SMART RT – Cendana, tidak asing bagi Jasmani, Ketua RT 38 Kelurahan Telagasari, Kecamatan Balikpapan Kota.
Nama Cendana, identik dengan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Sejak era Soeharto dan Wakilnya Soedharmono, pak Jasmani sudah bertugas menjaga Istana. Termasuk kediaman Presiden dan Wapres.
Semasa aktif di ketentaraan, Jasmani ditugaskan dalam Pawalis atau Pasukan Kawal Istana. Biasa dikenal dengan sebutan Walis.
Yakni unsur prajurit dari Pasukan Pengamanan Presiden khususnya dari Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan (Yonwalprotneg).
Yonwalprotneg berasal dari Batalyon Pengawal Protokoler Kenegaraan, yakni unit Polisi Militer di bawah Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Bertugas mengawal VVIP (voorijder), mengamankan istana, dan menjalankan tugas protokoler kenegaraan.
Termasuk melaksanakan pengamanan fisik dan penjagaan di area Istana Kepresidenan.
Selain itu, menjadi pasukan kehormatan (honour guard) saat penyambutan tamu negara asing. Serta menjalankan tugas pengawalan protokoler dan upacara kenegaraan.
Pasukan ini rutin mengadakan upacara prosesi pergantian atau serah terima jaga (guard mounting) di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, yang mirip tradisi di Istana Buckingham.
Dalam atraksi rutin tersebut, Pawalis didukung Pasukan Berkuda dari Batalyon Kavaleri (Yonkav) Paspampres dan Satuan Musik (Densik) Paspampres.
Jasmani sudah kenyang dengan pengalamannya menjaga Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, kawasan Diponegoro, Senopati, Cendana, dan lainnya.
“Saya bertugas di sana era 1986-1994. Lalu ditugaskan ke Semarang sampai 1998. Selanjutnya ke Balikpapan sampai pensiun,” papar Jasmani, saat berbincang santai.
Di Taman Hutan Kota, Kelurahan Talagasari, Balikpapan Kota pada Kamis 21 Agustus 2026 sore, Jasmani berkisah panjang lebar.
Ia berkenan membagi kisah inspiratifnya kepada media ini. Apakah sampai sekarang masih berkomunikasi dengan rekan selintingan?
Ditanya begitu, ia menjawab, “Iya masih. Jiwa Korsa kami kuat. Kita juga bergabung dalam grup Jenderal-jenderal aktif,” ujarnya tersenyum.
Sebagai Pengawal Istana, tentu saja, Jasmani punya keahlian tertentu dibanding prjaurit lain.
Ia mengaku saat aktif menjaga Istana, dilatih banyak hal.
Selain latihan fisik, bela diri, latihan-latihan khusus, kemampuan menggunakan bermacam-macam senjata juga harus dikuasainya.
Latihan itu rutin dilakukan sepekan sekali.
Untuk kemampuan penggunaan senjata, tidak hanya senjata api kan?
Katanya, “Ya semua jenis senjata. Di Istana kan lengkap.”
Apakah sampai sekarang keahlian menggunakan beragam senjata itu masih dikuasai? Dilempar tanya begitu, ia tertawa.
“Ya sedikit-sedikit masih bisa lah, kan gak mungkin langsung lupa karena dasarnya kita sudah punya,” ungkapnya.
Saat media ini menyebut salah satu nama petinggi tentara dari Jakarta, yang juga pernah bertugas mengawal Presiden Soeharto, Jasmani mengamini.
“Iya saya kenal. Beliau dari Paspampres kan, saya Walis,” jelasnya. Mereka pernah bertugas di periode yang sama.
Meski telah pensiun, Jasmani tetap terlihat bugar. Padahal usianya sudah senja, lahir di bulan September 1966.
Setahun setelah pemberontakan G30S/ PKI. Walau kini menginjak usia 60 tahun, tapi tubuhnya masih terlihat gagah, tegap dan tegas.
Jasmani punya tiga anak, satu sudah berhasil meraih Sarjana Ilmu Komunikasi, satunya dokter gigi yang tengah menjalani koas.
Bungsunya baru masuk kuliah di salah satu kampus tersohor di Bandung. Namun, Jasmani telah ditinggal pergi istrinya.
Tepat sebulan setelah pensiun. Seakan benar-benar menemaninya sampai purna tugasnya mengabdi pada negara selesai.
“Iya menemani saya sampai selesai tugas,” kenangnya. Selagi mendiang istrinya masih hidup, sebagaimana keluarga militer, ia tegas mendidik anak-anaknya dengan disiplin ketat.
Tapi, “Pas ibunya anak-anak sudah tidak ada, saya melunak. Tidak tega, nanti takut mereka malah tertekan,” tuturnya.
Meski begitu, ia telah berhasil membawa seluruh buah hatinya mendapat pendidikan terbaik di berbagai perguruan tinggi.
Di lingkungan sekitarnya, Jasmani sudah dua periode didaulat menjadi Ketua RT38. Ia mengemban tugas ini sejak 2021.
RT38 dihuni sekitar 121 Kepala Keluarga, warganya beragam dari berbagai macam kalangan.
Jasmani mengaku di daerahnya relatif tak ada keluhan. Seperti banjir, sampah, air, keamanan: semua relatif stabil.
Tak ada keluhan yang menonjol. “Untuk air, alhamdulillah kalau tengah malam sudah mengalir,” sarkasnya.
Warganya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Sebab ada satu masalah krusial yang kini tengah dikeluhkan warga RT 38.
“Masalah legalitas tanah dan bangunan. Kami sudah ada IMTN, tapi sampai sekarang status lahan kami tidak jelas,” keluhnya.
Umumnya, pihak yang telah mengantongi Izin Membuka Tanah Negara (IMTN) maka berhak untuk mendapat sertifikat hak milik (untuk rumah) atau HGB; hak guna bangunan.
“Tapi pengajuan kami ditolak, dan sampai sekarang tidak pernah diberi tahu alasannya,” keluh Jasmani yang merasa ada kejanggalan dengan kasus ini.
Padahal, katanya, mereka butuh penjelasan. Bukan digantung tanpa sebab. Andai pun itu tanah negara, pemerintah pasti punya solusinya.
Yang dirasakan warga RT 38 saat ini, kata Jasmani, dibuat gantung. “Alasan penolakan pun hanya lisan, tidak ada surat, tidak ada berita acara atau alasan tertulis lain.”
Ia berharap BPN dan pihak terkait bisa memberi penjelasan kepada warganya.
Pihaknya mengaku juga telah bertemu dengan Asisten 1 Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Balikpapan, Zulkipli.
“Kira-kira bulan Juni lalu. Kelanjutannya bagaimana, kami juga tidak tahu. Tidak ada penjelasan apapun,” sesalnya.
Ia berharap masalah warganya bisa mendapat penjelasan dan solusi komprehensif dari Pemerintah Kota.
Rudi
Editor: Agung














