SMART RT – Dua usaha mikro, kecil, dan menengah alias UMKM asal Balikpapan, berhasil menembus pasar global dengan mengirimkan produk berbahan lokal ke sejumlah negara.
Pasar global yang dituju Malaysia, Taiwan sampai Australia.
Dari Balikpapan, dua UMKM melepas produk lokal untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri. UMKM membuktikan dari produk lokal bisa melahirkan peluang global.
Dua ekspor dari Balikpapan ini menunjukkan produk yang berasal dari potensi daerah dapat memiliki pasar di berbagai negara.
Koperasi Kriya Inovasi Mandala mengekspor cocopeat block ke Taiwan, adapun PT Bungas Food Nusantara mengirimkan herbal Wedang Dayak ke Malaysia dan Australia.
Ekspor berlangsung dalam kegiatan sinergi peningkatan akses pasar ekspor UMKM pada 12 September 2026.
Kegiatan itu melibatkan Kanwil Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur, Bea Cukai Balikpapan, Direktorat Fasilitas Kepabeanan, Lembaga National Single Window , Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia , dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Koperasi Kriya Inovasi Mandala mengekspor 23 ton cocopeat block senilai USD7.360 ke Taiwan. Produk berbahan dasar serat kelapa itu menjadi salah satu komoditas lokal yang dipasarkan ke luar negeri.
PT Bungas Food Nusantara mengirimkan 7 kilogram herbal Wedang Dayak senilai USD429 ke Malaysia. Perusahaan itu juga berencana mengirimkan 12 kilogram produk serupa ke Australia dengan nilai USD450.
Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Kalbagtim Max Franky Karel Rori mengatakan, ekspor ini menunjukkan peluang produk UMKM daerah untuk memasuki pasar internasional.
Menurutnya, kolaborasi dan pendampingan diperlukan agar pelaku usaha memahami proses ekspor sekaligus memiliki akses pasar yang lebih luas.
Katanya, produk UMKM daerah memiliki peluang masuk ke pasar internasional.
“Melalui sinergi dan pendampingan, kami berupaya membantu pelaku usaha memahami proses ekspor sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Franky.
Franky menjelaskan, kolaborasi antarlembaga diperlukan untuk membangun ekosistem yang mendukung UMKM, mulai peningkatan kapasitas hingga akses informasi dan pasar ekspor.
Ekspor dua UMKM tersebut memperlihatkan ragam produk berbasis potensi daerah yang telah masuk ke pasar luar negeri.
Di sisi lain, minat masyarakat Balikpapan untuk menjalankan usaha masih cukup tinggi, di tengah perlambatan ekonomi dan kondisi daya beli yang menurun.
Ini tampak dari bertambahnya jumlah pelaku UMKM yang tercatat memiliki perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Pemerintah Kota Balikpapan mencatat sekitar 133 ribu pelaku usaha telah mengantongi izin melalui sistem tersebut.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma menyampaikan pertumbuhan jumlah UMKM menunjukkan aktivitas pembentukan usaha di masyarakat masih berlangsung.
Ia menilai secara pembentukan, tumbuhnya signifikan.
“Pertambahan jumlah UMKM sekarang terus meningkat,” ucap Heru sapaan akrabnya kepada media, Sabtu 19 September 2026.
Menurutnya, bertambahnya jumlah UMKM tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan omzet pelaku usaha.
Kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap menjadi tantangan bagi UMKM yang telah menjalankan usahanya.
Menurutnya, dampak perlambatan ekonomi terhadap UMKM berbeda-beda, tergantung jenis usaha dan kondisi pasar.
Sebagian pelaku usaha mengalami penurunan omzet, sementara sebagian lainnya masih mampu meningkatkan penjualan.
Kalau yang sudah berjalan, katanya, mungkin ada beberapa yang mengalami penurunan, ada juga yang mengalami kenaikan.
“Tergantung dari penjualan atau sektornya seperti apa,” imbuhnya.
Selain daya beli, kenaikan harga bahan baku juga menjadi satu tantangan yang dihadapi UMKM. Salah satu yang dirasakan yaitu usaha yang menggunakan bahan baku plastik.
M. Taufik
Editor: Agung













