SMART RT – Ribuan mahasiswa Universitas Mulia Balikpapan, turut meramaikan rangkaian upacara memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia, pada Senin 17 Agustus 2026.
Sebanyak 1.107 mahasiswa Universitas Mulia memadati lapangan di belakang Gedung Cheng Ho hingga area depan Gedung Fakultas Teknik, sampai di sekitar lapangan pickleball.
Ribuan sivitas akademika itu terdiri dari mahasiswa baru Universitas Mulia tahun akademik 2026/2027.
Mereka kompak mengenakan kemeja putih, bawahan hitam, dan dasi, berdiri berbaris memenuhi lapangan.
Di antara barisan putih itu, para dosen dan karyawan UM tampil dengan seragam merah marun.
Upacara dimulai tepat pukul 07.30 WITA. Sebagian besar petugas upacara berasal dari mahasiswa baru. Mereka menjalankan tugas mulai pengibar bendera hingga rangkaian protokol upacara.
Untuk pembacaan teks Proklamasi dan doa diamanahkan kepada dosen senior.
Tahun ini Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Mulia, Sumardi, bertindak sebagai pembina upacara, mewakili Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, yang saat bersamaan menghadiri undangan upacara bendera di Ibu Kota Nusantara bersama Kepala Otorita IKN.
Peserta upacara berdiri tegap memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih, dalam balutan putih-hitam berdasi yang mencerminkan ketertiban dan wibawa mahasiswa baru.
Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Sumardi tidak membawa peringatan kemerdekaan hanya sebagai pengingat sejarah.
Ia mengaitkannya dengan pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. Katanya, apa yang akan mereka lakukan selama berada di perguruan tinggi.
“Kalau dulu para pahlawan berjuang dengan bambu runcing dan senjata, hari ini kita berjuang dengan ilmu, kreativitas, teknologi, karakter, dan prestasi,” pesan Sumardi.
Pesan itu kemudian diarahkan secara khusus kepada mahasiswa baru yang untuk pertama kalinya mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI sebagai bagian dari sivitas akademika Universitas Mulia.
Sumardi meminta mahasiswa tidak berhenti rutinitas datang ke ruang kuliah, mengikuti perkuliahan, lalu menyelesaikan tugas dan memperoleh ijazah.
Ia mengingatkan, pada masa kuliah harus menjadi ruang untuk membangun kemampuan sekaligus menguji keberanian mencoba.
Ia kemudian menekankan agar para mahasiswa jangan hanya menjadi mahasiswa yang hadir di kelas. “Tapi jadilah mahasiswa yang punya karya, prestasi, karakter, dan punya impact,” tegasnya.
Sumardi juga mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia di kampus, mulai organisasi, kompetisi, jejaring hingga kegiatan yang memungkinkan mereka mencoba sesuatu yang baru.
Kegagalan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti.
“Jangan takut gagal. Karena di dunia nyata, yang paling penting bukan siapa yang tidak pernah gagal, tetapi siapa yang mau belajar dan bangkit kembali,” imbuhnya.
Pesan lain yang disampaikan Sumardi ihwal perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Ia mengingatkan, kecerdasan buatan, digitalisasi, dan perubahan kebutuhan dunia kerja membuat ijazah tidak lagi cukup menjadi bekal mahasiswa memasuki kehidupan setelah kampus.
Katanya, ada sejumlah kemampuan yang perlu dibangun mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Antara lain kompetensi, karakter, kreativitas, komunikasi, kemampuan bekerja sama, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, mahasiswa juga didorong untuk tidak berhenti sebagai pengguna teknologi.
Sumardi mewanti-wanti agar mahasiswa jangan menjadi generasi yang hanya menjadi pengguna teknologi. “Jadilah generasi yang mampu menciptakan inovasi dan memberi solusi,” tegasnya.
Bagi Sumardi, ukuran keberhasilan mahasiswa juga tidak semestinya berhenti pada pertanyaan tentang apa yang bisa diperoleh dari Indonesia.
Dosen dan karyawan Universitas Mulia memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih yang perlahan berkibar, merah marun seragam mereka berpadu khidmatnya peringatan kemerdekaan.
Dalam pesan terakhirnya, Sumardi mengingatkan, “Jangan takut untuk memiliki cita-cita besar.”
Amanat juga ditujukan kepada dosen dan tenaga kependidikan.
Sumardi mengingatkan peran mereka tidak berhenti pada penyampaian materi atau penyelesaian pekerjaan administratif.
Mereka memiliki posisi penting dalam mendampingi mahasiswa yang sedang memasuki fase baru kehidupannya.
Ia mengajak dosen dan tenaga kependidikan terus mengambil peran sebagai mentor, fasilitator, dan inspirator bagi mahasiswa.
“Tugas kita bukan hanya mencerdaskan, tapi juga membentuk generasi adaptif, berintegritas, inovatif, dan siap menghadapi masa depan,” katanya.
Sumardi menekankan Universitas Mulia harus menjadi lebih dari sekadar tempat mahasiswa memperoleh gelar akademik.
Kampus perlu menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu membawa nama Indonesia ke tingkat nasional maupun internasional.
M. Taufik
Editor: Agung














