• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
smartrtku.com
Advertisement
  • SmartRTku
  • Berita RT
  • Profil RT
  • Kisah Warga
  • Cerita Kampus
  • Esai
  • UMKM
  • Layanan Warga
No Result
View All Result
  • SmartRTku
  • Berita RT
  • Profil RT
  • Kisah Warga
  • Cerita Kampus
  • Esai
  • UMKM
  • Layanan Warga
No Result
View All Result
smartrtku.com
No Result
View All Result
  • SmartRTku
  • Berita RT
  • Profil RT
  • Cerita Kampus
  • Kisah Warga
  • Esai
  • UMKM
  • Layanan Warga
Home Esai

Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban

Smart RTku by Smart RTku
September 11, 2026
in Esai
0
Jurnalis

Calon-calon jurnalis andal dari Universitas Mulia Balikpapan. (dok)

0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.

Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Saya duduk di antara mereka.

UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.

Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.

Wajar. Mereka baru mulai.

Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.

Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.

Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.

Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.

SmartRTku Berita RT Profil RT Cerita Kampus Kisah Warga Esai UMKM Layanan Warga
Home Esai
Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban
Editor Smart RTku by Editor Smart RTku September 11, 2026
Jurnalis
Calon-calon jurnalis andal dari Universitas Mulia Balikpapan. (dok)

0
SHARES
Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.

Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Saya duduk di antara mereka.

UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.

Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.

Wajar. Mereka baru mulai.

Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.

Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.

Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.

BACA JUGA  Seberapa Kuat

Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.

BACA JUGA Ketua RT 38 Telagasari: Kenapa Pengajuan Legalitas Tanah Warga Ditolak?
Mereka belajar sambil mengerjakan, dan mengerjakan sambil belajar.

Diskusi malam itu mengalir ringan. Jauh dari kesan formal ruang perpustakaan yang biasanya identik dengan bisik-bisik dan larangan berisik.

Tawa beberapa kali pecah. Saya bahkan sempat berharap tidak ada petugas perpustakaan yang datang menegur.

Sampai satu pertanyaan muncul.

“Siapa di antara rekan-rekan yang kenal dengan Meutia Hafidz?”

Pertanyaan biasa. Nama Meutia Hafidz tentu tidak asing bagi mereka yang mengikuti perjalanan jurnalistik nasional.

Namun jawaban malam itu sama sekali tidak biasa.

Tanpa jeda, seseorang langsung menjawab dengan santai:

“Saya, Pak.”

Ruangan langsung meledak.

Tawa pecah begitu saja.

Saya kemudian teringat satu hal: jurnalistik pada dasarnya bukan hanya soal menulis peristiwa besar. Ia juga tentang menangkap hal-hal kecil yang mudah lewat begitu saja.

Orang lain mungkin menyaksikan sebuah kejadian, tertawa, lalu melupakannya sebelum sampai di rumah.

Seorang jurnalis belajar melakukan hal sebaliknya: memperhatikan, mengingat, kemudian mengabadikannya dalam kata-kata.

Malam itu saya menyaksikan kejadian kecil yang sebenarnya tidak penting bagi dunia.

Sebuah pertanyaan random, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang perlahan hilang bersama waktu.

Kalau tidak ditulis, mungkin besok tidak ada lagi yang mengingat detailnya. Paling hanya tersisa kalimat, “Oh iya, malam itu lucu.”

Tetapi justru dari kejadian kecil semacam itu saya melihat sesuatu yang lebih penting.

Proses menjadi jurnalis tidak dimulai dari kesempurnaan.

Ia dimulai dari keberanian bertanya.

Dari rasa ingin tahu yang kadang terdengar naif. Dari kesalahan menyebut istilah.

Dari keberanian mengemukakan pendapat meski belum tentu benar.

Dan, tentu saja, dari kesediaan ditertawakan lalu tetap datang lagi pada pertemuan berikutnya.

Anak-anak muda itu mungkin belum hafal piramida terbalik. Mereka mungkin masih tertukar antara straight news dan feature.

Tetapi malam itu mereka sedang membangun sesuatu yang lebih mendasar: keberanian untuk berbicara dan merasa nyaman belajar bersama.

Dari sana, keterampilan jurnalistik akan tumbuh.

