SMART RT – Aspal dan beton menjadi dua material utama yang paling sering digunakan dalam konstruksi jalan di Indonesia.
Termasuk untuk membuat dan atau membenahi jalan lingkungan di perumahan atau gang-gang kecil di suatu wilayah.
Aspal dan beton memiliki karakteristik, keunggulan, dan kelemahan masing-masing.
Sesuai pengalaman dan kenyataan di lapangan, Ketua RT004 Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara, Budi Purwasono punya masukan menarik.
Ia menilail di Balikpapan, banyak jalan lingkungan yang dibuat dan atau diperbaiki dengan cor beton.
Budi Purwa, sapaan karibnya, mengamati hasil dari cor-coran beton itu tak seawet dibanding aspal.
Padahal dari sisi kekuatan material, harusnya lebih kuat beton. Tapi kenyataannya berbeda.
Apalagi selama ini cor beton di jalan lingkungan seringkali ditindih begitu saja.
“Lama-kelamaan permukaan rumah lebih rendah karena penambahan cor betonnya bisa sampai 10 sentimeter,” ujar Budi.
Hal itu diamini Yudi, warga RT004 yang mendampingi Budi Purwa.
Kata Yudi, dulu jarak pelataran rumahnya dengan jalan lingkungan lebih tinggi rumahnya.
Tapi lantaran setiap ada perbaikan cor beton ditindih hingga 10 sentimeter, kini permukaan rumahnya kalah tinggi.
“Akibatnya kalau hujan deras jadi banjir,” keluh Yudi.
Budi Purwa lantas menimpali keterangan Yudi.
Budi menilai salah satu banjir bisa disebabkan karena minimnya resapan air dan drainase yang dangkal.
Padahal, katanya, drainase bisa mengalirkan air hujan yang menumpuk agar tidak menjadi genangan.
Selain itu menjaga ketahanan infrastruktur, menjaga agar jalan raya dan fondasi bangunan tidak cepat rusak akibat air.
Budi Purwasono yang punya jam terbang tinggi soal bangunan pun punya saran bagi kontraktor.
“Sebaiknya perbaikan jalan lingkungan pakai aspal saja. Selain lebih murah dan hemat juga kuat. Jalan lingkungan kan tidak dilalui truk besar,” ujarnya.
Dengan begitu ketahanan lebih lama. Ia pun merasa heran dengan perbaikan konstruksi bangunan di kota ini.
Jalan lingkungan seringkali diperbaiki. Padahal seharusnya kan kalau beton lebih kuat, tapi kenapa sering rusak.
“jalanan dicor tapi tiap dicor tambah 10 sentimeter. Akibatnya jalanan jadi tinggi. Resapan makin hilang,” sesalnya.
Ia kembali menyarankan agar perbaikan jalan lingkungan di kemudian hari lebih baik menggunakan material aspal.
“Gang-gang diaspal saja bisa lebih awet. Seperti kawasan di Jawa dan Jakarta. Kenapa Balikpapan tidak pakai aspal juga.”
Budi Purwa juga merasa heran kenapa kekuatan material cor beton hanya bertahan 3-4 tahun. Setelah itu dicor lagi.
Ia menilai hal itu membuang anggaran.
“Ke depan, kalau ada perbaikan jalan lagi harapannya pakai aspal saja. Lebih efisien, sekali kerjaan bisa 10 tahun,” imbuhnya.
Budi lantas memberi saran lain.
“Pakai aspal lebih murah dibanding cor beton. Nah anggarannya bisa dialihkan ke infrastruktur lain, seperti drainase,” ujarnya.
Ia menilai daripada untuk mengecor jalan lingkungan, lebih baik prioritas dialihkan untuk perbaikan drainase.
Selama ini, katanya, penyebab banjir lantaran hilangnya serapan air dan drainase yang semakin dangkal.
“Kalau jalanan semakin sering dicor tidak ada resapan, parit terjadi pendangkalan. Prioritaskan perbaikan drainase dulu,” ujarnya.
Khususon di wilayah yang dipimpinnya, di RT004 Kelurahan Muara Rapak Balikpapan Utara, Budi Purwa punya keluhan drainase.
Ia berharap agar pemerintah daerah dan DPRD Balikpapan bisa memprioritaskan perbaikan drainase.
Termasuk memperbaiki resapan air di permukaan dan bawah tanah.
“Kalau hujan deras di sini, banjir. Sebagian masuk rumah, meski tidak separah di kawasan Beller,” jelasnya.
RT004 dihuni 220 Kepala Keluarga dari berbagai latar belakang.
Kalau dihitung dengan jumlah penduduk yang ngekos di wilayah tersebut, jumlah KK nya bisa mencapai 260 an.
“Sekitar 220 KK itu yang sudah menetap lama, kalau dihitung dengan penghuni kost bisa 260 KK,” jelasnya.
Kawasan RT004 Muara Rapak berbatasan dengan kelurahan Batu Ampar.
Selain keluhan banjir, warga berharap adanya pemasangan pipa PDAM baru.
Menurut Budi, ada 18 warganya yang mengajukan pemasangan baru. Tapi sampai sekarang tidak tindak lanjutnya.
“Sudah lama sekali, kami mengajukan sejak beberapa tahun lalu. Sampai sekarang belum juga ditindaklanjuti.”
Selama ini warga menggunakan sumber air WTP. Ada pula yang menggunakan air PDAM dari pipa lama.
Kalau untuk pemasangan baru tidak ada.
Beberapa warga, kata Budi, mengeluhkan soal sumber air WTP lantaran biaya tarifnya yang lebih mahal.
WTP memang dikelola swasta. Lantaran itu mereka mencari profit lebih besar.
Budi pun berharap Pemerintah Balikpapan bisa melayani air bersih untuk warganya lewat sumber air PDAM.
“Kami masih menunggu pemasangan pipa baru PDAM. Semoga pihak terkait mendengar dan mengabulkan,” harapnya.
M. Taufik
Editor: Agung












