SMART RT – Universitas Mulia Balikpapan, yang dikenal dengan Kampus Putih, terus melakukan inovasi tiada henti.
Kali ini langkah yang ditempuh dengan membuka Kelas Eksekutif.
Kelas ini mengakomodir mereka yang ingin studi namun terbentur usia dan biaya.
Kelas Eksekutif dikhususkan untuk mengakomodir para Ketua RT, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, ibu-ibu PKK, dan para pekerja atau karyawan.
Kampus Putih Universitas Mulia pun memberi subsidi besar.
Sehingga para calon mahasiswa Kelas Eksekutif hanya membayar dengan biaya rendah yang terjangkau.
Kordinator Kelas Eksekutif Ketua RT dan Tokoh Masyarakat, Muslimin menerangkan Universitas Mulia ingin memberi perhatian lebih kepada Ketua RT, tokoh masyarakat dan ibu PKK.
“Kami ingin memberi perhatian lebih kepada mereka dengan membuka akses kemudahan kuliah di Kampus Putih,” jelas Muslimin, pada Selasa 21 Juli 2026 sore.
Langkah ini sekaligus sebagai cara Universitas Mulia meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di lingkungan terkecil kota ini.
Yakni dengan memberi kemudahan akses pendidikan bagi Ketua RT yang ingin mengambil gelar Sarjana.
Untuk sementara program studi yang dibuka baru dua kelas. “Studi manajemen dan hukum,” papar Muslimin.
Calon mahasiswa yang ingin kuliah di Universitas Mulia, cukup membayar biaya rendah. Di antaranya, uang pendaftaran Rp 400 ribu dan official cap Rp 2 juta.
Official cap ini untuk uang seragam, almamater, tas, dan perangkat kuliah lain. Ini hanya dibayar satu kali sampai lulus.
Adapun biaya UKT atau Uang Kuliah Tunggal, cukup membayar Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta.
Rinciannya untuk Ketua RT dan Ibu-ibu PKK cukup membayar Rp 2 ,5 juta, Tokoh Masyarakat Rp 3 juta dan untuk Karyawan Rp 5 juta.
Saat ditanya kenapa biayanya murah, Muslimin menjelaskan sisa biaya pendidikan lain disubsidi kampus.
“Seperti CSR lah, jadi kami mensubsidi mereka sebagai bentuk perhatian kampus kepada Ketua RT, ibu PKK, tokoh masyarakat dan karyawan,” ujar Muslimin.
Setahun total subsidi yang diploting kampus untuk pengembangan kualitas SDM Ketua RT ini mencapai Rp 360 juta.
Dengan asumsi, biaya ideal yang dibayarkan untuk UKT mereka seharusnya Rp 7 juta per mahasiswa. “Tapi sisanya kampus yang mensubsidi,” imbuh Muslimin.
Karena itu, ia mengajak Ketua RT, Ibu-ibu PKK, Tokoh Masyarakat dan Karyawan untuk segera mendaftarkan diri mereka ke Universitas Mulia.
“Pendaftaran masih kami buka sampai akhir Agustus 2026,” imbuhnya.
Menurut Muslimin, Kelas Eksekutif ini sudah berjalan tahun kedua.
Pembukaan awal tahun 2025, telah berhasil mengakomodir 30 mahasiswa dari Ketua RT dan karyawan. Tak dinyana, ternyata respon masyarakat positif sekali.
Melihat tingginya animo publik, Universitas Mulia memperluas jangkauan kemudahan akses pendidikan.
Mulai tahun ini, pendaftaran juga dibuka untuk Ibu-ibu PKK dan tokoh masyarakat serta tokoh agama dan organisasi masyarakat.
Ia mengingatkan, Kelas Eksekutif ini berbeda dengan program Gratispol. Sebab Gratispol ada batas usia, yang berlaku hanya untuk kelas reguler.
Adapun Kelas Eksekutif tak terbatas usia. Bahkan ada calon mahasiswa yang mendaftar meski usianya sudah 67 tahun.
Karena itu biaya subsidi dikeluarkan dari pihak Universitas Mulia. “Subsidi ini juga sebagai bentuk pengabdian kampus kepada masyarakat,” jelasnya.

Tetap 144 SKS
Kordinator Kelas Eksekutif Karyawan, yang juga Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, menambahkan kelas ini berbeda dengan reguler.
Untuk proses belajar mengajar tidak setiap hari. Tapi hanya Jumat dan Sabtu.
Ada kelas pagi dan sore. Untuk Jumat kelas berlangsung siang sampai malam, sedangkan Sabtu dari pagi sampai sore hari.
Bagaimana dengan jumlah SKS nya? Pudji menerangkan, tidak ada beda dengan mahasiswa umum kelas reguler.
“Tetap 144 SKS. Tidak ada pemangkasan, hanya saja jam belajarnya kita padatkan. Kami tetap menjaga kualitas pembelajaran,” tutur doktor Pudjiati.
Menurutnya Universitas Mulia tetap berjalan pada rel komitmen untuk mengabdi pada masyarakat.
“Kami memberi akses pendidikan yang mudah dan murah bagi masyarakat Balikpapan,” jelasnya.
Bagi Pudji, ketika seorang ketua RT memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka mereka akan lebih percaya diri untuk memimpin warga di lingkungannya.
Tapi, katanya, bukan itu tujuan utamanya.
