Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.
Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.
Saya duduk di antara mereka.
UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.
Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.
Wajar. Mereka baru mulai.
Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.
Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.
Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.
Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.
SmartRTku Berita RT Profil RT Cerita Kampus Kisah Warga Esai UMKM Layanan Warga
Home Esai
Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban
Editor Smart RTku by Editor Smart RTku September 11, 2026
Jurnalis
Calon-calon jurnalis andal dari Universitas Mulia Balikpapan. (dok)
0
SHARES
Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.
Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.
Saya duduk di antara mereka.
UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.
Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.
Wajar. Mereka baru mulai.
Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.
Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.
Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.
Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.
BACA JUGA Ketua RT 38 Telagasari: Kenapa Pengajuan Legalitas Tanah Warga Ditolak?
Mereka belajar sambil mengerjakan, dan mengerjakan sambil belajar.
Diskusi malam itu mengalir ringan. Jauh dari kesan formal ruang perpustakaan yang biasanya identik dengan bisik-bisik dan larangan berisik.
Tawa beberapa kali pecah. Saya bahkan sempat berharap tidak ada petugas perpustakaan yang datang menegur.
Sampai satu pertanyaan muncul.
“Siapa di antara rekan-rekan yang kenal dengan Meutia Hafidz?”
Pertanyaan biasa. Nama Meutia Hafidz tentu tidak asing bagi mereka yang mengikuti perjalanan jurnalistik nasional.
Namun jawaban malam itu sama sekali tidak biasa.
Tanpa jeda, seseorang langsung menjawab dengan santai:
“Saya, Pak.”
Ruangan langsung meledak.
Tawa pecah begitu saja.
Saya kemudian teringat satu hal: jurnalistik pada dasarnya bukan hanya soal menulis peristiwa besar. Ia juga tentang menangkap hal-hal kecil yang mudah lewat begitu saja.
Orang lain mungkin menyaksikan sebuah kejadian, tertawa, lalu melupakannya sebelum sampai di rumah.
Seorang jurnalis belajar melakukan hal sebaliknya: memperhatikan, mengingat, kemudian mengabadikannya dalam kata-kata.
Malam itu saya menyaksikan kejadian kecil yang sebenarnya tidak penting bagi dunia.
Sebuah pertanyaan random, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang perlahan hilang bersama waktu.
Kalau tidak ditulis, mungkin besok tidak ada lagi yang mengingat detailnya. Paling hanya tersisa kalimat, “Oh iya, malam itu lucu.”
Tetapi justru dari kejadian kecil semacam itu saya melihat sesuatu yang lebih penting.
Proses menjadi jurnalis tidak dimulai dari kesempurnaan.
Ia dimulai dari keberanian bertanya.
Dari rasa ingin tahu yang kadang terdengar naif. Dari kesalahan menyebut istilah.
Dari keberanian mengemukakan pendapat meski belum tentu benar.
Dan, tentu saja, dari kesediaan ditertawakan lalu tetap datang lagi pada pertemuan berikutnya.
Anak-anak muda itu mungkin belum hafal piramida terbalik. Mereka mungkin masih tertukar antara straight news dan feature.
Tetapi malam itu mereka sedang membangun sesuatu yang lebih mendasar: keberanian untuk berbicara dan merasa nyaman belajar bersama.
Dari sana, keterampilan jurnalistik akan tumbuh.
Begitu pula dengan karya.
Tentang anggota yang sudah menyelesaikan novel, saya melihat satu pelajaran sederhana: karya tidak selalu menunggu seseorang benar-benar siap.
Kadang karya justru lahir karena seseorang berani menyelesaikannya.
SmartRTku Berita RT Profil RT Cerita Kampus Kisah Warga Esai UMKM Layanan Warga
Home Esai
Saat Jurnalistik Dimulai dari Jawaban
Editor Smart RTku by Editor Smart RTku September 11, 2026
Jurnalis
Calon-calon jurnalis andal dari Universitas Mulia Balikpapan. (dok)
0
SHARES
Malam ini, Jumat, 11 September 2026, pukul 19.20 WITA. Perpustakaan Universitas Mulia sudah lengang darmahasiswa reguler yang biasa mengejar deadline tugas.
Lampu-lampu di rak buku mulai diredupkan petugas. Namun di satu sudut ruang diskusi, cahaya masih menyala penuh—menemani sekumpulan anak muda yang baru saja jatuh cinta pada dunia jurnalistik.
Saya duduk di antara mereka.
UKM Jurnalistik Universitas Mulia, generasi yang masih hijau, masih meraba-raba: apa itu lead, apa bedanya feature dengan straight news.
Kapan sebuah kejadian layak disebut berita dan kapan cuma gosip warung kopi yang dibungkus rapi.
Wajar. Mereka baru mulai.
Tapi justru di situlah menariknya. Melihat mata yang berbinar setiap kali menemukan istilah baru, meski lidah masih sering keseleo menyebutnya.
