SMART RTKU – Malam tadi, sempat tergelitik saat membaca kembali tulisan Goenawan Mohamad.
Sejak mahasiswa, memang sudah kesemsem membaca coretan-coretan beliau.
Terutama Catatan Pinggirnya, di Majalah Tempo, yang selalu memikat hati.
Nah tadi malam, terpantik kembali membaca arsip-arsip lama karyanya.
Bibir ini tak kuasa melepas senyum, saat membaca tulisan beliau di edisi terbilang lawas: 10 April 1976.
Catatan Pinggir itu sudah ditulis oleh Goenawan Mohamad 50 tahun lalu, tapi substansinya masih relevan sampai sekarang
Judulnya singkat sekali, hanya satu kata: Spanduk.
Goenawan Soesatyo Mohamad, lebih masyhur dikenal dengan nama Goenawan Mohamad atau singkatannya GM.
Ia salah satu tokoh bangsa.
Tak hanya tersohor sebagai sastrawan, tapi juga penyair, dan jurnalis paling berpengaruh di Indonesia.
Beliau lahir di Batang, Jawa Tengah pada tanggal 29 Juli 1941.
Namanya lekat dikaitkan sebagai salah satu pendiri Majalah Tempo.
Coba simak tulisan beliau yang berjudul, Spanduk. Begini kutipannya:
Ia bisa bercerita tentang hubungan kita kini dengan kata-kata, dan seketika itu juga, tentang hubungan kita dengan orang banyak.
Dari kata-kata yang tertera di sana bisa terlihat bahwa mungkin si pembuat (sebuah panitia lokal, atau sebuah jawatan pemerintah) tak menyadari lagi bahwa kalimat-kalimatnya sudah amat membosankan.
Bahwa inspirasinya tinggal nol. Bahwa ia tak bisa lagi menggugah.
Mungkin keyakinan memang tak penting baginya. Sebab mungkin yang utama baginya hanya ini: ”Saya telah menjalankan instruksi, yakni membuat spanduk, titik”.
Artinya, ia tak begitu repot memikirkan efektivitas kata bagi orang lain.
Artinya, ia mungkin hanya penyangga suatu “gaya” yang rupanya tengah dominan, gaya birokrat-pejabat, yang dunia sintaksisnya terbatas pada SK dan memo-memo kantor.
Dari situ ia tak berani menyimpang. Ia ingin patuh. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang menarik perhatian orang di luar.
Ia takut bahwa popularitas, usaha menarik hati orang banyak, adalah sesuatu yang kurang wajar.
Ia memang bukan orang politik, yang hidupnya terangsang oleh pergulatan dan pergaulan dengan khalayak, di mimbar atau di jalanan.
Maka spanduk yang dibikinnya, anjuran-anjuran yang dimaklumkannya, mungkin memang tak dimaksudkan menggerakkan hati masyarakat — meskipun itu dalam perkara segawat keluarga berencana.
Spanduk itu mungkin cuma membuktikan suatu kegiatan, dengan suatu anggaran, untuk suatu proyek — supaya pak atasan ini mengangguk-angguk, oke, oke.
Demikian kritik beliau terhadap spanduk-spanduk yang seringkali sekadar formalitas.
Yang nyaris selalu ada di setiap seremoni birokrasi.
Entah apakah sekadar untuk pemanis foto, atau kesempatan mencari dana sampingan.
Entah dianggap buang-buang anggaran, atau justru berbagi cuan ke percetakan.
Hanya dari potret spanduk, seorang Goenawan Mohamad mampu membidik sesuatu yang barangkali dinilainya sia-sia.
Pengadaan berulang, potret rutinitas birokrasi. Rutinitas sejak dulu sampai kini.
Yang seringkali tak terlalu substansial, tapi selalu memakan uang negara.
Atau rutinitas yang menunjukkan lemahnya kita dalam menentukan skala prioritas.
Seorang kerabat, yang pernah menduduki jabatan penting di pemerintahan, pernah menuang isi hatinya.
