SMART RT – Namanya Budi Purwasono, karib dipanggil pak Budi Purwa. Sosok hangat yang diamanahi tetua di lingkungannya.
Sudah belasan tahun pria paruh baya itu, didapuk menjadi Ketua RT 004 Muara Rapak, Balikpapan Utara.
“Jadi ketua RT sejak 2014 apa tahun berapa, sampai lupa aku Mas, karena sudah lama sekali,” cerita Budi di pelataran rumahnya, Sabtu, 12 September 2026 sore.
Apakah sudah tiga periode? Jawabnya, mungkin sudah segitu. Sudah lama sekali, katanya, sampai ia mengaku lupa.
Pak Budi, perantau lawas asal Tulungagung Jawa Timur. Menjejak tanah Kota Minyak sejak tahun 1986.
Ia lahir saat negeri ini terjadi gejolak pemberontakan Gerakan 30 September PKI aka G/30S PKI, tahun 1965.
Meski kini usianya sudah menginjak 61 tahun, tapi dari fisiknya masih terlihat bugar. Sekilas sosok Budi seperti seorang militer.
Tapi ternyata, “Bukan, saya bukan Purnawirawan TNI atau Polri. Mungkin karena saya rajin olahraga, apa saja,” ujarnya.
Dari tinju, silat, lari, sampai bulu tangkis ia lakoni demi menjaga kebugaran tubuhnya.
Ia berkisah, awal menjejak Balikpapan sendirian, di era celana cutbray menjadi tren seantero negeri.
Tahun 1986 ia merantau ke kota ini, tanpa arah, tanpa saudara. Benar-benar sendiri.
“Kerja apa saja saya jalani dengan tekun,” jelasnya.
Pak Budi Purwa akhirnya mendapat pekerjaan di kawasan hutan Sepaku, Penajam Paser Utara.
Ia bekerja di International Timber Corporation Indonesia, biasa dikenal sebagai ICTI Playwood. Produksi kayu lapis.
ITCI dikenal sebagai salah satu raksasa industri perkayuan pemegang Hak Pengusahaan Hutan terbesar pada era 1970-an hingga 1990-an.
Kehadiran ITCI di Sepaku dulunya sangat masif, bahkan menciptakan pemukiman modern seperti kota di tengah rimba, bagi ribuan karyawannya yang dilengkapi fasilitas lengkap.
Perusahaan kayu legendaris itu punya sejarah panjang di kawasan hutan Sepaku, yang kini menjadi kawasan Ibu Kota Nusantara- IKN.
Dari sana, pakk Budi kemudian berganti pekerjaan degan menekuni bidang bangunan. “Kenyang saya kalau soal bangunan,” tuturnya, tertawa.
Lantas, dari Sepaku berpindah lagi ke Balikpapan. Kala itu ia bekerja di sebuah bengkel.
Kenapa loncatannya jauh sekali, dari kayu, bangunan ke bengkel? Ditanya itu, ia tertawa. Budi bilang sejak dulu suka belajar.
Terutama seni. Di kampungnya Tulungagung, kakaknya punya konveksi. Ia biasa menyablon.
Dari situ, kegemarannya untuk mencoba hal-hal baru terasah. Apa saja dilakukannya. Apalagi ia seorang pembelajar.
“Semua otodidak. Melihat orang bekerja, saya bertanya lalu mencoba,” jelasnya.
Budi bilang, kala di bengkel ia suka sekali bila kedapatan mobil bekas tabrakan atau kecelakaan.
“Mobil-mobil rusak itu saya benahi, dimodifikasi lagi,” jelasnya.
Ia lantas menjelaskan detil-detil pekerjaan terkait. Dari mengelas, membuat mal (pola) untuk bodi atau panel mobil.
Yang berfungsi sebagai pedoman ukuran dan bentuk sebelum memotong bahan plat atau fiber.
“Semua otodidak. Belajar sendiri, banyak bertanya, banyak belajar. Liat orang kerja, berani tanya. Kalau kerja, saya tekuni,” pesan pak Budi.
Usai bekerja di bengkel, Budi mencoba hal baru lainnya: teknisi. Mengurus pembuatan SPBU se-Kalimantan.
“Saya di bagian teknikal. Ngurusin tangki minyak di SPBU. Dari pemasangan awal sampai bisa mengucurkan minyak.”
Ia bilang, mau tanya soal SPBU manapun di Kalimantan, Budi mengaku masih hafal.
Rata-rata kedalaman penanaman tangki minyak di SPBU 4,5 meter. Tergantung besar kecilnya sebuah SPBU.
Berapa lama membangun sebuah SPBU dari awal sampai beroperasi? Katanya, waktu dulu cukup lama, bisa sampai setahun.
“Yang lama itu menunggu materialnya sebab semua dari Jawa. Alat-alatnya juga masih sederhana, tidak seperti sekarang,” jelasnya.
Meski di zamannya alat-alat masih seadanya, ia tidak menyerah.
Bahkan untuk hal-hal baru yang belum pernah dilakoninya pun ia tak pernah menyerah.
Asal punya keinginan belajar dan tekun terhadap sesuatu, pasti akan berhasil.
“Kerjaan kalau masih bisa dilihat mata, pasti bisa,” pesan pak Budi.
Gemar Cangkruan
Pak Budi Purwa, kemudian mengenang masa lalunya. Sejak dulu, ia hobi menjalin hubungan sosial terhadap siapapun.
Hobinya cangkru-an atau bersama beberapa orang sambil berbincang, bergurau, atau berdiskusi.
Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Orang punya jiwa sosial tinggi, katanya, hidupnya akan selalu ceria.
Hal itu juga menjadikannya awet muda. Tak heran, selain menjadi Ketua RT004, Budi Purwa juga aktif di kegiatan sosial lain.
Seperti di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM), Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM).
Budi juga aktif dalam kegiatan Taruna Siaga Bencana (Tagana), Paguyuban Tulungagung, termasuk di Ikatan Paguyuban Keluarga Tanah Jawi Kota Balikpapan (IKAPAKARTI).
Yakni organisasi kemasyarakatan yang mewadahi warga asal Jawa di Balikpapan.
“Sebulan sekali Paguyuban Tulungagung masih aktif melakukan pertemuan,” katanya.
Ternyata, istri pak Budi juga berasal dari Tulungagung. Sejak merantau tahun 1986, ia sempat kembali ke Jawa.
Kemudian menikah dan membawa istrinya ke kota ini tahun 1988. Dari pernikahan mereka, dikaruniai tiga anak dan empat cucu.
Anak pertamanya bahkan punya pekerjaan mapan. Menjadi Supervisor di salah satu perusahaan swasta di Balikpapan.
Satunya perawat dan bekerja di RS Hermina. Suaminya anggota kepolisian di Polda Kaltim.
Anak bungsunya masih kuliah di pelayaran.
“Meski tidak kaya, ahamdulillah, kami bisa menyekolahkan semua anak-anak sampai kuliah,” ucapnya.
Ia lantas memberi nasihat yang mendalam.
“Yang penting kita harus kaya hati, baik kepada sesama, guyub dan rukun,” pesan Budi Purwasono.
M. Taufik
Editor: Agung