“Niat besar kami adalah memberi perhatian kepada Ketua RT, Ibu PKK, tokoh masyarakat, ormas dan karyawan. Kami berkomitmen untuk berupaya meningkatkan kualitas pendidikan mereka,” imbuhnya.
Selama ini bentuk perhatian peningkatan kualitas pendidikan mereka, mungkin masih kurang didapatkan dari pihak lain.
Karena itu, Universitas Mulia hadir untuk mengisi kekosongan ini. Memberi mereka perhatian, meningkatkan kualitas SDM Balikpapan secara nyata, mudah dan murah.
Kelas Eksekutif yang mengakomodir tokoh-tokoh di lingkungan ini baru pertama kali dan satu-satunya di Balikpapan dan Kaltim.
“Coba cek apakah ada kampus lain yang mengakomodir mereka, rata-rata yang ada hanya kelas untuk karyawan,” jelasnya.
Itu pun lebih banyak kelas online. Sedangkan Kelas Eksekutif di Universitas Mulia Balikpapan, tetap didominasi dengan pembelajaran offline.
Sekitar 80 persen kelas tatap muka. Metode pembelajarannya pun berbeda.
“Kami lebih banyak bedah kasus. Apalagi masing-masing mahasiswa dari Ketua RT ini kan sudah banyak pengalamannya,” jelasnya.
Lantaran itu, metode yang digunakan didominasi bedah kasus. Saling berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama atas problematika yang mereka hadapi.
“Metodenya beda dengan kelas reguler yang diisi mahasiswa yang baru lulus SMA atau SMK. Kalau Kelas Eksekutif ini kan kebanyakan sudah kenyang pengalaman,” jelasnya.
Metode pembelajarannya pun juga berbeda. Dengan pola ini, pembelajaran jadi lebih mudah dipahami, seru dan menggembirakan.

Berlimpah Manfaat
Salah satu mahasiswa Kelas Eksekutif, Suharto, mengaku senang dengan Kampus Putih yang memudahkan akses pendidikan bagi warga.
Apalagi, katanya, biaya yang dibebankan sangat terjangkau. Selain itu, banyak manfaat yang ia dapatkan setelah kuliah dua semester.
“Meski baru kuliah dua semester tapi sangat berpengaruh dan bermanfaat terhadap wawasan dan kinerja saya di kehidupan sehari-hari,” kata Suharto.
Ia berkisah, sebenarnya telah meraih gelar Sarjana di bidang hukum. Sebelumnya Suharto studi di luar Kalimantan.
Selama ini ia aktif dalam dunia advokasi dan kegiatan-kegiatan Serikat Pekerja di Jakarta. Saat tahun lalu mendengar kabar Universitas Mulia membuka Kelas Eksekutif, ia tertarik.
Awalnya sempat bimbang antara memilih Universitas Terbuka atau Universitas Mulia. Namun saat mengetahui kelas offline nya lebih banyak, ia memilih Kampus Putih.
Lantas, kenapa tidak meneruskan ke jenjang Magister atau S2?
Ditanya itu, ia tersenyum. Kata Suharto, pertanyaan itu seringkali ia dapatkan dari teman dan koleganya.
Ia bilang, selama ini S1 yang diraihnya berlatar hukum. Baginya, masih perlu wawasan manajerial untuk mensupport usaha bisnisnya.
“Saya berpikir kalau hanya latar hukum saja masih kurang. Saya butuh keilmuan tentang manajerial,” jelasnya.
Suharto akhirnya memilih kuliah lagi di Universitas Mulia dengan mengambil Kelas Eksekutif jurusan Manajemen.
Apakah mengulang studi S1 tidak spending time dan spending money?
Suharto tegas menjawab, “Tidak. Bagi saya ini worth it. Penggabungan keilmuan hukum dan manajemen lebih berguna bagi kehidupan dan perkembangan usaha saya,” jelasnya.
Ia mencontohkan, kalau hukum hanya memberi pilihan benar atau salah. Semisal ada kasus karyawan yang bermasalah di kantor.
Dari kacamata hukum, pilihannya hanya benar dan salah. Misal ia melanggar Pasal sekian dalam regulasi yang diatur Undang-Undang ataupun aturan perusahaan.
Nah kalau dari sudut pandang manajerial, masih ada pilihan. “Tidak saklek benar atau salah. Tapi ada ruang klarifikasi, diskusi maupun negoisasi,” jelas Suharto.
Jadi, lanjutnya, perpaduan antara keilmuan hukum dan manajemen sangat ideal sekali.
“Nah saran saya untuk Universitas Mulia, kalau bisa kelasnya offline full saja. Kurangi kelas onlinenya, ini hanya saran loh,” tuturnya tertawa.
Ia pun menjelaskan alasan lebih suka kelas offline karena apa yang diterangkan dosen lebih mudah dipahami.
Apalagi, metode pembelajaran yang diberikan lewat bedah kasus. Cara ini dinilainya lebih menggembirakan dan mudah dipahami.
“Kalau online, kita kurang fokus menyimak materinya,” imbuh Suharto.
Untuk itu ia merasa senang kuliah di Universitas Mulia. “Kalau bisa kelasnya offline semua,” pesan Suharto yang juga didapuk sebagai Ketua Kelas Eksekutif jurusan Manajemen, angkatan 2025.
M. Taufik
Editor: Agung














