SMART RT – Banjir, ibarat momok yang terus menancap dalam memori Sapardi.
Ketua RT 05, Gang Mufakat II, Kelurahan Damai Bahagia, Balikpapan Selatan tak pernah lupa satu momen dalam hidupnya.
Yakni, di saat banjir menghantam wilayahnya.
Kala itu, cerita Sapardi, banjir besar terjadi di Gang Mufakat.
Salah satu kejadian yang paling diingatnya terjadi tahun 2012. Saat itu, air sempat masuk hingga ke area musala.
Sejak kejadian itu, warga mulai memahami titik yang lebih aman ketika banjir datang.
Kini, banjir biasanya terjadi ketika hujan deras bertepatan dengan air pasang tinggi.
Kondisi itu membuat warga harus selalu waspada, termasuk ketika malam hari.
Tahun 2024, banjir besar di wilayahnya juga berdampak pada kehidupan warga.
Ia juga mengenang, di tahun itu, ada warga yang harus dievakuasi karena kondisi sakit dan tidak dapat bergerak sendiri.
Dampak banjir paling terasa ketika air mulai masuk ke dalam rumah.
Sejumlah perabot seperti kasur, kulkas, barang elektronik, hingga kendaraan dapat terdampak genangan.
Sapardi menyebut, saat air di kawasan sungai mencapai sekitar lutut orang dewasa, genangan di rumah warga bisa lebih tinggi.
Di sejumlah rumah, air bahkan dapat mencapai sekitar pinggang.
Kondisi tersebut membuat warga harus memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
“Namun, tidak semua benda dapat diselamatkan,” kenangnya.
Ia menilai banjir di Gang Mufakat II tidak bisa hanya dilihat dari kondisi permukiman.
Menurutnya perkembangan pembangunan di wilayah hulu ikut memengaruhi aliran air menuju kawasan hilir.
Perumahan dan pembukaan lahan yang terus bertambah membuat area resapan air semakin berkurang.
Air hujan kemudian lebih cepat mengalir menuju sungai.
Sapardi menyebut, aliran air dari sejumlah kawasan seperti Kilo, Kampung Timur, dan Sungai Ampal bermuara ke wilayah hilir di sekitar permukiman warga.
Kini, banjir biasanya terjadi ketika hujan deras bertepatan dengan air pasang tinggi.
Dampaknya, membuat warga harus selalu waspada, termasuk ketika malam hari.
“Kalau sudah hujan deras sama indikasi air laut naik, sudah tidak berani tidur,” ujar Sapardi.
Kasur dan perabot besar biasanya tetap terdampak dan membutuhkan waktu untuk dikeringkan setelah banjir surut.
“Kalau perumahan dan lain sebagainya bertambah, lebar sungai tidak ditambah, airnya tidak bisa masuk ke sungai,” katanya.
Karena itu, Sapardi menilai pembangunan perlu disertai pengawasan sejak awal.
Ia juga menyoroti keberadaan rumah pompa di kawasan Sungai Ampal. I
Sapardi mengingat kejadian pada 2024 ketika genangan bertahan sejak subuh hingga malam hari.
Menurut pengamatannya, debit air yang datang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pompa.
Ia juga melihat perbedaan ketinggian air di sisi sebelum dan sesudah rumah pompa.
Setelah kejadian tersebut, dibuat jalur tambahan untuk membantu memperlancar aliran air.
Sapardi menilai langkah itu membuat air lebih cepat surut pada banjir berikutnya.
Namun, ia tetap berharap ada penanganan jangka panjang melalui pelebaran sungai dan saluran air.
Menurutnya, kapasitas sungai harus disesuaikan dengan perkembangan kawasan di bagian hulu.
Dalam penjelasan Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan pada Agustus 2024, rumah pompa di hilir Sungai Ampal salah satu upaya penanganan banjir jangka pendek.
Saat itu, operasional rumah pompa sempat terganggu akibat tumpukan sampah yang terbawa arus, mulai dari botol, sofa, kasur, hingga tandon air.
DPU juga menyebut pelebaran saluran dari kawasan Beller menuju Jalan Penegak membutuhkan anggaran sekitar Rp1 triliun.
Rinciannya terdiri dari pembebasan lahan sekitar Rp600 miliar dan pembangunan saluran sekitar Rp400 miliar.
Gang Mufakat II dihuni warga dengan latar belakang beragam.
Ada pegawai negeri, karyawan, pedagang, serta keluarga yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Sapardi menyebut sebagian warga sudah menempati kawasan itu sejak sekitar 1980-an.
M. Taufik
Editor: Agung













