SMART RT – Kemacetan akibat antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pernah menjadi persoalan serius bagi warga RT 06, Keluarahan Damai, Balikpapan Selatan.
Tak hanya mengganggu lalu lintas, antrean itu turut berdampak pada UMKM yang berada di sepanjang Jalan MT Haryono.
Indah Apriyani, Ketua RT 06, mengingat betul dampaknya.
Sejumlah usaha warga di pinggir jalan dilaporkan bangkrut karena aktivitas mereka terganggu antrean kendaraan yang mengular. Bersama sejumlah tokoh masyarakat, Indah lalu menjadi pelopor untuk melakukan mediasi persoalan itu dengan pihak SPBU.
Upaya tersebut membuahkan kesepakatan mengenai pengaturan waktu penjualan bahan bakar bersubsidi jenis Pertalite pada malam hari.
“Persoalan utama di wilayah saya kemacetan jika antrean SPBU dibuka pukul 22.00 sampai 06.00. Kemacetan terparah terjadi sebelum peraturan itu dijalankan. UMKM warga saya yang berada di pinggir Jalan MT Haryono banyak yang bangkrut,” ungkap Indah.
Pengalaman itu menjadi salah satu bagian dari pengabdiannya sebagai Ketua RT 06. Baginya, persoalan lingkungan tidak selalu bisa diselesaikan melalui kegiatan rutin di tingkat RT.
Ada pula masalah yang membutuhkan komunikasi dan mediasi pihak lain agar kepentingan warga mendapat perhatian.
Indah mulai menjabat sebagai Ketua RT pada 2020 melalui pemilihan, setelah ketua RT sebelumnya mengundurkan diri. Pada 2025, ia kembali terpilih untuk memimpin RT 06.
Perlahan, ia melihat sejumlah perubahan di lingkungan yang dipimpinnya.
Perbaikan infrastruktur menjadi salah satu hal yang dirasakan warga, mulai jalan lingkungan yang disemenisasi hingga penerangan jalan umum yang kini menerangi kawasan pada malam hari.
Fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat juga bertambah dengan adanya bangunan posyandu.
Kegiatan posyandu bulanan dan kerja bakti berlangsung rutin, dan sistem keamanan lingkungan atau siskamling tetap berjalan.
“Alhamdulillah, selama saya menjabat, satu per satu lingkungan menjadi lebih baik. Jalanan di setiap blok sudah disemenisasi, kalau malam PJU terang benderang. Ada bangunan posyandu, kegiatan bulanan posyandu dan kerja bakti berjalan rutin,” tutur Indah.
Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.

Kegiatan rutin warga dan upaya menjaga keamanan lingkungan turut menjadi bagian kehidupan bermasyarakat yang ingin dipertahankannya.
Di tengah sejumlah perubahan itu, Indah menyebut rencana penggusuran kawasan permukiman di pinggir sungai sebagai salah satu persoalan yang masih membayangi warganya.
Rencana itu berkaitan wacana pelebaran sungai untuk mendukung penanggulangan banjir pada masa mendatang. Meski demikian, bagi warga yang tinggal di kawasan itu, rencana penataan sungai juga menyangkut keberlanjutan tempat tinggal mereka.
Persoalan ini masih menjadi perhatian Indah.
Ia berharap penanganannya dapat memperhatikan kondisi warga yang terdampak, meski rincian pelaksanaan dan kepastian kebijakan tersebut belum dijelaskan dalam keterangannya.
Di tingkat RT, persoalan semacam ini membutuhkan komunikasi yang jelas agar warga memahami rencana pemerintah sekaligus mengetahui bagaimana nasib tempat tinggal mereka ke depan.
Selain lingkungan, Indah memiliki kebanggaan tersendiri terhadap tradisi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayahnya.
Setiap 17 Agustus, warga RT 06 menggelar upacara bendera di kampung sendiri. Mereka mengenakan pakaian adat sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.
Indah mengungkapkan, kegiatan itu menjadi salah satu cara menjaga kebersamaan warga di tengah kesibukan masing-masing.
Ia berharap hubungan antarwarga tetap harmonis dan komunikasi di lingkungan RT terus terbuka.
Salah satunya melalui grup WhatsApp khusus warga RT 06 yang dapat digunakan untuk menyampaikan pendapat maupun persoalan lingkungan.
“Harapan saya ke depan kekompakan dan keharmonisan warga 06 tetap terjaga baik. Warga terbuka menyampaikan pendapat di grup WA khusus warga RT 06,” ujarnya.
Menurutnya, memimpin RT bukan hanya soal menjalankan kegiatan rutin atau memperbaiki fasilitas lingkungan.
Pengabdian berarti mendengarkan keluhan, mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, dan menjaga agar komunikasi warga tetap berjalan.
Dari persoalan antrean SPBU hingga ketidakpastian permukiman di bantaran sungai, tantangan di tingkat RT menunjukkan bahwa kebutuhan warga tidak selalu berhenti pada urusan administratif.
Ada persoalan ekonomi, lingkungan, dan tempat tinggal yang membutuhkan perhatian bersama.
Salsa/ M. Taufik
Editor: Agung













