SMART RT – Supardi lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan. Pria berusia 63 tahun itu menghabiskan sebagian hidupnya berpindah dari satu daerah ke daerah lain, sebelum akhirnya menetap di Balikpapan.
Ia pun dipercaya menjadi Ketua RT 05, Gang Mufakat II, Kelurahan Damai Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan.
Supardi menyelesaikan pendidikan SMA di Martapura pada 1984. Dua tahun kemudian, ia mengikuti kursus di Samarinda sebelum bekerja di Bontang.
Perjalanan kerjanya berlanjut ke Gunung Bakaran, Kota Baru, hingga Satui, Kalimantan Selatan.
Setelah pensiun, Supardi memilih menetap di Balikpapan sejak 2014. Ia tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang berada tidak jauh dari kawasan Gang Mufakat II.
Selain menjadi ketua RT, Sapardi juga menjalankan aktivitas sebagai marbot.
Dua peran tersebut membuat kesehariannya banyak dihabiskan untuk mengurus lingkungan dan melayani kebutuhan warga.
Ia dipercaya memimpin RT 05 untuk periode 2025-2030.
Sebelumnya, Supardi sempat menggantikan ketua RT lama yang meninggal dunia sebelum masa jabatannya berakhir.
Dalam pemilihan berikutnya, ia kembali dipercaya karena minimnya warga yang bersedia mencalonkan diri.
Di wilayah yang dipimpinnya, banjir bukan persoalan baru. Sapardi mengingat, genangan sudah terjadi sejak sebelum dirinya menetap di kawasan tersebut.
Salah satu kejadian yang paling diingatnya berlangsung pada 2012. Saat itu, air sempat masuk hingga ke area musala.
Sejak kejadian tersebut, warga mulai memahami titik-titik yang lebih aman ketika banjir datang.
Kini, banjir biasanya terjadi ketika hujan deras bertepatan dengan air pasang tinggi. Kondisi itu membuat warga harus selalu waspada, termasuk ketika malam hari.
“Kalau sudah hujan deras sama indikasi air laut naik, sudah tidak berani tidur,” ujar Supardi.
Warga yang masih bekerja sering kali harus pulang untuk mengamankan barang-barang di rumah.
Sedangkan mereka yang beristirahat harus bangun dan bersiap ketika air mulai naik.
Sapardi bersama warga melakukan pemantauan melalui grup komunikasi.
Informasi mengenai kondisi hujan dan pasang surut air laut dibagikan agar warga dapat mengetahui apakah situasi masih aman atau perlu mulai melakukan evakuasi barang.
Pemantauan juga dibantu kamera CCTV yang mengarah ke kawasan sungai. Sebelumnya, warga mengandalkan informasi dari warga lain yang tinggal di sekitar aliran air.
Dampak banjir paling terasa ketika air mulai masuk ke dalam rumah. Sejumlah perabot seperti kasur, kulkas, barang elektronik, hingga kendaraan dapat terdampak genangan.
Supardi menyebut, ketika air di kawasan sungai sudah mencapai sekitar lutut orang dewasa, genangan di rumah warga bisa lebih tinggi.
Di sejumlah rumah, air bahkan dapat mencapai sekitar pinggang.
Kondisi itu membuat warga harus memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
Namun, tidak semua benda dapat diselamatkan.
Kasur dan perabot besar biasanya tetap terdampak dan membutuhkan waktu untuk dikeringkan setelah banjir surut.
Pada 2024, Supardi juga mengingat adanya warga yang harus dievakuasi karena kondisi sakit dan tidak dapat bergerak sendiri.
Tim pemerintah datang menggunakan perahu untuk membantu proses evakuasi menuju kawasan yang lebih aman.
Setelah banjir berlalu, warga masih harus menghadapi pekerjaan lain.
Rumah perlu dibersihkan, kasur dijemur, dan sampah yang terbawa arus harus dikeluarkan dari lingkungan.
Supardi mengatakan, warga terkadang harus mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp400 ribu untuk membersihkan sampah yang terbawa banjir.
Kerusakan barang-barang rumah tangga juga menjadi beban yang harus ditanggung masing-masing keluarga.
Menurut Sapardi, banjir di Gang Mufakat II tidak bisa hanya dilihat dari kondisi permukiman. Ia menilai perkembangan pembangunan di wilayah hulu ikut memengaruhi aliran air menuju kawasan hilir.
Perumahan dan pembukaan lahan yang terus bertambah membuat area resapan air semakin berkurang. Air hujan kemudian lebih cepat mengalir menuju sungai.
