Di tengah tantangan hebat dunia Pers Indonesia, datang kabar mengejutkan dari Grup Djarum.
Grup ini resmi mengumumkan rencana pengambilalihan seluruh saham PT Narasi Citra Sahwahita (Narasi Media Sahwahita).
Perusahaan tersebut menaungi platform media digital Narasi, yang dirintis jurnalis senior Najwa Shihab.
Grup Djarum dimiliki Keluarga Hartono atau keluarga mendiang Oei Wie Gwan.
Kemarin, Rabu 9 September 2026, rencana aksi korporasi itu diumumkan resmi melalui Direktur Narasi Catharina Davy Sopamena.
“Pengambilalihan perseroan oleh PT Global Digital International telah memperoleh persetujuan dari seluruh pemegang saham perseroan,” begitu kutipan pengumuman resmi terkait, Rabu (9/9/2026).
Namun, perusahaan belum mengumumkan berapa nilai transaksi akuisisinya.
Meski begitu, akuisisi Narasi kian mempertegas rekam jejak dan ambisi bisnis Grup Djarum di pasar media digital Indonesia.
Melalui GDP Venture atau perusahaan modal ventura yang didirikan Martin Hartono tahun 2010, Grup Djarum secara bertahap membangun imperium media, hiburan, dan teknologi yang saling terintegrasi.
Robert Budi Hartono tercatat sebagai pengendali tunggal konglomerasi dan pemegang saham pengendali utama setelah kakaknya, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia bulan Maret 2026.
Pengelolaan operasional dan bisnis keluarga ini juga dilanjutkan anak-anak mereka.
Sebut saja seperti Martin Hartono, Armand Hartono dan Victor Hartono.
Mengingat kembali rekam jejak perusahaan raksasa Grup Djarum, didirikan pertama kali oleh Oei Wie Gwan, tahun 1951 di Kudus, Jawa Tengah, sebagai perusahaan rokok.
Kini, Djarum telah berkembang menjadi konglomerasi besar yang mencakup perbankan (BCA), produk elektronik (Polytron), e-commerce (Blibli), hingga klub olahraga (PB Djarum).
Teranyar, melalui lengan investasinya, PT Global Digital International atau entitas pendanaan di bawah naungan GDP Venture, Grup Djarum resmi mengakuisi Narasi.
Artinya, dengan masuknya Narasi dalam jajaran portofolio investasi, Grup Djarum makin memperkokoh dominasinya atas lanskap media dan konten digital di Indonesia.
Portofolio ekosistem media dan hiburan di bawah naungan GDP Venture tercatat menampung lebih dari 20 unit bisnis.
Sejumlah media dan platform digital besar yang kini berada di genggaman dan portofolio investasi Djarum, antara lain, Kumparan.
Media Kumparan dikenal sebagai Platform berita digital berbasis komunitas. Lalu IDN Times / IDN Media, sebuah platform media yang menyasar segmen milenial dan Gen Z.
Ada pula DailySocial (berita teknologi), Historia (media sejarah), Bolalob (media olahraga), Endeus (kuliner).
Kemudian Yummy yang dikenal sebagai platform media konten kuliner dan resep. Serta Visinema, rumah produksi film dan konten kreatif.
Termasuk Eastern Standard Times, sebuah Platform media digital bernuansa kebudayaan dan gaya hidup.
Tak ketinggalan, Kaskus, Komunitas dan forum diskusi online tertua di Indonesia.
Grup Djarum memperkuat eksistensinya untuk menguasai bisnis media dan informasi digital di Tanah Air.
Sepeninggal pemimpin dan pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono atau Michael Hartono, pada 19 Maret 2026, asetnya diwariskan kepada empat anaknya.
Yakni, Stefanus Wijaya Hartono, Roberto Setiabudi Hartono, Tessa Natalia Hartono, dan Vanessa Ratnasari Hartono.
Seperti kisah dalam Drama Cina (dracin), mereka ketiban warisan yang luar biasa.
