SMART RT — Di depan pos kamling, suasana sore terasa hangat. Beberapa orang tampak saling melempar obrolan dengan warga yang duduk bersama.
Mereka berbincang santai tentang kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya.
Di tengah percakapan itu, Setyo Adi Winarko, pria berusia hampir setengah abad, 49 tahun, tampak menikmati kebersamaan dengan warga.
Setyo panggilan akrabnya, menganggap pos kamling bukan sekadar tempat berkumpul atau berjaga pada malam hari.
Tempat itu menjadi ruang untuk mendengar keluhan, menyerap aspirasi, sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat yang kini menjadi bagian penting dari pengabdiannya sebagai Ketua RT 04.
Setyo lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 1977, saat ini ia masih aktif sebagai anggota kepolisian, sejak mendaftar pada 1997 di Surabaya.
Saat itu, ia masih berusia sekitar 20 tahun dan tengah menapaki jalan hidup yang kelak membawanya bertugas ke berbagai wilayah di Indonesia.
Setelah menjalani pendidikan di Watukosek, ia ditempatkan di Satuan Brigade Mobil Satbrimob Polda Kalimantan Timur dengan pangkat bintara.
Setahun kemudian, pada 1998. Balikpapan menjadi tempat perdana penugasan sekaligus kota yang kemudian menyimpan banyak cerita tentang perjalanan karier dan kehidupan keluarganya.
Berseragam polisi membuat Setyo mengenal Indonesia bukan hanya melalui cerita sekolah maupun sejarah budaya tipologi masyarakat yang beragam di daerah.
Melainkan lewat pengalaman langsung di lapangan.
Setelah bertugas di Polda Kalimantan Timur, ia menjalani penugasan ke sejumlah daerah dengan karakter persoalan yang berbeda-beda.
Pontianak menjadi salah satu tempat yang pernah didatanginya ketika konflik antarsuku terjadi.
Ia juga pernah bertugas di Ternate selama delapan bulan dalam situasi konflik antaragama.
Selain itu, Aceh, Poso, Ambon, dan sejumlah wilayah lainnya turut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya sebagai anggota kepolisian.
Ia menyaksikan bagaimana masyarakat menghadapi situasi sulit, bagaimana ketegangan dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari, serta bagaimana kehadiran aparat dibutuhkan untuk menjaga keamanan.
“Kalau Indonesia, alhamdulillah, saya sudah merasakan ke daerah dari barat hingga timur,” ucapnya sembari melempar tawa yang membuat suasana semakin hangat.
Seiring waktu, perjalanan karier Setyo mengalami perubahan.
Pada 2012, ia mendapat penugasan untuk melayani Wakapolda selama satu tahun, kemudian melanjutkan tugas bersama Irwasda selama satu tahun.
Pada 2015, ia berpindah ke Direktorat Lalu Lintas Ditlantas. Hingga kini, Setyo bertugas di kantor Samsat Batakan, Balikpapan.
Dari pekerjaan sehari-hari itu, ia memahami bahwa pelayanan publik tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian urusan, tetapi juga menyangkut sikap, komunikasi, dan kesediaan membantu orang lain.
Nilai-nilai pelayanan yang dipelajarinya di lingkungan kerja kemudian ia bawa ke kehidupan bermasyarakat.
Ketika dipercaya menjadi Ketua RT 04 Kelurahan Telagasari Balikpapan Kota, Setyo melihat bahwa kebutuhan warga pada dasarnya tidak jauh berbeda dari masyarakat yang ditemuinya saat bertugas.
Baginya, menjadi Ketua RT bukan sekadar menjalankan jabatan di lingkungan tempat tinggal, melainkan kesempatan untuk menerapkan pengalaman pelayanan dalam lingkup yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sekaligus membawa kepentingan bersama yang harus diselesaikan melalui komunikasi.
Setyo juga mengaitkan pengabdiannya sebagai Ketua RT dengan semangat kepolisian yang menekankan kedekatan beesama masyarakat.
Ia menilai, hubungan yang baik tidak cukup dibangun melalui pertemuan formal, tetapi perlu dirawat melalui interaksi langsung mendengarkan persoalan lingkungan maupun warga yang beraneka karakter.
“Slogan polisi bersama masyarakat, saya sudah merasakan langsung 24 jam, bahkan ditingkat terdekat bersama masyarakat,” ungkapnya.
Di balik kesibukan menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian dan tanggung jawab sebagai Ketua RT, Setyo juga memiliki perjalanan keluarga yang penuh cerita.
Ia menikah pada 2003 dan telah menjalani kehidupan rumah tangga selama sekitar 23 tahun.
Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga anak laki-laki.
Perjalanan sebagai sosok ayah, turut membentuk pengalamannya dalam memahami tanggung jawab, serta arti kesabaran.
Namun, pengabdian sebagai polisi terkadang menuntutnya berada jauh dari keluarga, terutama ketika tugas mengharuskannya meninggalkan rumah dalam waktu yang tidak singkat.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika istrinya mengandung anak pertama.
Saat itu, Setyo tengah menjalankan penugasan di Ambon sehingga tidak dapat mendampingi istrinya menjelang persalinan.
Ia baru bisa bertemu dengan anak pertamanya ketika bayi tersebut telah berusia dua bulan.
Jarak dan waktu menjadi bagian dari konsekuensi pekerjaan yang harus dijalaninya.
“Saya saja baru ketemu anak saya waktu dia sudah umur 2 bulan mas, karena yah penugasan,” ucapnya ketika mengenang masalalu.
Meski demikian, perjalanan waktu terus bergerak. Anak pertamanya kini telah bekerja di bidang biro jasa resmi.
Sedangkan anak kedua masih duduk di kelas III SMP dan anak ketiganya di kelas III Sekolah Dasar.
Bagi Setyo, menjalankan dua tanggung jawab sekaligus tidak perlu dipandang sebagai beban yang harus dijalankan.
“Kita jalani saja dengan senang tanpa dinilai sebagai beban mas, nanti capek sendiri.”
Meski setiap lingkungan memiliki persoalan dan kebutuhan yang berbeda, sebagai Ketua RT04 Setyo percaya bahwa hubungan yang harmonis dapat dibangun.
Terutama ketika warga dan pemimpinnya bersedia saling mendengar serta bekerja bersama.
“Yang terpenting harmonis dan guyub mas, jadi masalah apapun bisa kita selesaikan bersama,” ungkapnya.
Di lingkungan RT 04, Setyo bersama warga mengusung semboyan Bersama Kita Bisa.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran tentang pendekatan yang ingin ia bangun selama menjalankan tanggung jawab sebagai ketua RT.
Ia menyadari bahwa tidak semua persoalan lingkungan dapat diselesaikan sendiri, keterlibatan warga dan kemauan untuk mencari jalan keluar bersama menjadi unsur penting menciptakan lingkungan yang nyaman.
Terkadang, pengabdian justru tumbuh dari lingkungan terdekat, dari percakapan sederhana di depan pos kamling, dan dari kesediaan untuk berjalan bersama warga.
“pokoknya Bersama Kita Bisa,” ucap Setyo menutup perbincangan.
M. Taufik
Editor: Agung













