SMART RT – Muhammad Alfandri tidak pernah menyangka akan menjadi Ketua RT 46 di kawasan Sepinggan Pratama, Balikpapan Selatan.
Pada pemilihan 2017, ia justru mengaku tidak berniat mencalonkan diri dan masih memilih ketua RT sebelumnya.
Namun, dukungan warga membawanya menjadi Ketua RT 46.
Sejak saat itu, Alfandri menjalankan peran dalam mengurus lingkungan dan membangun komunikasi antarwarga.
Pria yang kini berusia sekitar 48 tahun menuju 49 tahun tersebut telah tinggal di Sepinggan Pratama sejak 2008.
Saat ini, ia membantu kegiatan di dunia pendidikan.
Dalam keluarganya, Alfandri memiliki empat anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.
Sebelum menjadi ketua RT, Alfandri telah terlibat dalam kegiatan warga.
Ketika kawasan Sepinggan Pratama belum memiliki struktur RT seperti sekarang, ada Forum Komunikasi Warga atau FKW.
FKW menjadi wadah untuk menjembatani aspirasi masyarakat dengan pihak pengembang.
Ia juga pernah terlibat sebagai pengurus seksi agama. Keterlibatan itu kemudian berlanjut hingga dipercaya memimpin RT 46.
“Pada saat hari pemilihan itu, karena saya duduk di depan, tiba-tiba saja muncul nama saya. Saya sebenarnya tidak mau.”
“Bahkan saya memilih incumbent, supaya beliau lanjut lagi. Tapi ternyata jumlah suara saya lebih banyak,” ujar Alfandri.
Menurut Alfandri, kawasan Sepinggan Pratama mengalami sejumlah perubahan sejak ia tinggal di sana.
Salah satunya terlihat dari penataan lingkungan, fasilitas umum, serta kehidupan sosial masyarakat.
Ia menilai hubungan antarwarga menjadi salah satu hal yang paling penting untuk dijaga.
Menurutnya, suasana kekeluargaan dan kerukunan membuat warga merasa nyaman tinggal di lingkungan tersebut.
“Yang paling penting itu keharmonisan, kerukunan dalam bertetangga. Alhamdulillah di sini kita rukun, terbentuk atmosfer kekeluargaan dan saling pengertian,” urainya.
Alfandri menjelaskan, kawasan tersebut pada awalnya hanya terdiri dari satu RT, yakni RT 44.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, wilayah itu berkembang menjadi beberapa RT, yaitu RT 44, RT 46, dan RT 47.
Setelah itu, RT 44 kembali dimekarkan menjadi RT 44 dan RT 64. Dengan demikian, kawasan tersebut kini terdiri dari empat RT.
Perkembangan wilayah itu kemudian mendorong para pengurus RT membentuk Forum RT.
Forum tersebut menjadi ruang bagi keempat RT untuk bekerja sama dan menyatukan potensi warga.
Bagi Alfandri, tujuan kerja sama tersebut bukan hanya menyelesaikan urusan lingkungan, tetapi juga membangun komunitas yang nyaman dan memiliki hubungan sosial yang kuat.
Salah satu kegiatan rutin yang dijalankan adalah kumpul warga setiap tiga atau empat bulan sekali.
Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antarwarga, memperkenalkan warga baru, sekaligus berbagi pengetahuan.
Dalam kegiatan itu, warga yang memiliki keahlian tertentu dapat mengisi sesi berbagi.
Alfandri mencontohkan, pernah ada warga berprofesi sebagai dokter yang memberikan penjelasan mengenai kesehatan jantung.
Selain pertemuan rutin, komunikasi warga juga dijaga melalui grup percakapan.
Di RT 46, grup warga dibagi menjadi grup bapak-bapak dan ibu-ibu.
Grup ibu-ibu dikelola oleh istrinya yang juga berperan sebagai bu RT, sedangkan Alfandri menangani grup bapak-bapak.
Pembagian tersebut dilakukan agar komunikasi lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok dan tetap kondusif.
“Memang harus kita jaga grup ini supaya tetap kondusif. Program-program RT juga bisa tersosialisasikan melalui grup tersebut,” ucapnya.
Kegiatan lain yang kini rutin dilakukan adalah JSP atau Jalan Subuh.
