SMART RTKU – Puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Balikpapan, asyik masyuk mempelajari tentang coding.
Mereka tampak serius mengikuti Coding Collaboration with Git.
Agenda itu digelar di Kampus Putih, Universitas Mulia Balikpapan, yang diikuti 32 pelajar dari berbagai sekolah di kota ini.
Mereka di antaranya berasal dari SMK Negeri 3 Balikpapan, SMK Pertiwi Balikpapan.
Ada pula pelajar dari SMK Kartika V-1 Balikpapan, SMK Adzkiya Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMA Negeri 3 Balikpapan, dan SMP Negeri 7 Balikpapan.
Di tengan hantaman arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi, muncul satu pertanyaan penting:
Apakah generasi muda hanya menjadi pengguna teknologi, atau justru menjadi pihak yang menciptakannya?
Pertanyaan itu mengemuka dalam GENCODE 2026, yang digelar Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia pada Kamis (11/6/2026) di Laboratorium A FIKOM Universitas Mulia.
Bagi sebagian peserta, ini mungkin menjadi pertemuan pertama mereka dengan dunia pemrograman.
Namun bagi Prodi Informatika Universitas Mulia, GENCODE bukan sekadar pelatihan teknis.
Di balik baris-baris kode yang ditampilkan di layar komputer, ada upaya menanamkan cara berpikir yang menentukan bagaimana generasi muda menghadapi masa depan.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi itu diciptakan dan dikembangkan,” ujar Kaprodi Informatika Universitas Mulia, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs.
Ia menilai perkembangan AI dan transformasi digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan.
Mulai pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga industri kreatif.
Kondisi ini menuntut lahirnya generasi yang tidak sekadar akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berkontribusi dalam proses penciptaannya.
“Karena itulah GENCODE kembali diselenggarakan setelah pelaksanaan perdananya pada tahun lalu,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Prodi Informatika memperkenalkan keilmuan informatika kepada pelajar.
Sekaligus membuka ruang eksplorasi bagi mereka yang ingin mengenal dunia teknologi lebih jauh.
Materi yang dipilih tak hanya fokus kemampuan membuat program.
Selain Python yang dikenal sebagai salah satu bahasa pemrograman paling ramah bagi pemula, peserta juga diperkenalkan dengan Git.
Yakni sistem kontrol versi yang menjadi standar dalam pengembangan perangkat lunak modern.
Pilihan ini bukan tanpa alasan.
Dalam industri teknologi kekinian, keberhasila produk digital tidak hanya ditentukan kemampuan individu menulis kode.
Melainkan juga kemampuan tim untuk berkolaborasi, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara berkelanjutan.
“Pengembangan teknologi bukan hanya soal menulis kode, api juga soal bekerja sama, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara terstruktur,” jelas Isa.
Pandangan ini sekaligus menjawab salah satu kesenjangan yang masih sering ditemukan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Banyak pelajar telah mengenal berbagai aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari, namun belum banyak yang memiliki pengalaman membangun solusi digital secara kolaboratif.
Menggunakan perangkat kerja yang ladzim dipakai di industri, atau menuntaskan persoalan nyata melalui pendekatan teknologi.
Tak Cukup Kemampuan Teknis
Menurut Isa, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup.
Dunia kerja digital membutuhkan individu yang mampu berpikir komputasional, mendokumentasikan pekerjaannya dengan baik, berkomunikasi secara efektif
Serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, tujuan utama GENCODE tidak berhenti pada penguasaan sintaks pemrograman.
Pihaknya ingin menanamkan pola pikir seorang problem solver.
Peserta belajar menganalisis masalah, menyusun langkah penyelesaia sistematis, bekerja sama dalam tim.
“Termasuk berkomunikasi efektif dan memiliki keberanian mencoba serta belajar dari kesalahan,” tuturnya.
Pendekatan itu menjadi semakin relevan saat perkembangan AI, yang memunculkan kekhawatiran soal berbagai pekerjaan akan digantikan mesin.
Bagi Isa, masa depan justru akan semakin membutuhkan kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki mesin.
Ia menilai dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, generasi muda perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis.
Termasuk pemecahan masalah, literasi digital dan data, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan kolaborasi.
Ia berujar di era AI, manusia tidak bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan menghitung.
“Namun dalam kreativitas, empati, pengambilan keputusan, dan kemampuan menciptakan inovasi,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir.
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah pemanfaatannya tetaplah manusia.
Melalui GENCODE 2026, Universitas Mulia berupaya mengambil peran membangun ekosistem talenta digital di Kalimantan Timur.
Upaya itu dilakukan dengan memperkenalkan standar kompetensi.
Serta budaya kerja yang relevan dengan perkembangan industri global sejak usia sekolah.
Sebab di masa depan, tantangan terbesar mungkin bukan lagi soal akses terhadap teknologi.
Hampir semua informasi dapat ditemukan hanya dengan beberapa sentuhan jari.
Tantangan yang sesungguhnya ada pada keberanian untuk mulai belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Pesan itulah berulang kali dilontarkan Isa kepada para peserta.
Ia mengingatkan agar para pelajar jangan takut memulai karena merasa belum bisa.
Menurutnya semua programmer dan praktisi teknologi yang sukses hari ini juga pernah menjadi pemula.
“Yang membedakan, mereka berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” ujarnya.
M. Taufik
Sumber: UM