Di antara mereka, diam-diam ada satu nama yang punya jejak berbeda. Seorang anggota bukan sekadar peserta diskusi.
Ia sudah menyelesaikan sebuah novel. Bukan sekadar rencana atau draft yang mangkrak di folder laptop, tetapi karya yang benar-benar selesai.
Saya kira di situlah salah satu hal menarik dari generasi ini: mereka tidak selalu menunggu merasa matang untuk mulai berkarya.
BACA JUGA Ketua RT 38 Telagasari: Kenapa Pengajuan Legalitas Tanah Warga Ditolak?
Mereka belajar sambil mengerjakan, dan mengerjakan sambil belajar.
Diskusi malam itu mengalir ringan. Jauh dari kesan formal ruang perpustakaan yang biasanya identik dengan bisik-bisik dan larangan berisik.
Tawa beberapa kali pecah. Saya bahkan sempat berharap tidak ada petugas perpustakaan yang datang menegur.
Sampai satu pertanyaan muncul.
“Siapa di antara rekan-rekan yang kenal dengan Meutia Hafidz?”
Pertanyaan biasa. Nama Meutia Hafidz tentu tidak asing bagi mereka yang mengikuti perjalanan jurnalistik nasional.
Namun jawaban malam itu sama sekali tidak biasa.
Tanpa jeda, seseorang langsung menjawab dengan santai:
“Saya, Pak.”
Ruangan langsung meledak.
Tawa pecah begitu saja.
Saya kemudian teringat satu hal: jurnalistik pada dasarnya bukan hanya soal menulis peristiwa besar. Ia juga tentang menangkap hal-hal kecil yang mudah lewat begitu saja.
Orang lain mungkin menyaksikan sebuah kejadian, tertawa, lalu melupakannya sebelum sampai di rumah.
Seorang jurnalis belajar melakukan hal sebaliknya: memperhatikan, mengingat, kemudian mengabadikannya dalam kata-kata.
Malam itu saya menyaksikan kejadian kecil yang sebenarnya tidak penting bagi dunia.
BACA JUGA Alur Lengkap Mengurus Surat Nikah
Sebuah pertanyaan random, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang perlahan hilang bersama waktu.
Kalau tidak ditulis, mungkin besok tidak ada lagi yang mengingat detailnya. Paling hanya tersisa kalimat, “Oh iya, malam itu lucu.”
Tetapi justru dari kejadian kecil semacam itu saya melihat sesuatu yang lebih penting.
Proses menjadi jurnalis tidak dimulai dari kesempurnaan.
Ia dimulai dari keberanian bertanya.
Dari rasa ingin tahu yang kadang terdengar naif. Dari kesalahan menyebut istilah.
Dari keberanian mengemukakan pendapat meski belum tentu benar.
Dan, tentu saja, dari kesediaan ditertawakan lalu tetap datang lagi pada pertemuan berikutnya.
Anak-anak muda itu mungkin belum hafal piramida terbalik. Mereka mungkin masih tertukar antara straight news dan feature.
Tetapi malam itu mereka sedang membangun sesuatu yang lebih mendasar: keberanian untuk berbicara dan merasa nyaman belajar bersama.
Dari sana, keterampilan jurnalistik akan tumbuh.
Begitu pula dengan karya.
Tentang anggota yang sudah menyelesaikan novel, saya melihat satu pelajaran sederhana: karya tidak selalu menunggu seseorang benar-benar siap.
Kadang karya justru lahir karena seseorang berani menyelesaikannya.
BACA JUGA 2708
Bukan karena ia paling pintar.
Bukan karena ia sudah menguasai semuanya.
Tetapi karena ia mau menuntaskan apa yang sudah dimulai.
Jam bergerak menuju pukul delapan dua puluh menit, perpustakaan yang biasanya identik dengan kesunyian, malam itu menjadi ruang kecil tempat tawa, pertanyaan, dan proses belajar berdiri berdampingan.
Barangkali begitulah jurnalistik seharusnya tumbuh.
Tidak selalu dari ruang redaksi yang penuh tekanan. Tidak selalu dari konferensi pers atau peristiwa besar.
Kadang ia tumbuh dari ruang perpustakaan yang hampir kosong, dari anak-anak muda yang masih belajar membedakan berita dan gosip, dari sebuah novel yang sudah selesai, dan bahkan dari sebuah jawaban spontan yang membuat satu ruangan tertawa.
Jumat malam ini saya tidak pulang membawa berita besar.
Saya hanya membawa satu catatan kecil: bahwa dari sebuah pertanyaan konyol tentang nama, saya kembali menemukan alasan mengapa masih betah berada di ruang-ruang seperti ini.
Nenyaksikan yang muda bertumbuh, sambil diam-diam belajar bahwa dalam jurnalistik, kita tidak harus selalu serius untuk menemukan sesuatu yang layak ditulis.
Bung Rico Alfransisco