Supardi menyebut, aliran air dari sejumlah kawasan seperti Kilo, Kampung Timur, dan Sungai Ampal bermuara ke wilayah hilir di sekitar permukiman warga.

Saat Sungai seperti Jalan Raya
Ia mengibaratkan sungai seperti jalan raya. Ketika jumlah kendaraan bertambah, tetapi kapasitas jalan tidak diperluas, kemacetan akan terjadi.
“Kalau perumahan dan lain sebagainya bertambah, lebar sungai tidak ditambah, airnya tidak bisa masuk ke sungai,” katanya.
Karena itu, Supardi menilai pembangunan perlu disertai pengawasan sejak awal.
Menurutnya, persoalan banjir tidak seharusnya baru diperdebatkan setelah warga mengalami kerugian.
Supardi juga menyoroti keberadaan rumah pompa di kawasan Sungai Ampal. Ia mengingat kejadian pada 2024 ketika genangan bertahan sejak subuh hingga malam hari.
Menurut pengamatannya, debit air yang datang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pompa. Ia juga melihat perbedaan ketinggian air di sisi sebelum dan sesudah rumah pompa.
Setelah kejadian tersebut, dibuat jalur tambahan untuk membantu memperlancar aliran air.
Supardi menilai langkah itu membuat air lebih cepat surut pada banjir berikutnya.
Namun, ia tetap berharap ada penanganan jangka panjang melalui pelebaran sungai dan saluran air. Menurutnya, kapasitas sungai harus disesuaikan dengan perkembangan kawasan di bagian hulu.
Dalam penjelasan Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan pada Agustus 2024, rumah pompa di hilir Sungai Ampal salah satu upaya penanganan banjir jangka pendek.
Saat itu, operasional rumah pompa sempat terganggu akibat tumpukan sampah yang terbawa arus, mulai dari botol, sofa, kasur, hingga tandon air.
DPU juga menyebut pelebaran saluran dari kawasan Beller menuju Jalan Penegak membutuhkan anggaran sekitar Rp1 triliun.
Rinciannya terdiri dari pembebasan lahan sekitar Rp600 miliar dan pembangunan saluran sekitar Rp400 miliar.
Selain banjir, persoalan keamanan lingkungan menjadi salah satu tanggung jawab Sapardi sebagai ketua RT. Salah satu yang paling sering dihadapinya adalah pelaksanaan jadwal jaga malam.
Ia menuturkan, jadwal yang dibuat tanpa pemantauan sering kali tidak berjalan adil. Ada warga yang menjalankan tugas, sebagian lainnya tidak hadir.
Maka dari itu, ia membuat jadwal jaga malam dan membagikannya melalui grup warga. Pelaksanaan jadwal kemudian dipantau dan diingatkan kembali.
“Jaga malam itu susah kalau tidak selalu diingatkan,” imbuhnya.
Supardi berharap sistem tersebut dapat membuat warga lebih bertanggung jawab dan tidak membebankan tugas keamanan hanya kepada beberapa orang.
Di luar persoalan keamanan dan banjir, kegiatan warga tetap berjalan. Gotong royong dilakukan sekitar tiga bulan sekali.
Warga juga berkumpul dalam kegiatan keagamaan, seperti peringatan Maulid dan kegiatan PHBI.
Gang Mufakat II dihuni warga dengan latar belakang beragam. Ada pegawai negeri, karyawan, pedagang, serta keluarga yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Supardi menyebut sebagian warga sudah menempati kawasan itu sejak sekitar 1980-an.
Hubungan antarwarga terbentuk dari kehidupan lingkungan yang berlangsung cukup lama, meski tidak semua warga aktif berkumpul dalam setiap kegiatan.
Bagi Supardi, menjadi ketua RT membuat tanggung jawabnya bertambah. Persoalan warga bisa datang kapan saja, termasuk ketika malam telah larut.
“Kalau RT malah lebih, 24 jam kita,” ungkapnya.
Meski demikian, Supardi memilih menjalankan tugasnya dengan cara sederhana.
Dengan terus memantau kondisi lingkungan, mengingatkan warga, dan mencari jalan keluar bersama.
Di tengah banjir yang belum sepenuhnya teratasi, ia tetap menjadi salah satu warga yang berdiri paling dekat dengan persoalan sehari-hari di Gang Mufakat II.
Caca/ M. Taufik
Editor: Agung













