SMART RT – Matahari mulai terbenam di Barat, ketika Gandung Kiswanto berbincang di pelataran Cafe BTS View di laman belakang Kantor Kelurahan Telagasari.
Gandung Kiswanto sudah tiga kali memegang amanah sebagai Ketua RT45 Telagasari, Balikpapan Kota.
Ia juga diamanahi sebagai Ketua LPM setempat. Di cafe BTS View, kisah panjang tentang lingkungan yang ia pimpin mengalir.
Pria yang karib disapa Gandung telah dipercaya menjadi Ketua RT 45 Kelurahan Telagasari, sejak tahun 2018 silam.
Ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, sejak tahun 2024.
Jauh sebelum semua aktivitas kemasyarakatan itu menjadi bagian dari kehidupannya, Gandung adalah seorang perantau dari Magelang, Jawa Tengah, yang lahir pada 1973.
Gandung eninggalkan kampung halaman pada usia 26 tahun, tepatnya pada 1999, ketika masih bujang.
Saat itu, ia dimutasi sebuah perusahaan pelayaran di Surabaya ke Balikpapan untuk membuka rute baru distribusi logistik.
Berbekal latar belakang Akademi Pelayaran, ia kemudian menjelajahi berbagai kota dan kabupaten di Kalimantan Timur untuk mencari pasar, penumpang, dan angkutan logistik.
Perjalanan itu membawanya merintis rute antarpulau menggunakan kapal feri di Kalimantan Timur.
Rintisan itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju sistem transportasi yang kini dikenal sebagai ASDP.
Pada akhir 2002, ia kembali membuka lintasan Balikpapan-Parepare dengan mengangkut komoditas jeruk sekaligus penumpang. Medan perjalanan tidak selalu mudah.
Jalan umum di sejumlah wilayah Kalimantan Timur kala itu masih terbatas, tetapi Gandung terus bergerak mencari peluang.
Hasil kerjanya membuahkan, ia berhasil menemukan pasar dengan pertumbuhan penumpang yang pesat.
Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pelayaran, ia akhirnya memilih mengundurkan diri dan mencoba usaha lain yang masih tidak jauh dari bidang tersebut.
Uang Sangu Sekolah untuk Beli Koran
Gandung memiliki kebiasaan membaca yang tumbuh sejak Sekolah Dasar.
Hobi ini membentuk pemikirannya mengenal dunia luar. Ketika anak-anak seusianya mungkin menggunakan uang saku untuk hal lain, ia justru kerap menyisihkannya untuk membeli koran.
Rasa penasarannya terhadap berita dan peristiwa terkini membuat membaca menjadi kebiasaan yang terus terbawa hingga dewasa.
“Rasa penasaran saya yah cukup besar mas, itu yang membuat saya hobi baca,” ungkapnya mengenang masa lalu.
Ia mengenang masa kecilnya yang begitu menyenangkan. Katanya, sejak sekolah sudah punya hobi membaca.
“Saya orangnya penasaran, jadi suka banget membaca,” cerita Gandung.
Bahkan, kenangnya, ia masih ingat betul di masa sekolah seringkali ke tempat loper koran.
Saban pulang sekolah di daerah asalnya dulu, Magelang Jawa Tengah, Gandung kerap mampir ke tukang koran.
“Hampir tiap hari membeli koran. Dikasih sangu (saku) untuk koran, jadi uang sangu bukan untuk jajan tapi saya belikan koran,” kenangnya.
Gandung berkisah, koran yang sering dibaca Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat dan koran-koran besar di Jawa Tengah di masa itu.
Gandung Kiswanto, anak bontot dari 7 bersaudara. Ayahnya dulu bekerja sebagai PNS di Departemen Penerangan era pak Harmoko.
“Dulu tertarik banget ngikutin berita-berita, apalagi pas ada Perang Teluk,” ingatnya.
Sebagai pengingat, Perang Teluk I terjadi era 1980-1988 antara Irak vs Iran.
Perang Teluk II era 1990-1991 antara Kuwait melawan Amerika dan negara koalisi mereka.
Kini, perjalanan hidupnya telah membawa Gandung pada peran yang berbeda.
Ia menjadi ayah dari tiga buah hati.
Anak pertama kuliah di Yogyakarta, anak kedua menempuh pendidikan di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, dan anak ketiga duduk di kelas 12 SMAN 1 Balikpapan.
Dari seorang perantau yang datang untuk membuka jalur pelayaran, Gandung akhirnya menemukan jalur pengabdian di lingkungan tempat ia tinggal.
Tiga periode memimpin RT 45 baginya bukan sekadar waktu.
Melainkan perjalanan untuk membuktikan bahwa sebuah lingkungan dapat berubah ketika warganya mau bergerak bersama.
“Nothing, tulus aja.” Kalimat sederhana itu seolah menjadi benang merah perjalanan Gandung.
Ia meyakini pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar dan perhatian khalayak ramai.
