SMART RTKU – Madu tak melulu dihasilkan dari lebah hutan. Madu memang tak harus berasal dari lebah hutan.
Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, madu madu budidaya dikenal sebagai madu ternak, dikenal sebagai sumber utama produksi madu komersial.
Dihasilkan lebah yang diternakkan manusia, seperti apis mellifera atau apis cerana dalam sarang buatan.
Biasanya, koloni lebah ditempatkan di sekitar area perkebunan atau pertanian bunga tertentu, menghasilkan madu yang lebih manis dengan rasa lebih konsisten.
Madu budidaya tetap memiliki kualitas sangat baik dan aman dikonsumsi. Tapi siapa yang berani beternak lebah?
Sebab, tak jarang saat orang awam bertemu sarang lebah, alih-alih memeliharanya, yang ada justru melarikan diri ketakutan karena khawatir disengat.
Namun hal itu tidak dirasakan Ridwansyah.
Warga Kota Minyak, berumur 55 tahun ini bermodal kotak kayu buatannya yang ditopang batang pohon kering.
Dengan itu, ia berhasil menjadikan sarang lebah penghasil madu asli. Bahkan, bisa memproduksi 40 liter per bulan.
Ridwansyah telah bersahabat dengan lebah selama delapan tahun, dan mampu merawat belasan sarang lebah buatannya.
Apakah tidak takut tersengat? Ditanya soal itu, Ridwansyah hanya tersenyum tipis. Katanya, ia telah terbiasa bahkan menganggap sengatan lebah salah satu terapi baginya.
Di kediaman Ridwansyah RT 20 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat, rumahnya penuh tanaman bunga, yang terawat dalam barisan pot-pot hitam dan pink.
Atap laman rumahnya, tertutup dedaunan menghijau. Asri. Segar rasanya. Serasa kita enggan beranjak darinya. Tanaman berbunga itu, sebagai saripati makanan lebah.
Ia mengisahkan, Ridwansyah memiliki tiga anak. Yang semua tinggal di Balikpapan.
Ridwansyah pernah menjadi Komisioner KPU Kota Balikpapan periode 2019-2024, namun dalam perjalanannya takdir berkata lain.

Gegara Stroke
Ia terserang stroke berat lantaran pembuluh darah belakang pecah. Saat itu membuatnya tidak bisa bergerak dan berimbas tidak maksimalnya aktivitas di KPU.
Akan tetapi, lagi-lagi, hewan yang dianggap memiliki sengatan mematikan itu, jutsru membantu Ridwansyah sembuh dari penyakit strokenya.
Yakni melalui terapi lebah di Jakarta. Ia meyakini, betapa luar biasanya khasiat hewan yang ditakuti sebagian orang, justru sangat berharga bagi Ridwansyah.
”Yang agak sulit Mas, orang-orang masih banyak yang menganggap lebah itu sengatannya mematikan. Padahal kalau kita tau cara mengelola
dan memanfaatkan dengan baik, itu sangat berguna,” ungkapnya, dalam perbincangan santai dengan media ini.
Dari kesembuhanya, ia terpantik dengan pengobatan tradisional lewat lebah. Akhirnya Ridwansyah belajar menjadi peternak lebah di Sulawesi.
Sejak tahun 2018 ia mulai mencoba dan hanya menghasilkan produksi madu bagi keluarga saja. Namun saat ini seiring waktu berjalan dan relasi
semakin luas, ia mampu mengirim madu asli ke luar kota dengan jumlah 20-30 kilo gram per bulan.
”Contohnya madu Trigona, itu paling lama produksinya Mas. Karena faktor lebah yang menghinggapi bunga dan melakukan pengambilan nektar
memakan waktu lama,” papar Ridwan.
Riset Kampus Putih
Menurutnya, madu Trigona memiliki khasiat yang sangat luar biasa. Salah satunya dapat membantu menyembuhkan penyakit stroke, kanker bahkan tumor.
Tak heran harganya cukup lumayan dari madu lainnya. Butuh Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu jika ingin mendapatkan madu asli Trigona.
Ridwan, sapaan karibnya, saat ini sedang berjuang membangun kelompok tani lebah dengan menjadikan RT 20 sebagai kampung wisata lebah.
Mulanya mengedukasi bagaimana cara mengelola dan memproduksi madu asli.
”Ini lagi mau membangun kelompok tani lebah Mas,” tuturnya.
Tujuannya agar biar bisa gerak lebih besar seperti produksi, ternak yang lebih banyak dan ini sedang memperjuangkan kampung wisata lebah biar ada SK nya.
Sejumlah pihak termasuk dari perguruan tinggi telah mengunjungi tempat ternak lebah dan produksi ala Ridwab.
Termasuk Universitas Mulia Balikpapan melakukan riset dan edukasi di sana.
“Universitas Mulia waktu itu berkunjung ke sini Mas. Riset madu asli dan edukasi tentang berternak lebah ini,” kenang Ridwansyah.
Pewarta: Taufik I Editor: Agung













