SMART RT – Di lingkungan RT 55, Kelurahan Sepinggan Baru, Kecamatan Balikpapan Selatan, semangat membangun tidak hanya bertumpu pada seorang ketua RT.
Bagi Ismail, warga bagian dari sebuah tim yang memiliki peran sama dalam menjaga, merapikan, dan mengembangkan lingkungan.
Prinsip itu ia terapkan sejak dipercaya memimpin RT 55 yang mencakup kawasan Perumahan Puri Ratu Kencana dan Pelangi Grand Residence.
“Saya anggap RT dan para warga itu seperti tim, apa yang mau kita lakukan pasti lahir dari diskusi kita ketika ngumpul atau nongkrong,” ujarnya, pada Jum’at 14 Agustus 2026.
Ismail bukan sosok baru dalam kegiatan lingkungan. Sebelum menjadi Ketua RT 55, ia telah membantu ketua RT sebelumnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal baginya untuk memahami karakter warga sekaligus melihat langsung berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Kini, sebagai Ketua RT 55, Ismail memilih pola kepemimpinan yang mengedepankan diskusi. Ia tidak ingin setiap keputusan lahir dari keputusan pribadi.
Baginya, pertemuan sederhana seperti obrolan ketika berkumpul, hingga percakapan santai bersama warga dapat menjadi ruang untuk menemukan gagasan.
“Ada masukan dan keluhan dari para warga kita rembuk secara bersama.”
Semangat kebersamaan itu kemudian diwujudkan dalam berbagai kegiatan.
Mulai dari memotong pohon, merapikan tanaman, menata kabel yang menjuntai, hingga menangani berbagai persoalan lingkungan.
Tim untuk wadah berembuk dan memutuskan beberapa program kegiatan di antaranya tim lingkungan dan tim pembangunan.
Tim tersebut bertugas membantu pelaksanaan kegiatan sekaligus berkoordinasi dengan Ketua RT.
“Lingkungan yang baik lahir dari kepedulian bersama, bukan hanya dari kerja seorang ketua RT,” pesan Ismail.
Sebab, lanjut Ismail, Ketua RT harus netral dalam bersikap.
Selama berkegiatan positif, RT pasti akan membantu.
“Kalau bukan kita yang membangun lingkungan, siapa lagi?” ungkap Ismail.
Di RT 55 terdapat sekitar 147 kepala keluarga.
Mayoritas warga bekerja di sektor minyak dan gas Migas serta perusahaan swasta.
Dengan latar belakang pekerjaan yang beragam, Ismail menganggap ia harus membangun komunikasi.
Semata-mata agar kesibukan para warga tidak menjadi penghalang untuk tetap peduli terhadap lingkungan tempat tinggal.
Di RT 55 terdapat persoalan yang kini menjadi perhatian, yakni pembangunan fasilitas lingkungan, terutama pengaspalan jalan yang masih dikeluhkan warga.
“Kita sudah ajukan pengaspalan, sekarang kan lagi gencar semenisasi saja.”
Selain pembangunan fisik, Ismail juga tengah berkonsentrasi menertibkan data kependudukan.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara data yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan data yang dimiliki RT.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ismail sedang menyiapkan sebuah aplikasi yang memuat data warga agar lebih terstruktur.
Data tersebut nantinya mencakup Kartu Keluarga KK, Kartu Tanda Penduduk KTP, alamat rumah, status rumah yang dihuni pemilik maupun dikontrakkan, serta sejumlah informasi lainnya.
Langkah itu dilakukan agar RT memiliki data yang lebih tertib dan mudah diperbarui.
“Saya lagi buat aplikasi untuk tertibkan data warga, agar sesuai antara data di Catatan Sipil Capil dengan yang ada di RT,” terangnya.
Dalam bidang pembangunan, Ismail memiliki tiga program utama. Pembangunan jembatan telah selesai dengan menggunakan dana swadaya warga sekitar Rp13 juta.
Adapun pembangunan dan perbaikan Posyandu masih dalam proses.
Program lainnya adalah pemindahan pos keamanan atau pos security agar pengelolaan lingkungan dapat semakin baik.
Di tengah pembangunan tersebut, RT 55 juga berdampingan dengan RT 24 dan kawasan pembangunan Plaza 88.
Ia berharap kehadiran kawasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Misalnya membantu perbaikan drainase, jalan, maupun kebutuhan lingkungan lainnya.
Kehidupan warga RT 55 juga berjalan melalui berbagai kegiatan rutin.
Kerja bakti digelar setiap bulan, sementara Posyandu dilaksanakan setiap tanggal 12 dengan kegiatan penimbangan.
Termasuk imunisasi balita, serta pelayanan bagi ibu hamil. Untuk keamanan, warga secara swadaya membiayai petugas security.
Dalam pengelolaan sampah, warga bekerja sama dengan salah seorang warga yang bertanggung jawab mengambil sampah.
Setiap sore sebelum Magrib, warga telah memahami kebiasaan untuk mengeluarkan sampah yang sudah dirapikan dan digantung di halaman rumah masing-masing.
“Itu cara kami untuk menangani sampah dan keamanan lingkungan, yang dibayar melalui Iuran Pengelolaan Lingkungan IPL.”
Tingkatkan Rasa Kebersamaan Warga
Di balik aktivitasnya sebagai ketua RT, Ismail adalah ayah tiga anak laki-laki.
Anak pertamanya duduk di kelas 2 SMP, anak kedua kelas 6 SD, sedangkan anak bungsunya berusia empat tahun.
Pria kelahiran Balikpapan itu kini berusia 44 tahun. Selain mengurus lingkungan, ia tetap bekerja di perusahaan Telkom Balikpapan.
Selain itu ia juga menjalani kuliah semester dua Program Studi Manajemen di Universitas Mulia Balikpapan melalui kelas eksekutif.
Kesempatan menempuh pendidikan tinggi tersebut, menurut Ismail, sangat membantu.
Alasannya karena sistem waktu dan biaya yang diterapkan kelas eksekutif tidak membuat kesulitan membagi kesibukan antara pekerjaan, keluarga, perkuliahan, dan kegiatan sosial.
“Saya sangat terbantu dengan adanya kelas Eksekutif di Universitas Mulia, karena bisa membagi kesibukan dan pekerjaan,” ungkapnya.
Sebelum tinggal di Perumahan Puri, Ismail menetap di kawasan Sepinggan dan sejak dahulu telah aktif dalam organisasi di lingkungan RT, termasuk Ikatan Remaja Masjid.
Dari sana, ia belajar bersosial sekaligus memahami bagaimana mengelola sebuah tim.
Bagi Ismail, menjadi Ketua RT bukan tentang bekerja seorang diri. Ia memilih menikmati setiap proses tanpa merasa terbebani.
“Siapa yang menabur benih, ia yang akan menuai sendiri,” ujarnya.
M. Taufik
Editor: Agung