Sebab, terkadang perubahan justru dimulai dari seseorang yang bersedia bekerja dengan tulus.
Mengayomi Warga, Memanusiakan Manusia
Bagi Gandung, menjadi ketua RT bukanlah pekerjaan yang cukup diselesaikan hanya dengan menandatangani surat atau mengurus administrasi warga.
Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni memastikan lingkungan tempat masyarakat tinggal terus bergerak menuju perubahan.
Membangun hubungan dengan manusia di dalamnya juga menjadi faktor utama dalam membangun dan mengembangkan lingkungan.
RT 45 dihuni sekitar 150 kepala keluarga dengan mayoritas warga berprofesi sebagai pedagang.
Masing-masing memiliki karakter, kesibukan, dan cara pandang yang berbeda.
Gandung memilih pendekatan personal dalam menghadapi keberagaman tersebut.
Prinsip yang ia pegang dalam menghadapi warganya dengan “Memanusiakan manusia,” ungkap Gandung, sembari melempar senyum.
Gandung percaya, seorang ketua RT harus meninggalkan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan warganya.
Administrasi, menurutnya, kewajiban yang memang harus dijalankan.
Namun, tugas seorang ketua RT tidak seharusnya berhenti di sana.
Ia ingin melihat lingkungan RT 45 berkembang, memiliki fasilitas yang lebih baik, akses masyarakat yang semakin mudah.
Sekaligua kegiatan sosial yang mampu menjaga kebersamaan antarwarga.
“Tidak hanya urusan administrasi Mas, keinginan membangun lingkungan dan kebersamaan. Salah satu motivasi saya jadi ketua RT pokoknya nothing to lose.”
Keterlibatan Gandung di tengah masyarakat sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Ketika mulai tinggal di Telagasari pada 2013, ia tidak langsung tampil sebagai tokoh masyarakat.
Gandung terlebih dahulu menjadi warga biasa di RT 45, mengamati kehidupan sekitar dan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.
Hingga suatu ketika, warga mempercayainya untuk memimpin RT 45.
Amanah tersebut justru membuatnya sempat bertanya kepada diri sendiri. Tanggung jawab yang berada di pundaknya terasa begitu besar.
“Awalnya saya berpikir, apakah saya sanggup membawa amanah warga yang begitu besar,” ucap Gandung.
Namun, pertanyaan itu menjadi pemantik baginya untuk belajar, bergerak, dan mencari jalan agar kepercayaan warga tidak berakhir sebagai sekadar jabatan.
Langkah pertama yang ia pikirkan memajukan pembangunan. Gandung mulai mencari jaringan dan membuka komunikasi dengan berbagai pihak yang dinilai dapat membantu pengembangan lingkungan RT 45.
Ia membangun hubungan dengan pihak terkait hingga anggota DPRD Balikpapan, yakni Doris.
Perubahan kemudian mulai terlihat di lingkungan RT 45, diantaranya,.dainase yang dahulu masih dibuat sederhana menggunakan kayu, sekarang dibenahi.
Jalan yang sebelumnya dibangun dengan kondisi seadanya juga terus diperbaiki melalui semenisasi.
Penerangan Jalan Umum di bahu jalan permukiman warg, begitu pula akses masyarakat.
“Yang sangat dirasakan manfaatnya oleh warga salah satunya pembukaan jalan baru itu Mas, sebagai akses warga, kita kasih nama jalan Golkar.”
Namun, membangun lingkungan tidak hanya membutuhkan infrastruktur.
Semangat kebersamaan juga perlu dibangun hingga tumbuh melalui berbagai kegiatan.
Seperti pengajian rutin yang digelar secara bergiliran dari rumah ke rumah warga menggunakan dana swadaya.
Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bertemu dan mempererat hubungan.
Kelompok ibu-ibu PKK tetap berjalan, begitu pula kegiatan Dasawisma setiap tanggal 8 dan 9 serta Posyandu yang rutin melaksanakan penimbangan.
Kepedulian terhadap lingkungan di RT 45 juga sudah diterapkan melalui Bank Sampah Sumber Berkah.
Sampah dari rumah warga dikumpulkan untuk kemudian dijual, sementara hasilnya dikembalikan lagi kepada warga.
Bank sampah tersebut mendapat pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.
“Di Kelurahan Telagasari kalau tidak salah hanya ada dua yang masih jalan, di RT 38 dan RT 45,” ungkap Gandung.
Selain itu, terdapat pula Kelompok Swadaya Masyarakat dengan rumah maggot yang memanfaatkan limbah rumah tangga.
Petugasnya berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengambil limbah warga. Ada banyak perubahan positif di lingkungan RT45.
Meski begitu, Gandung tak berhenti. Bersama warganya terus berbenah. Memperindah lingkungan, menguatkan persatuan.
M. Taufik
Editor: Agung













