SMART RT – Sejumlah delegasi dari Universitas Mulia melakukan diskusi ringan bersama Camat Balikpapan Kota, Rosin Suparlan dan dua stafnya Ferry Susanto dan Fajar Muamar.
Camat Rosin menerima kunjungan pihak Universitas Mulia, di antaranya, Wakil ketua MBI Drs. Tatang Setyawan, Sekretaris MBI Titin Yuliana, Budi Susanto, S.st, Dr. Pudjiati, dan Koordinator Branding MBI Universitas Mulia Amrico Y.
Banyak hal yang didiskusikan dalam pertemuan hangat yang dihelat pada Rabu 15 Juli 2026, di ruang Camat Rosin. Antara lain, ihwal kerjasama Klinik UMKM dan pengembangan Budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly, dikenal dengan istilah BSF.
Ihwal Klinik UMKM, pihak Universitas Mulia berkomitmen untuk turut membantu para pelaku UMKM di Balikpapan. Khususnya yang ada di wilayah Kecamatan Kota.
Klinik itu, nantinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai layanan terkait pengembangan UMKM. Mulai konsultasi manajemen UMKM sampai pengembangan bisnis usaha.
Selain Klinik UMKM, diskusi juga menyoal budidaya maggot yang telah berjalan di lingkungan Kecamatan Balikpapan Kota.
Camat Rosin menyampaikan, warga di wilayahnya tengah mengembangkan budidaya maggot. Budidaya BSF ini menjadi langkah progresif dalam penanganan masalah lingkungan.
Sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kecamatan Balikpapan Kota.
Sejak November 2025, pihak Kecamatan Kota telah melakukan kegiatan maraton Pelatihan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Budidaya Maggot Berbasis Administrasi Digital.
“Kita berupaya melakukan gerakan masif mengubah paradigma masyarakat melihat sampah, dari masalah menjadi berkah,” ujar Camat Rosin.
Ia menjelaskan, upaya itu menggandeng pihak kelurahan, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan sejumlah elemen masyarakat di wilayahnya.
Rosin meyakini budidaya maggot atau BSF, sebagai langkah strategis mengurai sampah organik, sekaligus mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Budidaya maggot ini memiliki misi vital mengurai sampah organik di hulu, lalu diolah menjadi pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk organik berkualitas,” imbuhnya.
Ia berharap semakin tumbuh kesadaran kolektif bahwa sampah itu sebenarnya bisa menjadi sumber daya bernilai jika dikelola tepat.
Rosin menegaskan program ini memiliki visi jangka panjang yang lebih luas dari sekadar kebersihan lingkungan.
Dengan target pembangunan dua unit Rumah Maggot di setiap kelurahan, pemerintah kecamatan membidik tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif.
“Tujuan besar kami membentuk kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengelolaan sampah. Ini peluang menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan warga, dan mengurangi pengangguran,” jelas Rosin.
Adapun strategi yang ditempuh, antara lain, memberdayakan potensi dua pasar tradisional di Kecamatan Balikpapan Kota sebagai penyuplai bahan baku berupa sampah organik.
:Sehingga siklus pengelolaan sampah menjadi lebih efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dari budidaya maggot ini, masyarakat tak hanya diajak memilah sampah, tapi juga diberdayakan menjadi aktor utama industri pengolahan sampah yang menjanjikan.

Nilai Ekonomis
Dalam diskusi itu, Rosin juga menunjukan sebotol maggot yang telah diolah dan dikemas dengan apik. Satu botol dibandrol Rp 15 ribu.
“Semua ini yang membuat warga, maggot itu nanti dijual dan diharapkan bisa menciptakan kemandirian masyarakat,” papar Rosin.
Ia menjelaskan, budidaya maggot metode pengolahan sampah organik yang sangat efektif sekaligus menghasilkan pakan ternak bernilai ekonomi tinggi.
Maggot, kata Rosin, kaya protein dan mampu mengurai sisa makanan serta limbah organik dalam hitungan hari.
Pengolahan maggot dari sampah organik memberi dampak positif mengurangi tumpukan sampah rumah tangga.
