SMART RTKU – Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia perlu terus memperkuat positioning sebagai program studi akuntansi.
Khususnya prodi yang mengintegrasikan ilmu akuntansi dengan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
Keunggulan ini diwujudkan melalui penguatan kompetensi mahasiswa di bidang software akuntansi.
Seperti e-Faktur, e-Bupot, Excel lanjutan, Power BI, analisis data, serta sistem informasi akuntansi.
Demikian dipaparkan Ketua Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia Balikpapan, Eko Edy Susanto.
Eko menyampaikan hal itu dalam Pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard.
Agenda tersebut digelar di Gedung Fakultas Teknik lantai dua, Ruang 202, selama empat hari. Mulai Selasa – Jumat, 23–26 Juni 2026.
Eko menerangkan, selain kemampuan teknis, mahasiswa juga diarahkan memiliki profil lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Misalnya akuntan junior, staf pajak, auditor junior, analis keuangan, accounting system officer, konsultan UMKM, hingga technopreneur bidang keuangan.
Ia menilai program studi perlu memiliki distinctive value agar tidak hanya mengikuti perkembangan.
“Tapi juga mampu menjadi bagian dari keunggulan Universitas Mulia,” pesan Eko.
Untuk memperkuat daya saing tersebut, Program Studi Akuntansi terusi mendorong peningkatan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri.
Termasuk dengan kantor konsultan pajak, kantor akuntan publik, UMKM, pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga berbagai mitra strategis lainnya.
Penerjemahan Visi UM
Pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard Universitas Mulia menjadi ruang bagi setiap unit akademik untuk meninjau kembali bagaimana merealisasikan visi Universitas Mulia 2045.
Visi besar Kampus Putih ini perlu diterjemahkan menjadi strategi yang lebih terarah, terukur, dan berdampak.
Lewat pendekatan Balanced Scorecard, peserta tak hanya membahas perencanaan institusi secara umum.
Mereka juga diajak melihat bagaimana setiap fakultas dan program studi memiliki peran strategis memastikan visi universitas diwujudkan melalui program akademik.
Serta pengembangan lulusan, inovasi pembelajaran, penelitian, dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Eko Edy Susanto, S.E., M.Ak., menilai pelatihan ini memberi perspektif penting ihwal posisi program studi sebagai penggerak implementasi visi universitas di tingkat akademik.
Ia menekankan, visi Universitas Mulia 2045 tidak boleh berhenti sebagai pernyataan strategis.
“Akan tetapi harus diterjemahkan menjadi langkah nyata yang menyentuh mahasiswa, dosen, lulusan, dan masyarakat,” imbuh Eko.
Menurytnha program studi memiliki peran yang sangat strategis sebagai unit akademik yang menerjemahkan visi besar Universitas Mulia 2045 ke dalam program nyata.
Visi universitas, ujar Eko, harus diturunkan menjadi kurikulum, capaian pembelajaran, metode pembelajaran, riset.
“Serta pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, dan penguatan kompetensi lulusan,” ujarnya.
Arah transformasi Program Studi S1 Akuntansi diwujudkan melalui penguatan kompetensi yang selaras perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Eko menjelaskan visi berbasis technopreneurship diterjemahkan melalui pengembangan bidang akuntansi digital.
Kemudian sistem informasi akuntansi, perpajakan digital, audit berbasis teknologi, analisis data keuangan, hingga kewirausahaan berbasis teknologi.
“Perubahan ini menjadi penting karena lulusan akuntansi masa kini tidak cukup hanya memahami proses pencatatan dan pelaporan keuangan,” tegasnya.
Tetapi mereka juga dituntut harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menuntaskan berbagai persoalan bisnis, organisasi, UMKM, dan industri.
Melalui perspektif Balanced Scorecard, Program Studi Akuntansi juga mulai melihat keberhasilan dari akademik dan berbagai indikator yang saling terhubung.
Dari sisi mahasiswa dan lulusan, keberhasilan diukur melalui peningkatan kompetensi, daya saing, serta kesiapan memasuki dunia kerja.
