SMART RTKU – Di pesisir Balikpapan Barat, tepatnya di RT 4 Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan Barat berjejer barisan rumah kayu berdiri kokoh di atas air.
Kawasan tersebut terkenal dengan sebutan Batu Arang.
Di sana, terdapat berbagai persoalan sosial bertahun-tahun, mulai kriminalitas hingga keterbatasan fasilitas dasar.
Di tengah kompleksnya persoalan tersebut, Ahmad Wildan, pria yang berusia 32 tahun mendapat amanah warga memimpin RT 4 untuk periode 2023–2026.
Wildan mengaku prihatin dengan kondisi lingkungannya.
Sebagai ketua RT, Wildan dihadapkan pada tantangan besar menekan angka kriminalitas yang hingga kini masih menjadi momok bagi masyarakat setempat.
Penyalahgunaan narkoba dan kasus pencurian, menjadi permasalahan yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Di RT 4 sendiri dihuni sekitar 198 hingga 200 kepala keluarga, sebagian besar warga asli telah berpindah ke kawasan lain dan digantikan para pendatang yang merantau ke Balikpapan.
Mayoritas masyarakat bekerja sebagai sopir atau juru mudi speadboat, pengemudi kelotok, hingga buruh angkut pada jalur penyeberangan Balikpapan – Penajam Paser Utara.
Aktivitas ekonomi yang padat tidak serta-merta mampu menghapus persoalan sosial yang mengakar di lingkungan tersebut.
Menurut Wildan, berbagai tindak kriminal masih kerap terjadi.
Salah satu kasus yang belakangan meresahkan warga soal modus penipuan yang memanfaatkan aplikasi MiChat.
Pelaku mengaku sebagai suami dari seorang perempuan yang dianggap terlibat perselingkuhan dengan korban.
Dari situ, pelaku kemudian melakukan pemerasan dengan meminta sejumlah uang sebagai tebusan, dengan nominal berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
Persoalan anak di bawah umur tidak mengenyam pendidikan juga menjadi keprihatinan, yang berimbas pada penyalahgunaan narkoba yang dapat dijangkau oleh anak dibawah umur.
Wildan menyebutkan, tak jarang anak di bawah umur terlihat di pinggiran jalan hingga pelosok pemukiman menggunakan lem yang dihisap.
“Banyak anak anak yang ngelem juga, Mas. Prihatin kita lihatnya, mereka banyak yang gak sekolah,” ungkap Wildan dengan ekspresi prihatin.
Permasalahan keamanan, kata Wildan, juga diperparah minimnya interaksi sosial antarwarga.
Kehidupan masyarakat cenderung individual, sehingga semangat gotong royong semakin berkurang.
Kondisi itu terlihat dari tidak berfungsinya sistem keamanan lingkungan, yang dahulu pernah berjalan melalui kegiatan ronda malam dan pos kamling.
Menurut Wildan, dahulu ada pos kamling dan jadwal ronda malam. Warga yang tidak ikut jaga dikenakan denda.
“Namun berjalannya waktu banyak yang memilih membayar denda dibandingkan harus ronda. Akhirnya yang lain ikut melakukan hal sama,” ujar Wildan.
Selain persoalan keamanan, masalah kebersihan dan air bersih juga menjadi perhatian serius.
Masih banyak warga yang membuang sampah langsung ke laut karena terbatasnya fasilitas pengelolaan sampah.
Menurut Wildan, fasilitas kebersihan yang disediakan instansi terkait terkadang tidak menjangkau bagian terdalam permukiman.
“Sehingga persoalan sampah terus berulang dan mencemari lingkungan pesisir,” bebernya.
Di sisi lain, distribusi air bersih juga menyimpan persoalan tersendiri.
Wildan mengungkap adanya dugaan penyambungan pipa ilegal, yang menyebabkan distribusi air menjadi tak merata.
Ironisnya, terdapat warga yang telah memiliki sambungan resmi dan meteran air justru tidak mendapatkan aliran.
Di sisi lain, justru rumah-rumah yang tidak memiliki sambungan resmi dapat menikmati pasokan air bersih.
“Ada warga yang punya kilometer sering mati, bahkan gak hidup airnya, nah oknum yang gak punya kilometer malah lancar airnya bahkan jual air bersih,” beber Wildan.
Melihat berbagai persoalan tersebut, Wildan berharap pemerintah dan instansi terkait dapat hadir lebih aktif di tengah masyarakat.
Ia meyakini kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan warga menjadi kunci menekan angka kriminalitas serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat di kawasan pesisir Batu Arang.
M. Taufik
Editor: Agung














