SMART RT – Sebanyak 525 mahasiswa Universitas Mulia Balikpapan, memenuhi Ballroom Kampus Cheng Hoo saat mengikuti pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026.
Pembekalan dilakukan pada Jumat, 17 Juli 2026. Nantinya, selama lima minggu di lapangan, mereka akan menjalankan pengabdian berbasis SDGs dan menyusun basis data wilayah.
Langkah ini diharapkan menjadi bagian rekomendasi pembangunan di 34 kelurahan Kota Balikpapan.
Selama berpuluh tahun, KKN identik dengan pelaksanaan program yang dirancang mahasiswa selama berada di lokasi pengabdian.
Saat masa KKN berakhir, laporan diserahkan, dokumentasi dikumpulkan, dan mahasiswa kembali ke kampus. Tak sedikit program yang berhenti seiring berakhirnya masa pengabdian.
Kini, Universitas Mulia menggeser cara pandang konvensional itu.
Melalui KKN Tematik 2026, pengabdian mahasiswa diukur dari banyaknya kegiatan dan pengetahuan yang berhasil diwariskan kepada masyarakat.
Karena itu, setiap kelompok KKN diwajibkan menyusun dan melaksanakan program kerja, serta membangun basis data wilayah.
Basis data itu memotret kondisi riil masyarakat sebagai pijakan penyusunan rekomendasi pembangunan.
Konsep itu menjadi salah satu pokok pembekalan yang disampaikan Ketua Steering Committee KKN Tematik Universitas Mulia 2026, Gunawan, M.T, kepada 525 mahasiswa yang diterjunkan ke 34 kelurahan di enam kecamatan Kota Balikpapan.
Menurut Gunawan, pendekatan ini menjadi pembeda utama dibanding KKN tahun-tahun sebelumnya.
Jika KKN konvensional lebih menitikberatkan pelaksanaan program kerja di lokasi pengabdian, maka KKN Tematik 2026 menempatkan mahasiswa sebagai mitra masyarakat.
“Sekaligus penghasil pengetahuan berbasis data,” jelasnya.
Namun, ia buru-buru mengingatkan, program kerja tetap menjadi bagian penting. Tetapi seluruh kegiatan diarahkan agar menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN.
Tahun ini, KKN mengusung pendekatan berbasis SDGs dengan menempatkan mahasiswa tidak sebagai pelaksana pengabdian dan penghasil data serta rekomendasi pembangunan bagi Kota Balikpapan.
Perubahan paradigma tersebut diwujudkan melalui pendekatan KKN Tematik berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).
SDGs dikenal dengan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang disepakati negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai arah pembangunan global hingga tahun 2030.
Tujuan-tujuan itu mencakup berbagai isu strategis: pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, kesehatan, pertumbuhan ekonomi, kesetaraan gender, lingkungan hidup, hingga kemitraan pembangunan.
Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok KKN Universitas Mulia tidak diwajibkan mengerjakan seluruh tujuan tersebut.
Mahasiswa diarahkan memilih dua hingga empat tujuan SDGs yang paling sesuai dengan karakteristik wilayah penempatan.
Dengan demikian, program kerja lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan dari asumsi yang dibawa mahasiswa dari ruang kuliah.
Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan program yang lebih kontekstual sekaligus memperkuat relevansi pengabdian dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Selain program tematik berbasis SDGs, seluruh kelompok KKN juga wajib melakukan program umum penyusunan basis data wilayah.
Bagi Universitas Mulia, data menjadi fondasi penting dalam pembangunan.
Banyak keputusan publik membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi masyarakat. Melalui KKN, mahasiswa diberi kesempatan membantu menghadirkan data tersebut melalui observasi dan wawancara langsung di lapangan.
Gunawan menjelaskan, data yang dikumpulkan bukan untuk menjadi arsip kampus semata. Data tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan pemerintah kelurahan dan kecamatan sebagai gambaran awal kondisi wilayah.
Sekaligus membuka peluang kolaborasi antara Universitas Mulia, pemerintah, masyarakat, dan pelaku UMKM.
Luaran dari program umum ini mencakup profil wilayah, identifikasi persoalan prioritas, pemetaan potensi lokal, serta rekomendasi tindak lanjut yang disusun berdasarkan temuan mahasiswa selama berada di lapangan.