Setiap pekan, warga dari empat RT berjalan bersama mulai sekitar pukul 06.30 Wita setelah melaksanakan salat Subuh dan bersiap dari rumah.
Mereka berkeliling kompleks, terkadang mengambil jalur ke luar kawasan.
Selain berolahraga, kegiatan itu menjadi kesempatan bagi warga untuk berbincang dan bersosialisasi.
Adapun, tujuan kegiatan tersebut membuat hubungan antarwarga dari empat RT semakin dekat.
Di kawasan tersebut, warga juga memanfaatkan sejumlah fasilitas umum untuk kegiatan bersama.
Alfandri menyebut terdapat tempat berkumpul, fasilitas posyandu, meja pingpong, serta ring basket bagi anak-anak muda.
Salah satu fasilitas yang digunakan warga berada di FD46, Blok E.
Tempat tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan lingkungan dan aktivitas warga.
Program Berbasis Lingkungan
Selain kegiatan olahraga dan pertemuan warga, Forum RT juga mulai mengembangkan sejumlah program berbasis lingkungan.
Di antaranya ekowisata, Bank Sampah Induk, dan urban farming.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi empat RT dengan menggabungkan potensi serta sumber daya yang dimiliki warga.
Untuk mendukung kegiatan itu, telah dibentuk Yayasan Harmoni Pratama Lestari.
Sementara itu, kegiatan urban farming dikembangkan melalui Pratama Ekologi.
Dalam pelaksanaannya, warga mulai mengelola kegiatan pertanian perkotaan dan melakukan panen perdana sawi yang kemudian dibagikan kepada warga.
Alfandri berharap program tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Tidak hanya di lingkungan Sepinggan Pratama, tetapi juga berkembang ke wilayah Sepinggan Baru dan Balikpapan.
Ia juga ingin mengembangkan program kepemimpinan bagi anak muda atau Youth Leadership.
Program itu diarahkan untuk memberi ruang kepada remaja agar terlibat dalam kegiatan positif di lingkungan.
Selama menjalankan tugas sebagai ketua RT, Alfandri mengaku mendapat banyak pengalaman.
Ia menyadari bahwa memimpin lingkungan, meski dalam lingkup RT, tetap memiliki tantangan karena setiap warga memiliki karakter dan cara pandang yang berbeda.
Ia mengungkapkan, persoalan yang dihadapi pengurus RT tidak hanya berkaitan dengan administrasi.
Ada pula persoalan antarwarga, mulai dari kesalahpahaman, pertengkaran, hingga konflik yang membutuhkan penanganan langsung.
Karena itu, ia menilai ketua RT harus menghadapi setiap persoalan dengan kebijaksanaan dan tidak mengambil keputusan secara sembarangan.
“Sebagai ketua RT, kalau saya, yang paling pokok itu membina kerukunan di antara sesama warga. Kalau yang lainnya seperti lingkungan nyaman dan administrasi, itu tambahan,” tuturnya.
Ia juga mendorong lebih banyak warga terlibat dalam kegiatan lingkungan.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan apabila diberi ruang dan dikelola bersama.
Keterlibatan warga, kata Alfandri, penting agar masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Untuk generasi berikutnya, ia berharap warga Sepinggan Pratama tetap kompak dan menjaga hubungan baik meskipun terdapat perbedaan.
“Perbedaan jangan sampai memutuskan hubungan silaturahmi, persaudaraan, dan kekeluargaan yang ada,” tandas Alfandri.
Ia juga berharap anak-anak muda dapat ikut terlibat dalam pembangunan lingkungan.
Terlebih, sebagian anak-anak di kawasan tersebut melanjutkan pendidikan ke luar daerah setelah lulus sekolah, sehingga jumlah anak muda yang menetap di lingkungan menjadi lebih sedikit.
Dengan adanya berbagai program yang sedang disiapkan, Alfandri ingin anak-anak muda memiliki kegiatan positif dan ikut membangun lingkungan, khususnya di RT 46.
Baginya, lingkungan yang nyaman tidak hanya dibentuk melalui fasilitas, tetapi juga melalui hubungan baik antarwarga.
Sebab, kehidupan bertetangga berlangsung setiap hari dan membutuhkan kepedulian bersama untuk menjaganya.
Caca/ M. Taufik
Editor: Agung













