SMART RTKU – Di tengah pesatnya pertumbuhan Kota Balikpapan, masih terdapat kawasan permukiman yang berkembang melalui semangat gotong royong warganya.
Salah satunya berada di RT 66 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara.
Lingkungan di sini dihuni masyarakat dengan latar belakang beragam suku dan profesi.
Yati, Perempuan kelahiran Jawa Barat tahun 1980 itu telah mengemban amanah sebagai Ketua RT 66 selama dua periode.
Yati menjalani keseharian sebagai pekebun, pekerja lepas, sekaligus membantu di salah satu yayasan santunan yatim dan dhuafa.
Baginya, pekerjaan apa pun yang dapat dilakukan di sela-sela berkebun menjadi cara untuk tetap produktif sekaligus membantu kebutuhan keluarga.
Perjalanan hidup Yati dan keluarganya tidak lepas dari kisah transmigrasi.
Bersama sang suami yang bekerja sebagai kepala tukang bangunan, ia mengikuti program imigrasi pada 1995.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2000, ia mulai menetap di Balikpapan dan perlahan membangun kehidupan dari nol.
Kini, keluarga besarnya telah berkembang dengan enam orang anak, tiga menantu, serta hampir lima cucu.
Mereka menjadi penyemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Di balik kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan kepala lingkungan, Yati dikenal sebagai sosok yang selalu berusaha menghidupkan rasa kebersamaan antar warga.
Menurutnya, keberhasilan sebuah lingkungan bukan hanya ditentukan pembangunan fisik, tetapi juga kekompakan masyarakat.
“Banyak program kita Mas, jangan sampai ga ada kegiatan pokoknya,” ungkap Yati.
Yati berujar, berbagai kegiatan seperti PKK, gotong royong, hingga pertemuan warga rutin menjadi program utama yang terus dijaga.
Tujuannya agar masyarakat tetap saling mengenal dan memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan membangun RT 66.
“Harus kita jaga kebersamaan warga, siapa tahu di tengah kegiatan bersama ada warga yang punya kreativitas membangun lingkungan ini kan,” paparnya.

Kebutuhan Dasar Belum Terpenuhi
Meski demikian, terdapat persoalan mendasar yang masih belum terselesaikan.
Seperti belum tersedianya jaringan air bersih bagi 29 rumah.
Selama lebih dari 10 tahun, puluhan keluarga tersebut hanya mengandalkan air hujan dan membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mendatangi pihak penyedia layanan air bersih yakni Perusahaan Daerah Air Minum PDAM Tirta Manuntung.
Namun hingga kini belum membuahkan hasil sesuai harapan warga.
“Saya sendiri yang datangin waktu itu, katanya sih memang gak ada pemasangan pipa tanda kutip tidak bisa, bisa kalau membayar sebesar Rp. 450 ribu per meternya,” ungkap Yati, dengan wajah pasrah.
Selain persoalan air bersih, kondisi drainase di lingkungan RT 66 juga belum mendapatkan perhatian pembangunan.
Saat akses penghubung antarwilayah dibutuhkan, warga memilih bergotong royong mengumpulkan dana swadaya sebesar Rp12 juta.
Uang itu untuk membangun jembatan kayu sederhana yang menghubungkan RT 66 dengan wilayah sekitar.
Semangat kebersamaan itu menjadi bukti bahwa masyarakat tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga berupaya mencari solusi bersama di tengah keterbatasan.
Di bidang kesehatan masyarakat, kader-kader posyandu sebenarnya telah aktif menjalankan tugasnya.
Namun hingga kini RT 66 masih belum memiliki bangunan posyandu yang layak sebagai pusat pelayanan kesehatan warga.
Kondisi tersebut menjadi salah satu harapan besar masyarakat agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih.
Terutama terhadap pembangunan sarana dan prasarana dasar yang selama ini dinilai masih tertinggal dibanding kawasan lainnya.
RT 66 sendiri memiliki data administrasi sebanyak 135 kepala keluarga.
Namun jumlah tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil karena sebagian besar merupakan penyewa yang telah berpindah tempat tinggal.
Data terbaru menunjukkan sekitar 100 kepala keluarga yang aktif bermukim.
Warganya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari suku Bugis, Jawa, Buton, hingga Flores.
Meski berbeda suku dan ras, kehidupan sosial di lingkungan tersebut tetap berlangsung harmonis.
Para warga tampak semangat dan guyub, mereka juga aktif melakukan gotong-royong yang terus terpelihara.
Di balik sikapnya yang ramah, Yati dikenal sebagai pemimpin yang tegas dalam menjaga keamanan lingkungan.
Ia mengaku tidak segan mengambil keputusan keras ketika ada warga yang mengganggu ketertiban.
Salah satu peristiwa yang paling diingat adalah ketika terjadi pertengkaran pasangan suami istri hingga membawa senjata tajam pada dini hari.
Demi mencegah konflik semakin meluas, Yati meminta pasangan tersebut meninggalkan lingkungan RT 66.
Baginya, ketegasan bukanlah bentuk kekejaman, melainkan tanggung jawab untuk melindungi keselamatan seluruh warga.
Bagi Yati, menjadi Ketua RT bukan sekadar menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga menjadi penengah, pendengar, sekaligus penggerak masyarakat.
Dengan segala keterbatasan yang masih dihadapi, ia berharap pembangunan infrastruktur dasar bisa segera diwujudkan.
Seperti jaringan air bersih, drainase, dan fasilitas kesehatan.
Warta RT 66 menaruh harapan kepada pihak-pihak terkait agar memberi perhatian dan mewujudkan kebutuhan dasar di sana.
Menurut Yati meski kebutuhan dasar belum terpenuhi, ia percaya RT 66 Batu Ampar akan terus tumbuh menjadi lingkungan yang lebih layak.
Lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh warganya. Salah satu keyakinan Yati datang dari kekompakan warga yang terus menjaga tradisi gotong-royong.
M. Taufik
Editor: Agung