Menukil data Majalah Forbes, pada Selasa (8/9/2026), kekayaan setiap anak dari mendiang Michael Hartono itu, jumlahnya melampaui aset milik para orang kaya di Indonesia.
Aset mereka mengalahkan kekayaan Chairul Tanjung pemilik CT Corp, Martua Sitorus (Wilmar), Mochtar Riady (Lippo Group) hingga Bahtiar Karim (Musim Mas Group).
Empat anak mendiang Michael Bambang Hartono menerima saham jumbo.
Setidaknya masing-masing US$2,93 miliar di perusahaan induk keluarga, lewat salah satu transfer kekayaan terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir.
Saham itu setara Rp51,27 triliun, dengan kurs sekitar Rp17.500 per dolar AS.
Mengutip catatan Bloomberg Billionaires Index, total kekayaan keluarga Hartono mencapai US$28,6 miliar per 11 Agustus, menjadikan mereka keluarga terkaya di Indonesia.
Grup Djarum pun mulai mendominasi bisnis media di Indonesia. Akuisisi Narasi menjadi perhatian publik, mengingat media ini dikenal kritis, berani dan independen.
Paska diakuisisinya Narasi, kebijakan redaksi bakal menjadi sorotan. Apakah tetap berani kritis dan independen atau akan bergeser?
Masuknya Grup Djarum dalam bisnis media, juga menambah daftar panjang pemain raksasa media massa di Indonesia.
Sebelumnya, kita mengenal Kompas Gramedia, grup media tertua dan terbesar yang memayungi Harian Kompas, Kompas.com, Kompas TV, jaringan majalah/grid network, serta penerbitan Gramedia.
Kemudian ada MNC Grup milik Harry Tanoesoedibjo. Ia menguasai stasiun TV nasional seperti RCTI, MNCTV, dan GTV, serta portal berita Okezone.com dan iNews.
Lalu ada Transcorp atau Transmedia milik Chairul Tanjung, yang mengendalikan Trans TV, Trans7, detik.com, CNN Indonesia, dan CNBC Indonesia.
Begitu pula Emtek atau Elang Mahkota Teknologi. Pengendali grup penyiaran besar Surya Citra Media, yang membawahi SCTV dan Indosiar, serta layanan platform digital dan integrasi konten.
Raksasa media lainnya, sebagaimana sudah tersohor: Tempo Media Group.
Yang membawahi majalah cetak dan digital, portal berita harian, koran, serta berbagai kanal multimedia.
Didirikan Goenawan Mohamad, sebagai pelopor majalah berita mingguan dengan gaya penulisan investigasi yang khas.
Dalam forum Outlook Media 2026, Dewan Pers menyoroti pentingnya menjaga integritas jurnalistik di tengah disrupsi teknologi.
Sekaligus perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin cepat.
Apalagi, bisnis media di Indonesia tahun 2026 menghadapi era transformasi digital dan hiper-konektivitas.
Bahkan dengan dominasi kuat media siber serta konsolidasi industri yang masif.
Meski di tengah tantangan fiskal yang kian mencekik, industri media besar terus memperkuat ekosistemnya.
Sebaliknya, media-media kelas tengah dan kecil masih terseok-seok membenahi nafasnya.
Media-media lokal dan regional selama ini mengandalkan kontrak dari pemerintah. Namun, paska kebijakan efisiensi dari pusat, sejumlah media mulai mati suri.
Salah satu cara untuk menahan nafas dalam jangka panjang, media-media segmented menjadi pilihan.
Media dengan ceruk pasar tersegmentasi telah terbukti tahan banting, meski dihantam badai berkali-kali.
Pada akhirnya bisnis media akan terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Dan setiap masa selalu terbuka peluangnya.
Mungkin, karena itu pula, di tengah krisis ekonomi: Grup Djarum justru mengambil langkah berani mengakuisisi media ternama.
Rudi Agung













