SMART RT – Di tengah kesibukan menjalani aktivitas sehari-hari, Suharto memilih kembali duduk di bangku kuliah, menempuh jalur Kelas Eksekutif.
Saat ini, ia telah menginjak semester 3 Program Studi Manajemen Universitas Mulia.
Suharto memutuskan memperluas cakrawala keilmuan dengan mempelajari dunia manajemen.
Kelas Eksekutif bagi Suharto sangat membantunya mengenyam pendidikan kembali di bidang Manajemen.
Dengan kesempatan melalui Kelas Eksekutif yang dibuka Universitas Mulia Balikpapan, ia tak merasa membuang waktu sia-sia.
Bahkan, sebaliknya. Baginya, kuliah di Universitas Mulia sangat menyenangkan.
Ia pun menyayangkan masyarakat yang belum menangkap kesempatan berkuliah dengan harga yang sangat murah.
“Tidak ada kata rugi Mas, saya kuliah lagi di Universitas Mulia jurusan Manajemen, namanya saja belajar. Ilmunya yang saya cari,” ungkap Suharto di pelataran kedai kopi, Selasa, 21 Juli 2026 malam.
Apalagi mumpung ada kesempatan jalur Kelas Eksekutif dengan harga terjangkau.
Baginya, belajar bukan sekadar mengejar gelar.
Melainkan menyiapkan bekal membangun usaha dan menghadapi tantangan masyarakat yang semakin kompleks.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Sebelumnya, Suharto telah memuntaskan pendidikan Sarjana Hukum, ia telah mengantongi gelar SH.
Meski begitu, ia merasa ilmu hukum saja belum cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang ditemuinya di lapangan.
Saat kesempatan menempuh pendidikan di Universitas Mulia terbuka, ia melihatnya sebagai peluang berharga untuk memperdalam pemahaman tentang manajemen.
“Saya dulu kuliah jurusan Hukum, Mas. Alhamdulllillah sudah kelar Sarjana, nah sekarang saya mau mencocokkan antara teori hukum dengan manajemen ketika menemukan suatu permasalahan,” ucapnya.
Menurut Suharto, masyarakat membutuhkan sosok yang tidak hanya memahami aturan hukum, tapi juga mampu mengelola organisasi, menyelesaikan persoalan, serta membangun sistem yang berjalan efektif.
Ia meyakini bahwa pendekatan hukum dan pendekatan manajemen dapat saling melengkapi dalam menciptakan solusi yang lebih komprehensif.
Keinginan menggabungkan dua disiplin ilmu itu menjadi motivasi utamanya.
Ia menilai hukum memberi kepastian dalam pengambilan keputusan, sedangkan manajemen menghadirkan strategi mengatur sumber daya dan menyelesaikan persoalan secara terstruktur.
Kolaborasi dua keilmuan ini diyakini akan memberi manfaat di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan menengah ke bawah hingga menengah ke atas.
Perjalanan akademiknya sendiri dimulai di Jakarta.
Saat itu, Soeharto menempuh pendidikan di jurusan Hukum sembari aktif bekerja di kantor advokat. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap berbagai persoalan hukum yang dihadapi masyarakat.
Sekaligus memperkaya kemampuan analisis dan penyelesaian sengketa.
Jakarta membawa Suharto survive, di luar profesinya bekerja di kantor advokat.
Selama di Batavia, ia dikenal aktif sebagai aktivis buruh. Dunia pergerakan membawanya berhadapan dengan proses negosiasi, advokasi, serta penyelesaian konflik ketenagakerjaan.
Dari pengalaman itulah ia menyadari bahwa kemampuan hukum perlu diimbangi dengan keterampilan manajerial agar setiap keputusan dapat diterapkan secara efektif.
“Supaya hukum gak kaku, nah bagaimana saya mau coba mencocokkan penerapan hukum dengan penerapan manajerial agar menjadi satu dalam menyelesaikan persoalan,” paparnya.
Kini, setelah menetap di Balikpapan, arah pembelajarannya berkembang.
Ia mulai merintis usaha dan merasa membutuhkan teori manajemen sebagai fondasi dalam mengelola bisnis.
Baginya, pengalaman praktik yang telah dijalani akan semakin kuat apabila dipadukan dengan pemahaman akademik yang sistematis.