Begitu pula dengan karya.

Tentang anggota yang sudah menyelesaikan novel, saya melihat satu pelajaran sederhana: karya tidak selalu menunggu seseorang benar-benar siap.

Kadang karya justru lahir karena seseorang berani menyelesaikannya.

BACA JUGA  Kejar Akreditasi Unggul

SmartRTku Berita RT Profil RT Cerita Kampus Kisah Warga Esai UMKM Layanan Warga
Home Esai
Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban
Editor Smart RTku by Editor Smart RTku September 11, 2026
Jurnalis
Calon-calon jurnalis andal dari Universitas Mulia Balikpapan. (dok)

0
SHARES
Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.

Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.

Saya duduk di antara mereka.

UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.

Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.

Wajar. Mereka baru mulai.

Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.

Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.

Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.

Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.

BACA JUGA Ketua RT 38 Telagasari: Kenapa Pengajuan Legalitas Tanah Warga Ditolak?
Mereka belajar sambil mengerjakan, dan mengerjakan sambil belajar.

Diskusi malam itu mengalir ringan. Jauh dari kesan formal ruang perpustakaan yang biasanya identik dengan bisik-bisik dan larangan berisik.

Tawa beberapa kali pecah. Saya bahkan sempat berharap tidak ada petugas perpustakaan yang datang menegur.

Sampai satu pertanyaan muncul.

“Siapa di antara rekan-rekan yang kenal dengan Meutia Hafidz?”

Pertanyaan biasa. Nama Meutia Hafidz tentu tidak asing bagi mereka yang mengikuti perjalanan jurnalistik nasional.

Namun jawaban malam itu sama sekali tidak biasa.

Tanpa jeda, seseorang langsung menjawab dengan santai:

“Saya, Pak.”

Ruangan langsung meledak.

Tawa pecah begitu saja.

Saya kemudian teringat satu hal: jurnalistik pada dasarnya bukan hanya soal menulis peristiwa besar. Ia juga tentang menangkap hal-hal kecil yang mudah lewat begitu saja.

Orang lain mungkin menyaksikan sebuah kejadian, tertawa, lalu melupakannya sebelum sampai di rumah.

Seorang jurnalis belajar melakukan hal sebaliknya: memperhatikan, mengingat, kemudian mengabadikannya dalam kata-kata.

BACA JUGA  Mungkin 

Malam itu saya menyaksikan kejadian kecil yang sebenarnya tidak penting bagi dunia.

BACA JUGA Alur Lengkap Mengurus Surat Nikah
Sebuah pertanyaan random, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang perlahan hilang bersama waktu.

Kalau tidak ditulis, mungkin besok tidak ada lagi yang mengingat detailnya. Paling hanya tersisa kalimat, “Oh iya, malam itu lucu.”

Tetapi justru dari kejadian kecil semacam itu saya melihat sesuatu yang lebih penting.

Proses menjadi jurnalis tidak dimulai dari kesempurnaan.

Ia dimulai dari keberanian bertanya.

Dari rasa ingin tahu yang kadang terdengar naif. Dari kesalahan menyebut istilah.

Dari keberanian mengemukakan pendapat meski belum tentu benar.

Dan, tentu saja, dari kesediaan ditertawakan lalu tetap datang lagi pada pertemuan berikutnya.

Anak-anak muda itu mungkin belum hafal piramida terbalik. Mereka mungkin masih tertukar antara straight news dan feature.

Tetapi malam itu mereka sedang membangun sesuatu yang lebih mendasar: keberanian untuk berbicara dan merasa nyaman belajar bersama.

Dari sana, keterampilan jurnalistik akan tumbuh.

Begitu pula dengan karya.

Tentang anggota yang sudah menyelesaikan novel, saya melihat satu pelajaran sederhana: karya tidak selalu menunggu seseorang benar-benar siap.

Kadang karya justru lahir karena seseorang berani menyelesaikannya.

BACA JUGA 2708
Bukan karena ia paling pintar.

Bukan karena ia sudah menguasai semuanya.

Tetapi karena ia mau menuntaskan apa yang sudah dimulai.

Jam bergerak menuju pukul delapan dua puluh menit, perpustakaan yang biasanya identik dengan kesunyian, malam itu menjadi ruang kecil tempat tawa, pertanyaan, dan proses belajar berdiri berdampingan.