Petakan Kondisi Masyarakat
Sebagai dasar penyusunan rekomendasi, setiap kelompok juga diwajibkan mengumpulkan sedikitnya 30 data valid melalui tiga instrumen survei.
Survei pertama memotret kondisi sosial masyarakat, meliputi tingkat kesejahteraan keluarga, kesehatan, kualitas hunian, kondisi lingkungan, hingga infrastruktur dasar.
Survei kedua diarahkan sektor ekonomi dengan memetakan potensi, tingkat digitalisasi, tantangan, serta kebutuhan pengembangan UMKM di wilayah pengabdian.
Survei ketiga berfokus tata kelola pemerintahan melalui pemetaan digitalisasi administrasi dan inovasi pelayanan publik di tingkat RT, kelurahan, maupun kecamatan.
Ketiga survei dirancang agar mahasiswa memperoleh gambaran yang utuh mengenai sebuah wilayah, bukan hanya dari sisi sosial, tetapi juga ekonomi dan tata kelola pemerintahan.
Mahasiswa Kumpulkan Data Lapangan
Dalam konsep ini, mahasiswa tidak sekadar menjadi pelaksana program, tetapi juga bertindak sebagai enumerator atau pengumpul data lapangan.
Setiap kelompok dibagi ke dalam tiga subkelompok yang bertanggung jawab terhadap masing-masing instrumen survei.
Mereka melakukan koordinasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), berkomunikasi dengan perangkat wilayah, melakukan wawancara kepada responden.
Termasuk memverifikasi hasil survei, hingga menyusun rekapitulasi data sebelum diserahkan kepada panitia.
Karena itu, Google Form survei tidak dibagikan langsung kepada masyarakat. Seluruh isian dilakukan oleh mahasiswa berdasarkan hasil wawancara tatap muka.
Mekanisme ini diterapkan untuk memastikan setiap data benar-benar berasal dari responden yang sesuai serta meminimalkan kesalahan pengisian.
Bagi Universitas Mulia, proses ini mampu menghasilkan data dan melatih mahasiswa melakukan observasi, membangun komunikasi, serta menyusun informasi secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Integritas Data
Gunawan mengingatkan kualitas data bukan hanya ditentukan banyaknya responden, melainkan oleh integritas proses pengumpulannya.
Mahasiswa diminta memperkenalkan diri secara sopan sebagai peserta KKN Universitas Mulia, menjelaskan tujuan survei kepada responden.
Kemudian meminta persetujuan sebelum wawancara, menjaga kerahasiaan informasi pribadi, serta tidak memberikan janji ataupun harapan yang berada di luar kewenangan mereka.
Pendekatan ini menjadi bagian pendidikan karakter dalam KKN.
Saat mahasiswa mampu membangun kepercayaan masyarakat, data yang diperoleh akan lebih akurat sekaligus mencerminkan kondisi lapangan secara objektif.
Setiap kelompok diwajibkan menghasilkan laporan KKN sebagai dokumen akademik, artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal pengabdian kepada masyarakat.
Sekaligus buku chapter yang merekam pengalaman, praktik baik, dan pembelajaran selama pelaksanaan KKN.
Selain itu, mahasiswa juga menyusun video dokumentasi berdurasi lima hingga 10 menit yang akan dipublikasikan melalui media sosial resmi Universitas Mulia, sebagai media diseminasi praktik-praktik pengabdian kepada masyarakat.
Luaran lain yang tidak kalah penting aset digital berupa basis data hasil tiga instrumen survei.
Data ini akan menjadi bagian dokumentasi digital Universitas Mulia, sekaligus sumber informasi yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan program pengabdian maupun penelitian pada masa mendatang.
Dengan demikian, hasil KKN tidak berhenti sebagai laporan yang tersimpan di perpustakaan, tapi berkembang menjadi publikasi ilmiah, dokumentasi digital.
Sekaligus sumber data yang dapat terus dimanfaatkan.
Menurut Gunawan, keberhasilan KKN bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang Anda laksanakan selama berada di sana.
“Tetapi dari manfaat yang masih dirasakan masyarakat jauh setelah Anda kembali ke kampus,” tegas Gunawan.
M. Taufik
Editor: Agung














