SMART RT – Bagi Aidil Saputra Kirsan, mengabdi kepada negara tidak harus dilakukan melalui satu peran saja.
Pada siang hari, ia berdiri di depan mahasiswa sebagai dosen Sistem Informasi.
Di lingkungan tempat tinggalnya, warga RT 44 Sepinggan Pratama mengenalnya sebagai ketua RT yang berusaha hadir dalam berbagai kebutuhan masyarakat.
Aidil lahir pada 17 Maret 1994 dan kini berusia 32 tahun. Ia telah menikah dan dikaruniai dua orang anak.
Bersama keluarganya, Aidil menetap di Sepinggan Pratama sejak November 2022.
Keputusan tinggal di kawasan tersebut diambil bersama istrinya.
Menurut Aidil, lingkungan yang menerapkan nilai-nilai Islami, sistem keamanan yang terjamin, serta pengembang yang dipercaya menjadi pertimbangan memilih tempat tinggal.
Ketiga hal itu dinilainya penting untuk membesarkan keluarga.
Keterlibatan Aidil di lingkungan tempat tinggalnya tidak terlepas dari pandangannya mengenai pengabdian kepada negara.
Baginya, mengabdi dapat dilakukan melalui berbagai cara.
Sebagai dosen, ia menjalankan peran dalam mencerdaskan generasi bangsa melalui pendidikan.
Namun, Aidil merasa pengabdian tidak cukup dilakukan di ruang kelas.
Menjadi Ketua RT menjadi salah satu cara lain baginya berkontribusi langsung kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal.
“Saya ingin mengabdi kepada negara dengan beberapa cara, salah satunya mengabdi kepada masyarakat,” tuturnya.
Aidil mulai menjabat sebagai Ketua RT 44 sejak Oktober 2025.
Meski baru sekitar satu tahun menjalankan tugas tersebut, ia merasa telah mendapat banyak pengalaman.
Kegiatan warga tumbuh, sejumlah program berjalan, dan interaksi dengan masyarakat menjadi bagian dari kesehariannya.
Ketika diminta menggambarkan kondisi RT 44, Aidil memiliki satu jargon yang sering ia gunakan, yakni “Menyala RT44ku”.
Menurutnya, jargon tersebut menggambarkan kondisi warga yang kompak dan aktif.
Kegiatan kemasyarakatan di RT 44 cukup beragam, mulai dari kegiatan sosial hingga agenda rutin warga.
Selain aktivitas warga, Aidil juga membawa latar belakangnya sebagai dosen Sistem Informasi ke dalam pengelolaan RT.
Sistem informasi digunakan untuk mendukung pendataan warga, pengelolaan keuangan, hingga pelayanan sehari-hari kepada masyarakat.
Dengan sistem tersebut, ia berharap pengurus dapat bekerja lebih tertib dan warga memperoleh pelayanan dengan alur yang lebih jelas.
Selama menjalankan tugas sebagai Ketua RT 44, Aidil mengaku menghadapi berbagai karakter dan pandangan warga.
Tidak semua pendapat selalu berjalan searah. Karena itu, ia perlu mencari titik tengah agar setiap pihak tetap merasa didengar tanpa mengesampingkan kepentingan bersama.
Menurutnya, menjadi pengurus RT membutuhkan kesabaran dan keikhlasan.
Jabatan tersebut tidak memberikan imbalan materi, tetapi dijalani sebagai bentuk tanggung jawab sosial kepada lingkungan.
“Menjadi pengurus RT itu tidak ada bayarannya sama sekali. Tapi kita jalani dengan ikhlas,” ujarnya.
Bagi Aidil, tantangan dalam mengurus RT menjadi bagian dari proses belajar.
Ia semakin memahami bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan komunikasi, keterbukaan, serta kemampuan untuk menghadapi perbedaan.
Ketika ditanya mengenai kebutuhan warga RT 44 saat ini, Aidil menyebut pelayanan sebagai salah satu hal utama.
Ia mengungkapkan, warga masih perlu dilayani dengan lebih baik dan hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang terus diperbaiki.
Selain pelayanan, keamanan lingkungan juga menjadi perhatian.
Aidil ingin sistem keamanan RT 44 semakin diperkuat agar warga merasa lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan di kemudian hari.
Untuk mendukung hal itu, ia berencana menambah jumlah pengurus RT. Dengan lebih banyak orang yang terlibat, pelayanan kepada warga diharapkan dapat berjalan lebih maksimal dan merata.
Sistem keamanan juga diharapkan bisa dipantau serta dikelola dengan lebih baik.
Di luar perannya sebagai Ketua RT, Aidil memiliki keinginan untuk ikut mendorong perubahan Indonesia menjadi lebih baik.
Ia percaya generasinya kelak akan menjadi bagian dari orang-orang yang memegang peran dalam berbagai lini kepemimpinan negara.
Maka dari itu, ia menilai penting bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri sejak sekarang.
Persiapan tersebut dapat dilakukan dengan melatih kepekaan, tanggung jawab, dan keadilan, termasuk melalui pengalaman sederhana seperti mengurus lingkungan RT.
“Kita harus siap menjadi pemimpin yang adil, karena suatu saat generasi kita akan menjadi pemimpin masa depan negara.
Apa pun hasilnya nanti, yang penting kita sudah mempersiapkan diri,” tegasnya.
Bagi Aidil, menjadi Ketua RT bukan sekadar persoalan jabatan. Peran tersebut menjadi latihan kecil untuk menghadapi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
Ia berharap RT 44 terus menyala, warga semakin kompak, dan pelayanan kepada masyarakat terus membaik dari waktu ke waktu.
Baginya, lingkungan yang kuat dibangun melalui kebersamaan, kepedulian, serta kemauan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Dengan prinsip tersebut, Aidil ingin pengabdian yang dijalankannya melalui kampus dan lingkungan tempat tinggal dapat berjalan beriringan.
Ia menyakini pendidikan menjadi ruang menyiapkan generasi, adapun RT menjadi tempat belajar melayani dan bertanggung jawab kepada masyarakat.
Salsa/ M. Taufik
Editor: Agung













