SMART RT – Semangat kebersamaan jadi modal utama Setyo Adi Winarko dalam membangun lingkungan yang lebih tertata, bersih, dan nyaman di RT 04, Kelurahan Telagasari Kecamatan Balikpapan Kota.
Sejak dipercaya menjabat sebagai Ketua RT pada 2023, Setyo berupaya menghadirkan perubahan melalui program penataan lingkungan, pengelolaan sampah, penguatan ketahanan pangan, hingga menghidupkan kembali budaya gotong royong di tengah masyarakat.
Memasuki periode kedua kepemimpinannya, ia berkomitmen melanjutkan berbagai program yang telah dirintis bersama warga.
Pria yang akrab disapa Setyo, menilai perubahan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan program pembangunan fisik.
Menurutnya, kesadaran warga untuk saling peduli dan terlibat dalam kegiatan bersama menjadi fondasi penting agar setiap program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pada periode pertamanya, ia fokus membangun rasa guyub dan kebersamaan di antara warga.
Pendekatan ini perlahan membuahkan hasil hingga warga kembali memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin RT 04 pada periode berikutnya.
“Kesadaran untuk hidup peduli antar sesama, guyub lah mas jadi warga satu suara lagi melanjutkan program sebelumnya dengan saya ditunjuk menjadi Ketua RT lagi satu suara waktu itu,” ungkap Setyo, pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Sebelum Setyo mengemban amanah sebagai ketua RT, kondisi permukiman tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan.
Semisal jalan lingkungan yang beraspal hanya berada di bagian tengah, sejumlah saluran drainase mengalami kerusakan hingga nyaris roboh.
Saat bersamaan, kas RT belum terbentuk dan kegiatan pos keamanan lingkungan poskamling belum berjalan sebagaimana mestinya.
Berbagai persoalan itu menjadi persoalan bersama yang perlu diselesaikan secara bertahap agar lingkungan tempat tinggal warga semakin layak dan nyaman.
Dengan melibatkan 138 kepala keluarga KK, Setyo mulai menggerakkan warga membenahi kawasan permukiman secara bersama-sama.
Hasilnya, wajah lingkungan RT 04 berangsur berubah.
Jalan yang sebelumnya belum tertata kini memiliki lapisan aspal yang lebih merata, dilengkapi cat warna-warni pada bagian tepinya.
Penataan itu memberi kesan lebih rapi dan menarik bagi siapa pun yang memasuki kawasan permukiman.
Perubahan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa keterbatasan sumber daya bukan halangan untuk melakukan pembenahan ketika masyarakat memiliki kemauan dan tujuan yang sama.
“Sekarang alhamdulillah lebih rapi, jalanannya bukan hanya nyaman dilalui tapi juga nyaman dilihat,” ucapnya sembari melempar senyum.
Penataan juga menyentuh identitas kawasan.
Sejumlah gang kini dilengkapi plang penunjuk yang lebih teratur, lalu tugu bertuliskan RT 04 Kelurahan Telagasari terlihat kokoh di tengah permukiman.
Semboyan tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan mencerminkan semangat yang ingin dibangun Setyo bersama masyarakat.
Melalui keterlibatan warga dalam berbagai kegiatan, ia berupaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sehingga hasil pembangunan dapat dijaga dan dirawat secara kolektif.
“Bersama kita bisa itu tageline kami mas, jadi apapun yang mau kita buat harus kita selesaikan secara bersama.”
Di bidang kebersihan, RT 04 juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur. Pemilahan sampah dilakukan di sejumlah titik untuk mendukung kebersihan kawasan permukiman.

RT04 Telagasari Minim Persoalan, Melimpah Program
Setyo menyebut, persoalan pelayanan dasar seperti air bersih dan pengelolaan sampah tidak banyak menjadi keluhan warga di lingkungannya. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang terus dijaga agar kualitas lingkungan tetap baik.
Bagi Setyo, lingkungan yang bersih bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan serta partisipasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Meski sejumlah pembenahan telah dilakukan, Setyo masih memiliki rencana untuk meningkatkan fasilitas lingkungan.
Salah satu program yang tengah diupayakan adalah penambahan penerangan jalan umum PJU berbasis tenaga surya atau solar cell. Fasilitas tersebut ditujukan untuk menerangi gang-gang permukiman yang belum terjangkau penerangan dari jaringan Perusahaan Listrik Negara PLN.
“Dengan adanya PJU menggunakan solar cell, bisa menghemat daya listrik mas,” ujar Setyo.
Rencana ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan warga ketika beraktivitas pada malam hari sekaligus menjadi alternatif penerangan yang lebih efisien.
Tak hanya berfokus pada infrastruktur, sembari menunjuk salah satu rumah warga. Setyo juga mendorong penguatan ketahanan pangan rumah tangga, salah satu langkah yang dilakukan ialah mendampingi warga melalui penyaluran bibit tanaman obat keluarga Toga.
Program tersebut mendorong pemanfaatan halaman rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat bagi keluarga.
Selain tanaman obat, sejumlah rumah juga ditanami buah-buahan.
“Kalau dilihat, hampir setiap rumah ada Toga dan tumbuhan buah-buahan sebagai ketahanan pangan rumah tangga, Mas,” ungkapnya.
Upaya memperkuat ketahanan pangan juga diwujudkan melalui pemanfaatan satu kawasan khusus yang ditanami beragam jenis tanaman.
Menariknya, kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan bekas kebakaran yang kemudian diubah bersama warga menjadi area produktif.
Perubahan fungsi lahan itu menunjukkan bahwa ruang yang sebelumnya tidak bermanfaat masih memiliki potensi apabila dikelola dengan baik.
“Kalau kemarin sampean dengar ada kebakaran di sini, sekarang lahannya sudah kami ubah jadi pusat ketahanan pangan mas. Itu ada berbagsi jenis tumbuhan.”
Tantangan tersendiri dihadapi karena RT 04 memiliki keterbatasan lahan kosong, terlebih lahan dengan ukuran luas.
Kondisi geografis yang berbukit serta letak permukiman yang cukup jauh dari jalan raya turut memengaruhi pilihan program yang dapat dijalankan.
Di balik berbagai perubahan itu, keberadaan kas RT menjadi salah satu penopang kegiatan bersama. Setyo mengembangkan pola swadaya yang relatif sederhana, yakni menyediakan toples atau wadah sejenis di depan rumah warga sebagai tempat menyisihkan uang secara sukarela.
Tidak ada nominal setoran yang dipatok, sehingga warga dapat berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.
Uang yang terkumpul kemudian dihimpun oleh warga yang berkeliling melakukan patroli.
“Di depan rumah warga itu ada toples atau sejenisnya, Mas. Uangnya diletakkan di situ, nanti ada warga yang patroli mengumpulkan. Per hari bisa dapat Rp100 ribu,” kata Setyo.
Pola pengumpulan kas tersebut memperlihatkan upaya membangun kemandirian masyarakat melalui kontribusi kecil yang dilakukan secara kolektif.
Dengan semboyan Bersama Kita Bisa, Setyo berharap kebersamaan yang telah terbentuk dapat terus dipertahankan dan menjadi kekuatan untuk menghadirkan lingkungan yang semakin tertata, produktif, dan nyaman bagi seluruh warga.
M. Taufik
Editor: Agung













