SMART RT – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi salah satu bekal yang diperkenalkan kepada mahasiswa Universitas Mulia melalui High Risk and Rope Access Career Day 2026, Senin (5/10/2026).
Kegiatan berlangsung di Gedung Cheng Ho, Universitas Mulia, Balikpapan, mulai pukul 08.30 WITA.
Agenda tersebut menghadirkan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Kalimantan Timur bersama INDOROPE, perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan pelatihan Rope Access.
Peserta berasal dari Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). M
Materi yang diberikan mencakup pengenalan K3, keselamatan pekerjaan pada ketinggian, sistem pengamanan menggunakan tali.
Termasuk gambaran peluang kerja pada sektor yang membutuhkan kompetensi Rope Access.
Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, mengatakan kegiatan ini penting karena mahasiswa perlu memiliki bekal sebelum memasuki dunia kerja.
Ia juga mengingatkan, K3 bukan sekadar pengetahuan tambahan, tetapi menjadi bagian dari sistem kerja di berbagai perusahaan.
Menurut PP Nomor 50 Tahun 2012, penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) diwajibkan bagi perusahaan yang mempekerjakan sedikitnya 100 pekerja/buruh atau memiliki tingkat potensi bahaya tinggi.
“Kalian masih mahasiswa. Kalau ada peluang kerja, kalian sudah punya bekal dari pengetahuan yang diberikan dalam pelatihan hari ini,” kata Agung dalam sambutannya.
Bukan Sekadar Peralatan
Ketua Kagama Kaltim, Ir. Lalu Fasial Idhi atau Didi, mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Kagama kepada Universitas Mulia.
Ia menjelaskan K3 pada dasarnya sistem untuk memastikan keselamatan di tempat kerja.
Karena itu, penerapannya tidak selalu identik dengan peralatan keselamatan yang kompleks.
Hal sederhana seperti rambu evakuasi, petunjuk keluar, hingga penanda ruangan juga bagian upaya membangun lingkungan kerja yang aman.
Dari pemahaman dasar tersebut, materi kemudian diarahkan pada keselamatan pekerjaan di ketinggian.
Kementerian Ketenagakerjaan telah mengatur keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pada ketinggian melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 9 Tahun 2016.
Regulasi tersebut mencakup persyaratan keselamatan, kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja bangunan tinggi maupun tenaga kerja akses tali, termasuk pembinaan dan sertifikasi kompetensi.
Dunia Kerja Berisiko Tinggi
Ketua panitia pelaksana, Sumardi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai pengenalan awal bagi mahasiswa terhadap aspek K3 yang akan mereka temui di dunia kerja.
“Diharapkan mahasiswa memiliki pengetahuan terkait K3 umum maupun K3 ketinggian,” ujarnya.
Menurutnya, materi terkait relevan bagi mahasiswa yang nantinya bekerja di sektor konstruksi, industri.
“Termasuk bidang pekerjaan yang memiliki risiko keselamatan tinggi,” ujarnya.
Namun, kesadaran K3 tidak hanya dibutuhkan mahasiswa teknik.
Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga perlu memahami prinsip dasar keselamatan karena lingkungan kerja memiliki potensi risiko yang beragam.

Sistem Pengamanan Rope Access
Materi kemudian dilanjutkan praktisi INDOROPE, Hendrianto.
Ia menjelaskan pekerjaan menggunakan teknik Rope Access membutuhkan kompetensi dan prosedur keselamatan yang tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah penggunaan dua sistem tali dalam pekerjaan akses tali.
Ketika ditanya mengapa pekerja menggunakan dua tali, seorang peserta menjawab, “double safety.”
Hendrianto membenarkan jawaban tersebut, sekaligus menjelaskan bahwa sistem tersebut bukan sekadar menggandakan tali.
Masing-masing sistem memiliki fungsi keselamatan tersendiri, sehingga ketika terjadi kegagalan salah satu sistem, pekerja masih memiliki sistem pengamanan.
Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam pekerjaan akses tali: keselamatan tidak hanya bergantung pada satu peralatan atau satu prosedur.
Melainkan dibangun melalui sistem perlindungan yang saling mendukung.
Hendrianto juga memperkenalkan sejumlah bidang yang menggunakan teknik Rope Access.
Di antaranya pemeriksaan struktur (structural survey), pengujian tidak merusak atau non-destructive testing (NDT), pekerjaan pada shaft atau poros vertikal.
Selain itu confined space, menara, tiang, pylon, hingga pekerjaan instalasi tertentu seperti perangkat satelit dan radar.
Ragam pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi akses tali dapat digunakan pada berbagai sektor.
Khususnya pekerjaan yang membutuhkan akses ke lokasi sulit dijangkau dengan metode konvensional.
Hendrianto juga membagikan pengalaman timnya mengikuti kompetensi K3 di Thailand sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan standar profesional di bidang tersebut.
Bagi mahasiswa, pengenalan ini memberikan gambaran bahwa kebutuhan dunia kerja selain berkaitan ijazah akademik, juga terkait kompetensi teknis, keselamatan, dan sertifikasi yang relevan dengan bidang pekerjaan.
Melalui High Risk and Rope Access Career Day 2026, Universitas Mulia, Kagama Kaltim, dan INDOROPE bukan saja memperkenalkan pekerjaan berisiko tinggi, tetapi turut menanamkan satu prinsip dasar sebelum mahasiswa memasuki dunia profesional.
Yakni, kemampuan bekerja harus berjalan bersama kemampuan menjaga keselamatan.
Bung Amrico Alfransisco













