SMART RT – Di kawasan permukiman yang berdampingan Taman Hutan Kota Pendidikan, kehidupan warga RT 24 Kelurahan Telagasari Kecamatan Balikpapan Kota berjalan rapi tertata.
Kawasan itu terdiri dari Blok A, B, C hingga D. Membuat alamat warga lebih mudah dikenali. Itu sekarang. Lain halnya dulu.
Nah di balik kerapian tersebut, ada sosok Kasmiran, Ketua RT 24 yang telah dipercaya warga memimpin selama dua periode sejak 2021.
Di teras rumah yang dihiasi ikan koi dalam aquarium, Kasmiran memulai percakapan, menceritakan bagaimana ia membangun lingkungan di kawasannya.
Dulu, cerita Kasmiran, lingkungan RT 24 memiliki alamat rumah yang berantakan tidak berurutan.
Rumah A nomor 7, rumah B di sebelahnya nomor 13. Rumah nomor 8 berada di ujung, selang beberapa rumah.
Dari tata urut penomoran rumah, tak karu-karuan. Orang lain akan sulit mencari alamat yang dituju.
Melihat kondisi yang berantakan, Kasmiran berinisiatif merapikan dengan membangun Blok sesuai penempatan rumah warga.
“Dulu disini berantakan alamat rumanya Mas. Jadi saya inisiatif bersama warga merapikan dengan Blok A hingga D, yah walaupun bukan tinggal di perumahan, minimal seperti perumahan hehehe,” terang Kasmiran, sembari melempar tawa.
Pada Kamis 13 Agustus 2026 sore, awak media ini mengunjungi rumahnya. Kasmiran berbagi banyak kisah dan inspirasi.
Ia bercerita, di RT 24 dihuni sekitar 120 kepala keluarga dengan latar pekerjaan yang beragam.
“Ada kontraktor, pegawai, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya,” tutur pria kelahiran Banyuwangi tahun 1971, itu.
Bagi Kasmiran, keberagaman tersebut menjadi tantangan tersendiri.
Ia harus memahami karakter setiap warga.
Di sisi lain, menurutnya, membangun fisik lingkungan justru lebih mudah dibanding membangun kebersamaan.
Sebab, setiap orang memiliki pola pikir dan keinginan berbeda.
“Kita arahkan pasang umbul-umbul di kiri, eh mereka lebih suka di kanan. Ya sudah, mau bagaimana lagi, harus banyak mengalah,” kenangnya, tersenyum.
Namun, kesabaran ekstra yang dimiliki Kasmiran perlahan membuahkan hasil.
Selama Kasmiran memimpin, warga RT 24 cukup aktif mengikuti berbagai perlombaan yang diselenggarakan pemerintah.
Misalnya kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga PKK, Clean Green and Healty, hingga Dasawisma.
Prestasi tertinggi diraih kelompok Dasawisma RT 24.
Kelompok ini berhasil menjadi Juara Pertama dari tingkat kecamatan, kemudian tingkat kota, hingga tingkat provinsi.
Prestasi tersebut membuat RT 24 mewakili Kota Balikpapan untuk melesat ke jenjang nasional, namun naas terhalang efisiensi anggaran.
“Alhadmulillah warga di RT 24 ini aktif Mas ngikut lomba kelompok PKK. Waktu itu Dasawisma kami juara satu tingkat Provinsi. Eh pas mau lanjut ke nasional kesulitan anggaran karena efisiensi.”
Kehidupan sosial warga RT 24 masih terjaga melalui kegiatan kebersamaan.
Salah satunya ronda malam untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak diinginkan ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.
Kasmiran menjelaskan, program jaga malam awalnya dilakukan dengan membayar petugas melalui patungan warga.
Besarannya Rp30 ribu. Namun, karena kemampuan ekonomi setiap keluarga berbeda dan ada warga yang mengalami tunggakan, sistem itu diubah menjadi jadwal ronda bergiliran hingga saat ini.
Siapa yang ingin menggantikan dengan yang lain, dalam kesepakatan mereka, harus bayar Rp100 ribu.
Dengan menaikan uang denda, warga akhirnya memilih berjaga dibanding harus membayar uang kas karena tak jaga.
Sistem baru itu ternyata efektif. Warga setempat rajin menunaikan tugas jaga malam bergiliran.
“Alhamdulillah sampai sekarang lancar,” paparnya.
Kegiatan rutin lain seperti seperti Posyandu, penimbangan bayi, pemenuhan asupan gizi, PKK, Dasawisma, penanaman tanaman, arisan, dan berbagai kegiatan kebersamaan juga terus berjalan.
Bagaimana keamanan di sini? Ditanya soal itu, Kasmiran bilang, selain program jaga malam untuk membangun kebersamaan dan menjaga keamanan, Kasmiran memilih pendekatan pencegahan.
Tulisan kawasan yang dilengkapi informasi mengenai keberadaan CCTV dipasang untuk memberi pesan kepada orang dari luar agar berpikir ulang sebelum melakukan tindakan negatif.
Pada malam hari, pos penjagaan juga menjadi tempat warga melakukan pengawasan.
Orang asing yang masuk akan ditanya mengenai tujuan, hendak menemui siapa, dan apa keperluannya.
Menurut Kasmiran, langkah tersebut penting karena sebelumnya orang dari luar dapat keluar-masuk lingkungan dengan lebih bebas.
“Selain jaga malam, untuk mencegah potensi kriminal dan hal negatif saya pasang CCTV Mas di plang depan pos itu, yang jaga malam kalau ada orang asing dari luar mau masuk lingkungan RT 24 harus ditanyain, ketat pokoknya kalau malam,” ungkap Kasmiran.
