SMART RT – Di tengah kesibukan Kota Balikpapan yang terus tumbuh, warga di tingkat Rukun Tetangga 36 Kelurahan Telagasari Kecamatan Balikpapan Kota tetap menjaga tradisi keagamaan.
Salah satunya rutin menggelar pengajian sebagai kegiatan mempererat silaturahim dan menjaga guyub warga.
Ketua RT 36, Wahyu Ponco Dwi Aprianto menjelaskan, setiap malam Jumat, bapak-bapak berkumpul mengikuti pengajian di musala.
Sedangkan ibu-ibu melaksanakan pengajian pada hari Sabtu dengan pola berpindah dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya.
“Pengajian selain menjaga tradisi keagamaan, sebagai salah satu cara untuk menjaga guyub kebersamaan para warga,” ungkapnya, pada Kamis 20 Agustus 2026.
Pria yang kerap disapa Ponco mengatakan bahwa kegiatan pengajian rutin RT36 tidak hanya menjadi ruang memperdalam keagamaan.
Melainkan juga menjadi tempat warga saling bertemu dan mempererat silaturahmi.
Dalam kehidupan bermasyarakat, pertemuan sederhana semacam itu menjadi penting karena dari sanalah komunikasi dan rasa saling peduli tumbuh secara alami.
Di RT 36 terdapat sekitar 150 Kepala Keluarga KK dengan beragam profesi.
Sebagian besar warga bekerja sebagai pedagang dan wiraswasta, menghidupkan roda ekonomi keluarga sekaligus lingkungan sekitar.
Selain tradisi keagamaan, kegiatan sosial juga turut berjalan semestinya.
Di RT 36 kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga PKK aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk berpartisipasi dalam event perlombaan.
Begitu pula dengan Kader Posyandu yang tetap menjalankan pelayanan penimbangan balita setiap bulan.
“Kegiatan posyandu kami masih berjalan sebulan sekali penimbangan balita.”
Untuk memperkuat komunikasi, RT 36 juga memiliki Forum RT melalui grup WhatsApp.
Warga dapat menyampaikan informasi, kebutuhan, maupun persoalan lingkungan melalui ruang komunikasi tersebut.
Meski demikian, kehidupan warga tidak selalu berjalan tanpa persoalan.
Salah satu keluhan yang dirasakan warga RT 36 berkaitan dengan fasilitas pembuangan sampah.
Dahulu, terdapat lokasi yang berada di sekitar wilayah RT 36 dan biasa digunakan untuk membuang sampah.
Namun, lahan tersebut kini tidak lagi dapat digunakan.
Perubahan itu membuat warga harus membuang sampah ke lokasi yang sedikit lebih jauh.
Kondisi tersebut masih dapat dikendalikan melalui komunikasi dan imbauan kepada masyarakat.
“Tapi masih bisa dikondisikan mas. Toh lingkungan kita juga masih bisa bersih terjaga walaupun lokasi pembuangan sampahnya agak jauh,” paparnya.
Menjadi Ketua RT bagi Ponco memang tidak selalu mudah.
Ada kalanya pekerjaan tersebut terasa melelahkan, terlebih ketika harus membagi waktu dengan pekerjaan dan keluarga.
Namun, semuanya ia jalani dengan prinsip sederhana.
“Selama masih mampu memberikan yang terbaik, tugas sebagai ketua RT akan tetap dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab,” ucapnya sembari melempar senyum.
Spesialis Gigi, Perantau Cepu Jadi Ketua RT
Perjalanan Ponco berkarir hingga menjadi Ketua RT di Balikpapan juga cukup panjang. Ia lahir di Cepu, Jawa Tengah, pada 1981.
Saat umur 31 dengan bekal gelar D3 di salah satu Perguruan Tinggi Semarang Jurusan Kesehatan Gigi, ia merantau ke Balikpapan pada 2004.
Saat itu, Ponco masih bujangan dan bekerja di bidang kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Pada 2009, perjalanan hidupnya membawanya ke dunia aparatur sipil negara.
Wahyu Ponco diterima sebagai PNS di Kabupaten Penajam Paser Utara PPU dan pada awalnya ditempatkan di Puskesmas Kecamatan Sepaku, sebelum kemudian dipindahkan ke Puskesmas Kecamatan Semoi.
Jarak antara tempat kerja dan Balikpapan membuatnya harus menjalani perjalanan pulang-pergi, sembari tetap menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua RT 36.
“Pulang pergi mas habis kerja yah ngurus warga lagi, kalau ada warga yang sudah janjian mau ngurus administrasi atau keperluan lainnya.”
Hampir setengah abad usia Ponco, 45 tahun. Ia telah dua periode dipercaya para warga memimpin, sebagai ketua RT 36.
Setelah menikah pada 2011 dengan perempuan asal Telagasari, ia memilih menetap di lingkungan RT 36 hingga sekarang.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak, seorang putra yang kini duduk di kelas 3 SMP dan seorang putri yang masih duduk di kelas 4 SD.
Dari perjalanan panjang merantau hingga dipercaya menjadi ketua RT.
Bagi Ponco, ketua RT bukan hanya sekedar jabatan namun harus ada ketika dibutuhkan, mendengar keluhan.
Sekaligus berusaha mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang muncul ditengah para warga.
M. Taufik
Editor: Agung














