudian Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak, Program Inovasi Seni Nusantara, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT).
Selanjutnya Program Mahasiswa Berdampak, Program Pengujian Model dan Prototipe, serta Program PHC-Nusantara.
Sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, seluruh program pendanaan ini diarahkan untuk menghasilkan solusi konkret atas berbagai tantangan.
Mulai penanganan stunting, kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, penurunan tuberkulosis.
Termasuk hilirisasi industri strategis, pengembangan industri semikonduktor, rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana Sumatera, penurunan kemiskinan, hingga percepatan pengendalian sampah terpadu.
Upaya ini diharapkan bermuara pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di tingkat nasional maupun daerah.
Dan berbasis sains dan teknologi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada penerima pendanaan.
Menteri Brian berpesan jika kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha menjadi kunci agar inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium dan ruang kelas.
“Melainkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat maupun industri,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menambahkan skema pendanaan tahun ini dirancang mempercepat pemanfaatan hasil riset dan memberi dampak nyata.
Menurutnya program ini diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri.
“Saat sama, kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan terus diperkuat agar pemanfaatan hasil riset dapat berlangsung lebih luas dan berdampak,” tegasnya.
Secara nasional, penerima pendanaan berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi yang tersebar di seluruh 38 provinsi.
Dari total penerima, sebanyak 40 persen berasal dari perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi negeri berbadan hukum, serta 60 persen berasal dari perguruan tinggi swasta.
Program ini diarahkan untuk memperkuat delapan bidang strategis nasional.
Sektor kesehatan mendapat pendanaan porsi terbesar dengan 27 persen.
Disusul ketahanan pangan 25 persen, hilirisasi dan industrialisasi 16 persen, digitalisasi yang mencakup kecerdasan buatan dan semikonduktor 15 persen.
Selain itu energi mendapat 7 persen, manufaktur dan material maju 4 persen, maritim 4 persen, serta pertahanan 2 persen.
Seluruh bidang tersebut turut diperkuat riset sosial humaniora secara luas di setiap lini prioritas.
Dengan pendekatan berbasis masalah, setiap penelitian diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan dunia industri.
Pilar Pembangunan Nasional
Penyesuaian jadwal pengumuman dilakukan sebaga upaya memastikan kesiapan implementasi kebijakan alokasi honorarium peneliti hingga 25% yang mulai diberlakukan tahun anggaran 2026.
Sehingga pelaksanaannya dapat berlangsung sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan.
Pendanaan ini menjadi bagian dari upaya penguatan sains dan teknologi sebagai pilar penting mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Adapun rincian program pendanaan meliputi:
Pada Program Penelitian, sebanyak 13.028 proposal dinyatakan lolos dari total 83.284 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp1,04 triliun.
Program ini diarahkan memperkuat kapasitas riset dosen, sekaligus mendorong riset dasar dan terapan yang relevan dengan kebutuhan nyata.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menetapkan sebanyak 3.328 tim penerima dari total 15.728 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp167 miliar.
Program ini difokuskan pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), kelompok rentan, serta masyarakat adat, termasuk yang terintegrasi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
PkM juga menekankan diseminasi dan pemanfaatan hasil riset dalam bentuk inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Tujuannya guna mendorong pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Pada Program Hilirisasi Riset Prioritas, sebanyak 925 proposal terseleksi mendapat pendanaan dari total 2.488 proposal tahun 2026, denga pendanaan Rp318 miliar.
Program ini berfokus percepatan pemanfaatan hasil riset melalui hilirisasi dan transfer teknologi.
Termasuk penguatan kemitraan dengan industri, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah melalui skema Ajakan Industri, Dorongan Teknologi, dan SINERGI.
Pada Program Pengujian Model dan Prototipe, sebanyak 354 proposal dinyatakan lolos dari total 985 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp46 miliar.
Program ini difokuskan pada tahap pengujian dan penyempurnaan hasil riset agar siap digunakan secara lebih luas.
Kegiatan yang didukung mencakup uji fungsi, uji kinerja, hingga validasi di lapangan.
Sehingga produk atau teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) menetapkan 102 konsorsium sebagai penerima pendanaan.
Terdiri atas 49 konsorsium multi-tahun lanjutan dan 53 konsorsium proposal ajuan baru dari total 565 usulan, dengan total pendanaan sebesar Rp62,4 miliar.
Program ini mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi, industri, dan mitra strategis dalam riset terintegrasi yang fokus isu prioritas dengan hasil terukur dan siap dimanfaatkan.
Untuk memperkuat kapasitas kelembagaan riset di perguruan tinggi melalui pengembangan pusat unggulan, sebanyak 17 Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT) ditetapkan sebagai penerima pendanaan dengan total anggaran sebesar Rp7,85 miliar.
Program Mahasiswa Berdampak mencatat 608 usulan kegiatan, dengan 202 judul dinyatakan lolos dan didanai senilai Rp21,9 miliar.
Melalui program ini, sebanyak 10.090 mahasiswa diterjunkan ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk mendukung percepatan pemulihan pascabencana melalui pemanfaatan ilmu, teknologi, dan inovasi.
Pada Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) terdapat 244 judul yang didanai dengan total pendanaan sebesar Rp17,5 miliar.
Program ini sebagai upaya pembaruan dan pengembangan karya seni yang berakar pada tradisi budaya Indonesia.
Program PHC-Nusantara menetapkan sebanyak 15 judul riset kolaborasi tim riset Indonesia–Prancis dari total 72 proposal yang mengajukan, dengan total anggaran sebesar Rp2,2 miliar.
Kemdiktisaintek menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengusul serta mengucapkan selamat kepada para penerima pendanaan.
Diharapkan program ini dapat menghasilkan riset yang unggul, akuntabel, memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dan kemajuan industri nasional.
Sehingga dapat menjawab pertanyaan besar seberapa jauh hasil riset benar-benar dirasakan masyarakat.
Agung
Sumber: Kemdiktisaintek