Menjadi Ketua RT bukan hanya soal mengurus administrasi dan membangun kebersamaan para warga.
Dukungan DPRD dan Mahasiswa KKN
Kasmiran mengatakan bahwa keaktifan ketua RT sangat penting untuk mengetahui jalur berbagai program.
Baik dari pemerintah maupun pihak lain yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungan.
Pembangunan fasilitas dan program penunjang membutuhkan komunikasi yang baik.
Dalam hal itu, ia mengaku bersyukur karena mendapat dukungan dari anggota DPRD Balikpapan.
“Saya terimakasih yah sama mas Doris itu Mas, beliau anggota DPRD. Selama ini gak ada kata capek bantu fasilitas disini,” beber Kasmiran
Salah satu bentuk perhatian Anggota DPRD Doris itu, posyandu.
“Bantuan lainnya juga beragam. Bahkan ibaratnya kalau beliau mau makan, kita sering diajak, gak lupa.”
Tak hanya anggota DPRD Balikpapan yang turut membantu Kasmiran membangun fasilitas di lingkungan RT 24, kehadiran mahasiswa yang menjalankan program turut memberi warna bagi kehidupan RT 24.
Mahasiswa Universitas Mulia yang menjalankan Kuliah Kerja Nyata KKN di Kelurahan Telaga Sari kerap terlibat dalam kegiatan lingkungan di RT 24.
“Mahasiswa KKN dari Universitas Mulia waktu itu bantu kami membuat plang penunjuk alamat atau plang lingkungan.”
Secara umum, persoalan lingkungan di RT 24 relatif minim.
Banjir bukan menjadi persoalan karena kawasan tersebut tidak menerima limpahan air dari daerah yang lebih tinggi.
Apalagi di sana masih memiliki banyak wilayah resapan.
Kondisi itu juga didukung keberadaan Taman Hutan Kota Telagasari yang berada berdampingan dengan permukiman.
Meski demikian, persoalan air PDAM masih menjadi perhatian.
“Air disini bukan enggak mengalir tapi rutin ngalir di jam 3 malam, kan kita jadi begadang Mas. Untung sebagian besar warga punya tempat penampungan untuk persediaan.”
Kasmiran, Perantau Banyuwangi Kini Jadi Ketua RT 24 Telagasari
Kasmiran lahir di Banyuwangi pada 1971. Pada 1992, ketika usianya masih sekitar 21 tahun dan masih lajang, ia memutuskan merantau ke Balikpapan.
Kala itu, wajah kota belum seperti sekarang. Pembangunan belum begitu pesat, kawasan yang kini padat masih menyisakan banyak ruang kosong kala itu.
Di kota inilah Kasmiran perlahan membangun kehidupannya dari bawah.
Pekerjaan pertamanya adalah mengikuti orang menjual air menggunakan mobil tangki.
Setelah itu, ia beralih menjadi sales telur dengan penghasilan sekitar Rp125 ribu per bulan.
Penghasilan tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan kebutuhan hari ini, tetapi dari sanalah Kasmiran belajar menabung dan bekerja keras.
Hingga pada 1997, sebuah pencapaian besar berhasil diraihnya: membeli mobil tangki dengan hasil jerih payah sendiri.
“Merasa gagah-gagahnya saya bisa beli mobil di tahun itu dengan tabungan penghasilan sendiri,” kenangnya sembari melempar tawa.
Kehidupan Kasmiran kemudian semakin lengkap ketika ia menikah pada usia 27 tahun.
Bertemu sosok istri di tanah Jawa, sebelum bersama-sama membangun rumah tangga di Balikpapan.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak laki-laki.
Anak pertama kini telah bekerja, sedangkan anak keduanya masih menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, mengambil jurusan Ekonomi.
Kini, selain menjalankan amanah sebagai Ketua RT 24, Kasmiran juga mengembangkan usaha sendiri di bidang jasa sedot tinja.
Di sela kesibukan mengurus warga dan menjalankan usaha, Kasmiran memiliki kegemaran yang membuat teras rumahnya terasa berbeda.
Selama sekitar delapan tahun, ia memelihara ikan koi. Aquarium custom dibuatnya sendiri dan ditempatkan di teras rumah.
Baginya, merawat koi bukan sekadar memelihara ikan, tetapi juga membutuhkan ketelatenan.
Dulu, ikan-ikan berukuran besar bahkan pernah diikutkan lomba, dengan penilaian meliputi penempatan corak, ketajaman warna, hingga kondisi tubuh.
Meski banyak ikan yang mati karena kelalaian, ia tetap menikmati proses merawatnya.
Dari seorang perantau Banyuwangi yang datang ke Balikpapan pada 1992, Kasmiran menemukan tempat untuk membangun keluarga, usaha, dan pengabdian.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana kerja keras perlahan mengubah keadaan.
Kini, di tengah rumah-rumah yang tertata dalam Blok A hingga D, ia tidak hanya menjaga administrasi RT, tetapi juga berusaha merawat hubungan antarwarga.
“Jadi ketua RT yah gini Mas, harus lebih banyak mendengar, memahami karakter warga, belajar ngalah.”
Ia menambahkan, “Kita pengayom atas amanah warga,” ucap Kasmiran, disela adzan Maghrib yang tak terasa sudah berkumandang.
Kami pun akhirnya berpamitan.
M. Taufik
Editor: Agung