Sedikit curhat, ia bilang, “Saya suka sedih, sebetulnya banyak uang negara dibuang begitu saja untuk hal-hal yang tak ada kaitannya dengan kebutuhan masyarakat.”
Ia berkata demikian sambil menundukkan kepalanya.
Tetapi ia tak tahu atau mungkin tak punya kekuatan besar untuk menghentikannya.
Yang ujungnya, hanya bisa pasrah tanpa daya. “Sistemnya sudah begitu,” ungkapnya.
Saya tidak kaget mendengarnya.
Siapapun mafhum, memang terlalu banyak anggaran negara, uang dari pajak rakyat menguap.
Terbuang sia-sia. Dicuri perampok berdasi, dimakan gerombolan tikus birokrat.
Atau digondol kelompok-kelompok penjahat anggaran, yang berkedok pahlawan.
Cermati saja, berapa banyak koruptor yang ditangkap aparat.
Mulai kepala dinas, kepala daerah, anggota DPRD, anggota DPR, sampai menteri.
Nyaris semua hirarki jabatan publik yang mentereng, di pemerintahan atau parlemen, pernah ditangkap.
Kasusnya, korupsi atau suap.
Hanya presiden dan wakilnya saja yang belum pernah ditangkap.
Mungkin, di negara ini tidak ada yang berani menangkap presiden, wakil atau bekas orang nomor satu dan dua di Indonesia.
Kita tak punya sejarah itu.
Kita hanya punya sejarah penangkapan terhadap anak mantan presiden.
Yang kemudian, hakimnya ditembak mati di jalanan. Sedangkan anak mantan presiden itu kabur, jadi buronan.
Sempat ditangkap lagi, tapi divonis ringan.
Kita juga punya sejarah penangkapan terhadap besan presiden.
Tapi di kemudian hari, sosok yang berani itu justru ditersangkakan. Lantas dipenjarakan.
Ditangkap atas tuduhan kejahatan, yang amat lucu dan menggemaskan.
Seakan rekayasa yang dipaksakan.
Tetapi sampai kini, Indonesia tak punya sejarah menangkap presiden, wakil atau mantan keduanya.
Berbeda dengan banyak negara. Yang bahkan berani menghukum pemimpinnya sendiri.
Kita tak punya sejarah itu. Meski siapapun tahu, kesalahan-kesalahan pemimpin negara seringkali cukup menjengkelkan rakyat.
Meski kita tak punya sejarah itu, tapi kita punya sejarah atau bahkan kebiasaan: seringnya menyaksikan anggaran negara terbuang.
Bukan karena dibuat spanduk.
Tapi jauh lebih dahsyat dari itu, dirampok besar-besaran. Beragam modus dan motif, yang awalnya diklaim sesuai aturan.
Semisal membuat pengadaan besar-besaran. Yang kini, bahkan ikut menyeret kasus petinggi BGN.
Menyeret nama besar yang sering menjadi kebanggaan Presiden, kebanggaan Istana.
Ujungnya, toh tersangkut perkara kejahatan keuangan. Merugikan negara. Menyakiti rakyat Indonesia.
Kasus-kasus kejahatan finansial seperti sinetron yang terus berulang, terus terjadi dalam perjalanan birokrasi pemerintahan.
Kejahatan ini terjadi berulang-ulang, sejak dahulu kala. Berpindah dari desa ke kota, dari kota ke pusaran penguasa. Ke Istana.
Sampai ada pula yang nominalnya tak bisa dicerna logika: berbilang triliunan.
Serakahnya sudah di luar batas manusia.
Kekayaan alam Indonesia dan uang pajak rakyat sering digondol maling-maling berjubah Malaikat.
Para perampok berjubah itu, barangkali akan sadar, tapi mungkin sudah terlambat.
Sadarnya nanti, bisa jadi, jika sudah berhadapan dengan sosok Malaikat.
Malaikat maut, bernama Izrail. Mungkin.
Rudi Agung