Barangkali begitulah jurnalistik seharusnya tumbuh.

Tidak selalu dari ruang redaksi yang penuh tekanan. Tidak selalu dari konferensi pers atau peristiwa besar.

Kadang ia tumbuh dari ruang perpustakaan yang hampir kosong, dari anak-anak muda yang masih belajar membedakan berita dan gosip, dari sebuah novel yang sudah selesai, dan bahkan dari sebuah jawaban spontan yang membuat satu ruangan tertawa.

Jumat malam ini saya tidak pulang membawa berita besar.

Saya hanya membawa satu catatan kecil: bahwa dari sebuah pertanyaan konyol tentang nama, saya kembali menemukan alasan mengapa masih betah berada di ruang-ruang seperti ini.

Nenyaksikan yang muda bertumbuh, sambil diam-diam belajar bahwa dalam jurnalistik, kita tidak harus selalu serius untuk menemukan sesuatu yang layak ditulis.

Bung Rico Alfransisco

Tags: Smartrtku.comUKM JurnalistikUniversitas Mulia
Previous Post

Urban Farming dari Pekarangan Rumah Warga Telagasari Balikpapan

Next Post

UKM Jurnalistik UM Bangkit Kembali

Smart RTku

Smart RTku

Next Post
Jurnalis andal

UKM Jurnalistik UM Bangkit Kembali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Universitas Mulia

Tingkatkan SDM Ketua RT, Universitas Mulia Buka Kelas Eksekutif Berbiaya Murah

Juli 22, 2026
Cerita Kampus

Bank Sampah Jadi Program Unggulan KKN Universitas Mulia di RT 52 Muara Rapak

Agustus 26, 2026
Taman Hutan Kota

Ketua RT Minta Taman Hutan Kota Balikpapan Perlu Dikembangkan

Agustus 11, 2026
Ketua RT Balikpapan

Ketua RT 24 Kasmiran, Perantau Banyuwangi  Tata Permukiman Warga Balikpapan

Agustus 13, 2026
Taman Hutan Kota

Ketua RT Minta Taman Hutan Kota Balikpapan Perlu Dikembangkan

1

The Legend of Zelda: Breath of the Wild gameplay on the Nintendo Switch

0

Shadow Tactics: Blades of the Shogun Review

0

Hands on: Samsung Galaxy A5 2017 review

0
KTP

KTP Hilang? Begini Cara Mengurusnya

September 12, 2026
Jurnalis andal

UKM Jurnalistik UM Bangkit Kembali

September 12, 2026
Jurnalis

Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban

September 11, 2026
Lurah Telagasari Satya Nugraha

Urban Farming dari Pekarangan Rumah Warga Telagasari Balikpapan

September 10, 2026

Recent News

KTP

KTP Hilang? Begini Cara Mengurusnya

September 12, 2026
Jurnalis andal

UKM Jurnalistik UM Bangkit Kembali

September 12, 2026
Jurnalis

Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban

September 11, 2026
Lurah Telagasari Satya Nugraha

Urban Farming dari Pekarangan Rumah Warga Telagasari Balikpapan

September 10, 2026
smartrtku.com

Media pertama yang fokus terhadap pemberitaan lingkungan RT di Kota Balikpapan, Kaltim.

Menyajikan beragam rubrikasi dengan mengangkat isu-isu seputar RT dan kampus. Mengudara di bawah bendera Domain Media Mulia.

Follow Us

Alamat Redaksi

Jl. Letjen Z.A. Maulani No. 9, Kelurahan Damai Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Telp. 0542-766766

Kerjasama:
CP: +62 822-9986-7079

Email:
redaksi@smartrtku.com

kerjasama@smartrtku.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Pemberitaan Ramah Anak
  • Etika Penggunaan AI
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami

Copyright © 2025 SmartRtku.com – Domain Media Mulia. All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • SmartRTku
  • Berita RT
  • Profil RT
  • Cerita Kampus
  • Kisah Warga
  • Esai
  • UMKM
  • Layanan Warga

Copyright © 2025 SmartRtku.com – Domain Media Mulia. All Right Reserved.