SMART RT — Di tengah pertumbuhan yang padat dengan permukiman, wilayah Kelurahan Telagasari, Kecamatan Balikpapan Kota, ketahanan pangan tidak selalu hadir dalam hamparan lahan luas.
Ia justru tumbuh dari lahan yang terbatas di pekarangan rumah warga, melalui konsep urban farming.
Urban farming atau pertanian perkotaan adalah praktik budidaya tanaman, pengolahan, hingga distribusi hasil pangan di lingkungan perkotaan yang padat dengan memanfaatkan lahan terbatas.
Di RT 33, misalnya, tanaman buah anggur menjadi salah satu daya tarik.
Buahnya berukuran kecil berwarna merah bercampur ungu memiliki rasa manis.
Saat mengunyahnya, lidah serasa bergoyang. Rasanya seperti buah ceri yang dulu di masa kecil jadi favorit anak-anak.
Tanaman itu dirawat warga dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah.
Lurah Telagasari Satya Nugraha, S.STP mengatakan, di wilayah Kelurahan Telagasari terdapat Kelompok Tani Poktan dengan konsep pemanfaatan lingkungan rumah.
“Selain buah anggur, ada juga yang menanam daun sop, cabai, tomat, dan terong,” jelasnya. Rabu, 9 September 2026.
Satya menilai, tanaman yang tumbuh di pekarangan warga memiliki arti lebih besar karena dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sekaligus menjadi bagian dari upaya menekan inflasi dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga.
“Ini termasuk upaya kita dalam menekan inflasi dari sektor terkecil, yakni lingkungan rumah warga,” kata Satya.
Kelurahan Telagasari memiliki karakter geografis berupa kawasan perbukitan.
Kondisi itu membuat gerakan ketahanan pangan secara terpusat di satu lokasi tidak mudah dilakukan.
Pilihan kemudian diarahkan pada pola tersebar, warga di beberapa RT memanfaatkan ruang yang mereka miliki.
Dari pola itu, pekarangan rumah berubah menjadi ruang produksi. Hasilnya dapat dikonsumsi keluarga atau dipasarkan.
Di RT 24, ada warga yang membibit Tanaman Obat Keluarga Toga, cabai, tomat, dan terong.
Lain lagi di RT 45, di sana, warga mengembangkan tanaman buah seperti kedondong dan jambu.
“Di RT 36 ada warga yang sistem hidroponik bahkan berkembang sampai menjadi pemasok tetap bagi Yova loh mas,” ungkap Satya.
Bank Indonesia BI juga mendukung Gerakan ketahanan pangan di lingkungan Kelurahan Telagasari melalui bantuan bibit cabai, terong, dan tomat.
Bagi warga, bantuan semacam ini membuka peluang untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangan dari lingkungan sendiri.
“Ketika pasokan tersedia di tingkat rumah tangga, jadi kan mereka gak khawatir Mas, kalau ada kebaikan harga di pasar bisa langsung petik di halaman mereka.”
Terkait tugas dan fungsi Lurah, Setya menegaskan perannya lebih banyak sebagai penghubung antara kebutuhan warga dan instansi yang memiliki program.
Kelurahan menyalurkan bantuan kepada warga yang siap menanam, sekaligus melakukan pendampingan dan memantau perkembangannya agar bantuan benar-benar tepat sasaran.
Ketahanan Pangan lewat Urban Farming
Semangat mengembangkan ketahanan pangan lewat urban farming, sejalan dengan dorongan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan DKP3 Kota Balikpapan terhadap pengembangan pertanian di perkotaan.
Kepala DKP3 Balikpapan Sri Wahjuningsih mengatakan, praktik urban farming mulai tumbuh di sejumlah kawasan permukiman dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan kosong untuk menghasilkan berbagai komoditas pangan.
Pemerintah kemudian memperluas gerakan tersebut dengan melibatkan kelompok masyarakat, RT, sekolah, hingga kelurahan.
Bantuan bibit cabai, tomat, terong, dan tanaman obat keluarga disiapkan untuk mendorong partisipasi masyarakat.
“Kami mendorong masyarakat memanfaatkan ruang yang tersedia, baik di halaman rumah maupun lingkungan sekitar. Pemerintah membantu melalui penyediaan bibit dan pendampingan,” ujar Sri.
Di Telagasari, ketahanan pangan tidak dimulai dari lahan yang luas.
Melainkan cukup dari kemauan warga menanam sayuran dan buah di pekarangan rumah dengan pendampingan dan bantuan yang tepat dari instansi terkait.
M. Taufik
Editor: Agung