Dari sisi proses internal akademik, perhatian diarahkan pada penguatan kurikulum, Rencana Pembelajaran Semester, pembelajaran berbasis proyek, laboratorium, dan sistem evaluasi capaian pembelajaran.
Adapun dari perspektif pengembangan organisasi, peningkatan kompetensi dosen, produktivitas penelitian, publikasi, dan kolaborasi akademik menjadi bagian penting mendukung kemajuan program studi.

Pendekatan Balanced Scorecard
Menurut Eko, dengan pendekatan Balanced Scorecard, setiap program strategis dapat memiliki dampak yang terukur.
“Program studi harus memastikan seluruh aktivitas yang dilakukan benar-benar mendukung pencapaian visi besar universitas,” jelasnya.
Salah satu poin penting dalam Strategic Review Balanced Scorecard adalah bagaimana setiap program studi mampu memiliki identitas keunggulan yang menjadi pembeda.
Dalam pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard, salah satu tantangan yang menjadi perhatian bagaimana perguruan tinggi mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang bergerak cepat.
Eko menjelaskan Program Studi Akuntansi secara berkelanjutan perlu melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum dengan melibatkan berbagai pihak.
Mulai dosen, mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, praktisi, asosiasi profesi, hingga mitra industri.
Langkah itu ditempuh agar kurikulum tidak bersifat statis, tetapi mampu mengikuti perkembangan standar akuntansi, regulasi perpajakan, dan transformasi digital.
Selain pembaruan kurikulum, inovasi pembelajaran juga menjadi bagian penting menciptakan pengalaman belajar yang relevan.
Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan berbasis kasus (case-based learning) terus diperkuat agar mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan nyata.
Mahasiswa juga diarahkan melakukan simulasi transaksi akuntansi, penyusunan laporan keuangan UMKM, simulasi perpajakan, audit sederhana, hingga pengembangan dashboard keuangan.
Pemanfaatan teknologi pembelajaran seperti learning management system, aplikasi akuntansi, spreadsheet lanjutan, data analytics, dan sistem informasi akuntansi juga menjadi bagian strategi peningkatan kompetensi mahasiswa.
Menurut Eko, kesiapan lulusan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori, tetapi juga kemampuan analisis, etika profesional, komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Adapun gasil Strategic Review Balanced Scorecard juga mendorong perubahan cara pandang mengukur keberhasilan program studi.
Menurut Eko, keberhasilan program studi tidak cukup hanya dilihat dari terselenggaranya kegiatan akademik setiap semester.
Program studi yang berkembang harus mampu menunjukkan capaian yang terukur dan memberi dampak berkelanjutan.
Indikator tersebut mencakup kualitas lulusan, relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri, peningkatan kualitas pembelajaran.
“Termasuk produktivitas dosen dan mahasiswa dalam penelitian, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga kekuatan kerja sama eksternal,” imbuhnya
Selain itu, tata kelola mutu seperti pelaksanaan PPEPP, evaluasi RPS, analisis CPL dan CPMK, tracer study, survei kepuasan, dan tindak lanjut hasil evaluasi menjadi bagian penting memastikan prodi terus melakukan perbaikan.
Ia menekankan program studi yang berkembang adalah program studi yang mampu membaca data, mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Pandangan itu menunjukkan bagaimana Strategic Review Balanced Scorecard mulai diterjemahkan dari tingkat institusi hingga program studi.
Kalau pada tingkat universitas pelatihan ini menjadi langkah penyelarasan arah menuju Universitas Mulia 2045.
Lantas untuk tingkat Program Studi Akuntansi, transformasi ini diwujudkan melalui penguatan akuntansi digital, inovasi pembelajaran.
Serta kolaborasi industri dan pengembangan lulusan yang siap menghadapi masa depan.
Dengan demikian, pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard bukan sekadar proses penyusunan strategi.
Melainkan bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang bergerak bersama untuk menghadirkan Universitas Mulia yang unggul, adaptif, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
M. Taufik I Sumber: UM














