SMART RT – Persiapan mengikuti lomba Clean, Green and Healthy– CGH, bukan sekadar upaya mempercantik lingkungan. Melainkan momentum bagi warga RT 04 mewakili satu kawasan di Kelurahan Telagasari, Kecamatan Balikpapan Kota.
Melalui berbagai program berbasis gotong royong, RT 04 berupaya menghadirkan lingkungan yang bersih, hijau, sehat, sekaligus produktif dengan melibatkan partisipasi aktif warga.
Sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian masyarakat.
Ketua RT 04 Telagasari, Setyo Adi Winarko mengatakan ada tiga aspek utama yang menjadi perhatian mengikuti CGH. Yakni kebersihan, penghijauan, dan kesehatan.
Pada aspek kebersihan, pihaknya berupaya memastikan jalan lingkungan tetap bersih dan tertata rapi, termasuk menjaga kebersihan saluran drainase agar tidak tersumbat.
Aspek penghijauan, warga didorong memanfaatkan halaman rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman sehingga lingkungan terlihat lebih asri dan nyaman.
“Untuk program yang kami tonjolkan di Green atau penghijauan melalui Ketahanan Pangan di halaman rumah masing masing warga mas,” paparnya, pada Selasa, 12 Oktober 2026.
Pada aspek kesehatan, RT 04 mengembangkan sejumlah upaya yang berkaitan pengelolaan sampah, pembuatan lubang biopori, serta pemilahan sampah rumah tangga.
Sampah yang masih memiliki nilai guna diupayakan dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Mulai bahan pendukung budidaya maggot hingga dikelola melalui bank sampah yang berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Setyo bilang, soal edukasi pola hidup bersih dan sehat juga dilakukan, termasuk sosialisasi cara mencuci tangan yang benar.
Sejumlah titik di lingkungan RT 04 juga telah dilengkapi fasilitas wastafel untuk mendukung kebiasaan tersebut.

Tak hanya fokus penataan lingkungan, RT 04 juga menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu program unggulan dalam menghadapi penilaian lomba CGH.
Setyo menyebut, warga telah mengembangkan berbagai tanaman pangan, seperti cabai, tomat, dan terong.
Bahkan, terdapat lokasi khusus ketahanan pangan di wilayah RT 04 yang dimanfaatkan untuk menanam beragam komoditas.
Menurutnya, upaya tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan penilaian lomba, melainkan bagian dari program pemberdayaan warga yang diharapkan mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Setyo menjelaskan, sejumlah program kebersihan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat sebenarnya telah berjalan sebelum lomba CGH digelar.
Namun, adanya perlombaan menjadi pemicu bagi pengurus RT dan warga untuk mempercepat penyempurnaan program, memperbaiki sejumlah kekurangan, serta menambah kegiatan yang dinilai masih perlu dikembangkan.
“Sebelum ada lomba CGH ini, program kami sudah berjalan lama mas, namun lomba CGH ada penilaian yang membuat kita harus mengejar apa yang kurang dan apa yang perlu dibenahi,” ucapnya.
Dalam mengikuti perlombaan CGH, Setyo dipercaya oleh pihak Kelurahan Telagasari untuk menjadi ketua kawasan perwakilan kelurahan. Kawasan CGH yang dikoordinasikannya terdiri dari lima RT, yakni RT 01, RT 02, RT 47, RT 04, dan RT 43.
Pada kesempatan sama, saat berbincang dengan Smartrtku, Ketua Kelompok CGH RT 04, Paulus Ngadimin, mengatakan bahwa upaya memperkuat ketahanan pangan turut dilakukan melalui pemanfaatan limbah dapur rumah tangga menjadi pupuk.
Ia mendorong warga mengumpulkan sisa makanan dan sayuran untuk diolah sehingga dapat digunakan sebagai pupuk bagi tanaman di halaman rumah para warga.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah organik yang dibuang sekaligus menekan kebutuhan pupuk untuk kegiatan bercocok tanam.
“Bahannya dari sisa makanan dan sayuran, Mas, dikumpulkan jadi satu diendapkan, dan bisa digunakan untuk tanaman sendiri dihalaman” ungkap Paulus.
Penerapan pengolahan limbah organik itu juga telah dilakukan Paulus di rumahnya.
Pupuk yang dihasilkan dimanfaatkan untuk merawat berbagai tanaman, seperti cabai, sawi, daun bawang, dan sejumlah tanaman lainnya.
Selain mengembangkan pertanian skala rumah tangga, ia memanfaatkan galon bekas sebagai wadah pembibitan ikan lele. Ketika ikan mulai berukuran lebih besar, bibit tersebut dipindahkan ke kolam untuk dibesarkan.
Hasil budidaya nantinya dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga maupun warga sekitar yang membutuhkan.
Pola serupa juga diterapkan pada bibit tanaman dan hasil panen yang dikembangkan di lingkungan tempat tinggalnya.
“Ini galon dari pak RT waktu itu dan bibit lele jadi saya coba. Hasilnya lumayan berhasil bisa berkembang ikan lelenya,” ucapnya.
Menjelang penilaian lomba CGH, Setyo selaku ketua kawasan mengatakan masih terdapat sejumlah persiapan yang belum dapat diungkapkan kepada publik karena menjadi bagian dari kejutan yang disiapkan warga.
Ia menyebut, beberapa hal tersebut akan ditampilkan pada hari pelaksanaan lomba, namun sudah terdapat berbagai program yang telah terlihat, mulai dari penataan kebersihan, penghijauan pekarangan, pengelolaan sampah, hingga ketahanan pangan.
“Bagi warga, lomba CGH bukan hanya menjadi ajang untuk menunjukkan kesiapan lingkungan, tetapi juga kesempatan memperkuat kebiasaan gotong royong supaya manfaat program bisa terus dirasakan walaupun lomba CGH nya sudah selesai,” ungkap Setyo menutup perbincangan.
M. Taufik
Editor: Agung













