SMART RT– Bagi Ketua RT 64 di Sepinggan Pratama, Aliy Syauqi, lingkungan tempat tinggal bukan hanya tempat pulang usai bekerja.
Kawasan perumahan juga perlu menjadi ruang bagi warga untuk saling mengenal, berkomunikasi, dan membangun kegiatan bersama.
Aliy terbilang masih muda. Pria berusia 33 tahun ini berasal dari Surabaya dan telah menetap di Sepinggan Pratama, Blok J, sejak tahun 2020. Ia telah menikah dan memiliki dua orang anak.
Di luar kegiatan kemasyarakatan, Aliy bekerja sebagai pegawai BUMN di bidang oil and gas sejak 2014.
Pola kerjanya mengikuti sistem 14 hari bertugas atau onduty dan 14 hari libur atau offduty.
Latar belakang pendidikannya Sarjana Manajemen.
Pengalaman organisasi Aliy juga telah terbentuk sejak sekolah hingga dunia kerja.
Ia tumbuh dari keluarga yang aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
Kedua orang tuanya dikenal sebagai aktivis sekaligus pendiri Hidayatullah.
Saat sekolah dan kuliah, Aliy aktif dalam organisasi, terutama pada bidang kerohanian Islam.
Keterlibatan itu berlanjut ketika ia bekerja. Di perusahaan, ia ikut dalam kegiatan dakwah Islamiyah.
Aliy mulai menjadi Ketua RT 64 pada 2025. Awalnya, ia hanya ingin terlibat dalam kepengurusan RT agar dapat memberi manfaat bagi warga.
Keinginan itu lantas berkembang ketika ia dicalonkan oleh formatur RT sebagai Ketua RT 64.
Pencalonannya disepakati secara aklamasi, sebelum akhirnya disahkan dan dilantik oleh Camat Balikpapan Selatan.
“Awalnya hanya ingin menjadi bermanfaat untuk warga dengan terlibat di pengurus RT. Kemudian saya dicalonkan oleh formatur RT sebagai Ketua RT 64,” ucap Aliy.
Menurutnya, RT 64 memiliki karakteristik seperti kawasan perumahan pada umumnya.
Warga memiliki kesibukan masing-masing sehingga interaksi antarwarga belum selalu berjalan intens.
Karena itu, ia menilai perlu ada ruang bersama yang dapat menjadi tempat warga berkomunikasi dan berkegiatan.
Pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial menjadi salah satu kebutuhan yang ingin didorong.
Selain persoalan interaksi, sejumlah hal yang perlu dikomunikasikan antarwarga berkaitan dengan tata tertib parkir, renovasi rumah, serta pemeliharaan hewan.
Bagi Aliy, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui aturan tertulis.
Komunikasi antarwarga tetap diperlukan agar setiap ketentuan dapat dipahami dan dijalankan bersama.
Salah satu kegiatan yang kini dijalankan Aliy bersama warga yakni urban farming dan bank sampah.
Program tersebut dikembangkan melalui Yayasan Harmoni Pratama Lestari yang diusung empat RT bersama manajemen pengembang.
Gagasan awalnya memanfaatkan ruang yang tersedia, terutama fasilitas umum yang belum digunakan maksimal.
Aliy ingin ruang tersebut tidak terbengkalai, melainkan diisi kegiatan yang memiliki manfaat bagi warga dan lingkungan.
“Semangatnya, memanfaatkan ruang yang ada agar bisa dimanfaatkan secara lebih bernilai, daripada terbengkalai,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, warga terlebih dahulu melakukan kerja bakti massal untuk membersihkan area fasilitas umum.
Setelah itu, mereka menyiapkan perlengkapan, media tanam, tanah, dan tanaman secara bertahap.
Pengembangan urban farming juga melibatkan potensi warga.
Aliy menyebut terdapat warga yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan di bidang pertanian.
Pengetahuan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan di lapangan.
Hasilnya, urban farming mulai menghasilkan panen perdana.
Sayuran yang dipanen kemudian dibagikan kepada warga secara gratis karena jumlahnya masih terbatas.
Bagi Aliy, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan tanaman, tetapi juga membuka ruang edukasi bagi masyarakat.
Warga dapat belajar mengenai pertanian perkotaan sekaligus memperoleh sayuran segar dengan harga terjangkau ketika produksi sudah berkembang.
Selain urban farming, program bank sampah juga sedang disiapkan.
Aliy menyebut rancangan besarnya atau master plan telah dibuat dan akan dikembangkan secara bertahap.
Ia berharap program tersebut dapat menumbuhkan kesadaran warga terhadap persoalan lingkungan.
Menurutnya, kegiatan lingkungan tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.
“Program-program lingkungan itu bukan untuk kita saja, tapi untuk generasi yang tidak akan kita temui,” ungkapnya.
Kemudian, ia menuturkan, urban farming dan bank sampah bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih produktif.
Ruang bersama tak hanya digunakan untuk berkumpul, tetapi juga dapat menjadi tempat belajar, mengelola kegiatan, dan menghasilkan manfaat.
Selama menjalankan tugas sebagai Ketua RT, pengalaman yang paling berkesan bagi Aliy bukan semata-mata kegiatan besar yang telah dilaksanakan.
Ia justru menyoroti proses saling belajar bersama pengurus dan tokoh masyarakat.
Aliy berpandangan, tidak ada pemimpin yang sempurna. Setiap pengurus tetap membutuhkan masukan dan pandangan dari orang lain.
“Proses kita saling belajar, saling memberikan masukan, dan saling menghargai satu sama lain itu yang paling berkesan buat saya,” imbuhnya.
Sejumlah kegiatan warga seperti peringatan kemerdekaan, jalan sehat, kerja bakti massal, posyandu, dan program keagamaan tetap berjalan.
Sebagaimana kegiatan di lingkungan RT lainnya.
Namun, bagi Aliy, nilai penting dari kegiatan tersebut terletak pada keterlibatan warga dan komunikasi yang terbentuk selama prosesnya.
Aliy berharap Sepinggan Pratama dapat berkembang menjadi lingkungan yang nyaman, tentram, dan harmonis.
Ia ingin rumah tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga ruang bagi keluarga untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Untuk lingkungan secara umum, harapannya juga dapat kerja sama melalui Forum RT dapat terus dikembangkan.
Apalagi, Sepinggan Pratama memiliki peluang untuk menjadi kawasan percontohan, tidak hanya di Balikpapan, tetapi juga di tingkat yang lebih luas.
Ia melihat program urban farming, bank sampah, dan kegiatan lingkungan lainnya dapat membuka peluang yang sebelumnya belum terlihat.
Program tersebut juga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi berikutnya.
“Kami ingin punya rumah di Sepinggan Pratama itu benar-benar bisa hidup tentram. Kita tetap guyub, tetap rukun, dan tetap harmonis satu sama lainnya,” tandas Aliy.
Ia pun menyadari, hasil dari berbagai program lingkungan mungkin belum sepenuhnya dirasakan dalam waktu singkat.
Tetapi, upaya yang dilakukan saat ini dapat menjadi bekal bagi generasi mendatang.
Dengan menggabungkan pengalaman profesional, latar belakang organisasi, dan keterlibatan sosial, Aliy ingin RT 64 tidak berjalan sendiri.
Ia mendorong, warga dari berbagai latar belakang dapat terus saling mendukung dan mengis.
Untuk menciptakan lingkungan yang lebih aktif, nyaman, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan.
Salsa/M. Taufik
Editor: Agung