Selain itu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan dari segi pemanfaatan sampah tersebut. “Bahkan dapat meningkatkan penghasilan karena memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran,” imbuhnya.
Dari budidaya maggot bisa pula menghasilkan pupuk organik sisa media tumbuh maggot lalat BSF. Adapun sampah organik berupa bahan sisa atau limbah yang berasal dari bahan alami yang dapat terurai.
“Misalnya daun kering, sayur-sayuran atau buah-buahan yang sudah layu, tanaman, hewan dan lainnya,” jelas Rosin.
Tanpa penangulangan yang baik, sampah semakin lama akan semakin menumpuk dan bisa berakibat serius bagi lingkungan serta kesehatan keluarga dan masyarakat.
“Nah salah satu cara mengatasi penumpukan sampah organik dengan memanfaatkan media budidaya ulat atau maggot lalat,” papar Rosin.
Budidaya Maggot
Maggot dikenal sebagai organisme yang berasal dari telur lalat Black Soldier Fly atau BSF, yang menjadi agen biokonversi atau pengurai untuk menciptakan tepung BSF.
Kandungan nutrisi pada maggot juga sangat menjanjikan dan terbukti memiliki kandungan nutrisi yang mirip pakan ikan.
Bahkan bisa menjadi salah satu alternatif pakan yang mengandung protein hewani tinggi.
Maggot berasal dari larva jenis lalat tentara hitam. Bentuk siklus pertamanya atau larva, melalui proses metamorfosis menjadi lalat dewasa.
Hewan ini mampu mengolah berbagai jenis limbah organik dengan cepat, tak menyebarkan penyakit, ramah terhadap manusia, tidak menggigit.
“Sehingga sangat bermanfaat dan aman untuk dibudidayakan,” jelas Rosin. Ia berpendapat budidaya maggot memiliki keuntungan dari berbagai segi.
Mulai pemanfaatan limbah sludge sebagai media budidaya, maggit mengandung nutrisi yang baik untuk sapi, dan media bekas budidaya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk sayuran dan tanaman pakan.
Tahapan budidaya larva ini dimulai dari menetaskan telur, memindahkan larva ke media pembesaran yang berupa limbah organik.
Lalu pada tahap akhir pemanenan maggot. Adapun nutrisinya memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi dan dapat digunakan untuk substitusi konsentrat hewan, semisal sapi.
Langkah pembuatannya, usai proses pemanenan dikeringkan dan digiling hingga menjadi bentuk tepung.
Lalu tepung maggot dapat digunakan sebagai pengganti sebagian konsentrat untuk sapi perah. Sedangkan dari segi komersialisasi produk maggot dapat menjadi tambahan pendapatan bagi warga atau pembudidaya terkait.
“Salah satu tantangan kami saat ini soal pemasaran, promosinya belum maksimal,” kata Rosin.
Untuk memulai budidaya maggot, awalnya siapkan wadah penetasan berupa boks kecil beralaskan tisu atau dedak.
Letakkan telur BSF di atasnya. Dalam waktu sekitar 3 hari, telur akan menetas menjadi larva kecil atau bayi maggot.
Setelah berumur 5-7 hari, pindahkan larva ke wadah pembesaran yang lebih besar yang disebut biopond. Ini bisa terbuat dari kayu, terpal, atau semen.
Pada fase ini, berikan pakan berupa cacahan sampah organik seperti sisa sayuran, buah, atau limbah dapur.
Maggot dapat dipanen sebagai pakan ternak bisa yang segar atau dikeringkan, saat berumur 15–20 hari sebelum berubah menjadi kepompong.
Nah, sisakan sebagian maggot untuk dibiarkan bermigrasi dan berubah menjadi kepompong hingga menjadi lalat dewasa.
Lalat BSF akan kawin dan bertelur di kandang khusus, lalu siklus budidaya dapat dimulai kembali.
Maggot mengandung protein tinggi hingga 40-50% yang sangat baik untuk pakan unggas, ikan, dan hewan peliharaan.
Sisa kotoran maggot dan media yang terurai dapat digunakan sebagai pupuk organik berkualitas premium.
M. Taufik
Editor: Agung














