SMART RT – Viralnya kasus dugaan oknum ketua RT yang melarang warga mengikuti perlombaan HUT ke-81 RI karena belum membayar iuran, menarik perhatian Wakil Walikota Balikpapan, Bagus Susetyo.
Sebagaimana diketahui, jagat sosial media di Balikpapan dihebohkan soal video seorang anak di Balikpapan yang disebut tidak diperbolehkan mengikuti lomba 17 Agustus.
Alasannya hanya karena orangtuanya belum mampu melunasi iuran perayaan secara penuh.
Peristiwa itu viral setelah tangkapan layar percakapan di grup warga beredar di media sosial. Panitia menetapkan iuran sebesar Rp50 Ribu untuk setiap anak, sehingga ibu dengan dua anak mendapat tagihan Rp100 Ribu.
Namun karena keterbatasan ekonomi, istri pengemudi ojek online itu meminta keringanan dan hanya mampu membayar Rp30 Ribu.
Meski pembayaran itu diterima, panitia tetap meminta pelunasan sisa iuran sebelum anaknya mengikuti perlombaan. Kebijakan itu lantas meledak, menuai kritik netizen.
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo meminta pengurus RT tidak membebani warga dengan iuran wajib. Tak hanya untuk iuran menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia.
“Namun juga iuran lainnya. Segala bentuk iuran jangan sampai membebani warga,” tegasnya.
Apalagi, iuran untuk lomba 17 Agustusan. Wawali menyampaikan perayaan HUT Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum ceria dan optimistis.
“Bukan menambah beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang sulit,” ujar Wawali Bagus.
Karena itu, ia berharap setiap RT yang hendak menggelar kegiatan apapun, dapat menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi warga.
Ia mengingatkan agar pengurus RT tidak perlu menetapkan nominal iuran tertentu yang wajib dibayarkan seluruh warga.
“Kita berharap kepada RT ketika berniat membuat kegiatan, saya harap menyesuaikan saja. Tidak perlu ditarget harus membayar sekian atau menetapkan iuran. Sistemnya sukarela, gotong royong,” pesan Wawali Bagus.
Tak Melulu Uang
Selain itu, lanjut Bagus, partisipasi warga untuk melakukan kegiatan lingkungan tidak selalu diberikan dalam bentuk uang.
Katanya, warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih, dapat memberikan sumbangan lebih. Nah, bagi warga yang memiliki keterbatasan finansial tetap dapat berkontribusi melalui tenaga, waktu atau pikiran.
“Yang punya kelonggaran ekonomi lebih bisa menyumbang lebih. Yang tidak punya, bisa menyumbang tenaga atau pemikiran. Tidak hanya uang,” tegasnya.
Wawali Bagus menegaskan agar pengurus RT tidak memaksakan iuran dengan nominal yang sama kepada seluruh warga.
“Jangan dipaksakan. Jangan mewajibkan semua warga dengan nominal sama,” tegasnya.
Ia mengingatkan kondisi ekonomi masyarakat perlu menjadi pertimbangan ketika lingkungan hendak menggelar kegiatan perayaan.
“Tidak perlulah ratusan ribu. Situasi tidak mudah, banyak yang kesusahan, ekonomi lagi susah seperti ini,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan atau kegiatan apapun di lingkungan RT, seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersuka cita dan membangun kebersamaan.
“Bukan menjadi beban warga yang ekonominya sulit,” imbuhnya.
Bagus kembali menegaskan agar iuran yang ditetapkan dalam kegiatan lingkungan tidak menjadi kewajiban yang membuat warga merasa tertekan. “Jangan maksa iuran. Jangan begitu. Ada rapat RT silakan dibahas,” ujarnya.
M. Taufik
Editor: Agung