Menariknya, Suharto tak pernah menganggap keputusan memulai kuliah dari jenjang Sarjana Manajemen sebagai langkah mundur.
Meski telah memiliki gelar Sarjana Hukum, ia justru menikmati proses mempelajari disiplin ilmu baru yang memberikan perspektif berbeda terhadap dunia kerja dan organisasi.
“Saya justru menikmati kuliah seperti ini karena mendapatkan ilmu baru. Apa yang selama ini saya praktikkan di dunia kerja ternyata bertemu dengan teorinya di jurusan Manajemen,” ujarnya.
Dari situ, ia mengaku bisa mengetahui mana benar dan mana yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan organisasi maupun pekerjaan.
Menurutnya, ilmu manajemen membantunya memahami bagaimana teori diterapkan ketika menghadapi konflik di lapangan.
Kini, setiap persoalan tak hanya dipandang dari sisi legalitas, tapi juga dari sisi pengelolaan sumber daya, komunikasi, hingga pengambilan keputusan.
Perpaduan antara pengalaman sebagai lulusan hukum, pernah bekerja di advokat, aktivis buruh, dan kini mahasiswa manajemen menjadi modal penting membangun kompetensi yang lebih utuh.
Semangat Suharto menjadi gambaran bahwa haus akan ilmu pengetahuan tidak mengenal usia maupun latar belakang pendidikan.
Baginya, setiap ruang kelas adalah tempat memperkaya wawasan. Dengan memadukan hukum dan manajemen, ia berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia usaha, dan masyarakat luas.
Dibutuhkan di Segala Lini Kehidupan
Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, mengamini jika bidang manajemen sangat dibutuhkan siapapun.
“Manajemen ini digunakan untuk semua profesi, dari pebisnis, dunia kesehatan, industri, sampai yang terkecil untuk ketua RT. Apalagi manajemen SDM,” jelasnya.
Pudjiati sendiri konsen pada bidang manajemen SDM.
Dalam studi Manajemen, program studi ini mempelajari cara mengelola, merencanakan, dan mengendalikan sumber daya manusia, keuangan, dan operasional untuk mencapai tujuan organisasi.
Lulusan jenjang S1 akan dipersiapkan menjadi pemimpin, konsultan, atau wirausaha yang andal di berbagai sektor industri.
Pudjiati menjelaskan, materi yang diperoleh mahasiswa Manajemen sangat beragam. Mulai mempelajari dasar-dasar bisnis, ekonomi, sampai kepemimpinan.
Di tahun ketiga atau keempat, biasanya akan ada pilihan pilihan atau peminatan khusus. Mulai Manajemen Keuangan yang fokus pada analisis investasi, risiko, dan pendanaan perusahaan.
Manajemen Pemasaran, yang mempelajari perilaku konsumen, riset pasar, dan strategi branding.
Ada pula Manajemen Operasional, yang fokus ihwal materi-materi rantai pasokan, logistik, dan efisiensi produksi.
Atau bisa juga memilih Manajemen Sumber Daya Manusia, di dunia industri biasa menepati posisi HRD.
Studi ini konsen membahas rekrutmen, pelatihan, dan pengembangan kinerja karyawan.
“Bagi ketua RT, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, studi manajemen sangat berguna sekali. Mereka lebih mudah untuk mengatur SDM di sekitarnya,” jelasnya.
Kata Pudji, untuk Kelas Eksekutif di Universitas Mulia menerapkan kelas yang berbeda dengan reguler. Untuk proses belajar mengajar tidak setiap hari. Tapi hanya Jumat dan Sabtu.
Ada kelas pagi dan sore. Kalau Jumat kuliahnya siang sampai malam, kalau Sabtu dari pagi sampai sore hari.
Bagaimana dengan jumlah SKS nya?
Ia menjelaskan, tidak ada beda dengan mahasiswa umum kelas reguler.
“Tetap 144 SKS. Tidak ada pemangkasan, hanya saja jam belajarnya kita padatkan. Kami tetap menjaga kualitas pembelajaran,” tutur doktor Pudjiati.
Menurutnya Universitas Mulia tetap berjalan pada rel komitmen untuk mengabdi pada masyarakat. “Kami memberi akses pendidikan yang mudah dan murah bagi masyarakat Balikpapan,” jelasnya.
M. Taufik
Editor: Agung














