SMART RT – Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia Balikpapan, menerapkan kurikulum berbasis luaran.
Kaprodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univeristas Mulia, Eko Edy Susanto, menjelaskan sistem ini dikenal dengan istilah Outcome Based Education alias OBE.
OBE, jelas Eko, dikenal sebagai proses pembelajaran yang menekankan pencapaian luaran atau target yang telah ditetapkan secara spesifik oleh Program Studi S1 Akuntansi.
Tujuannya agar sesuai standar industri dan profesi akuntansi yang berlaku saat ini baik nasional dan internasional.
Pemberlakuan kurikulum OBE bertujuan agar lulusan dari Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia, memiliki kompetensi soft skill dan hard skill sesuai kebutuhan pasar.
Selain itu, penerapan sistem OBE juga dimaksudkan sebagai syarat penting bagi program studi akuntansi.
“Untuk meraih akreditasi unggul nasional maupun lembaga internasional, seperti FIBAA atau AACSB,” jelas Eko Edy Susanto, SE, M.AK.
Eko mengungkapkan di antara kelebihan utama sistem OBE untuk Akuntansi, fokus pada keterampilan nyata.
“Mahasiswa dilatih menguasai analisis laporan keuangan, audit, dan perpajakan lewat praktik langsung,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Eko, di Universitas Mulia sistem OBE juga menerapkan akuntansi digitalisasi.
Mahasiswa akuntansi Universitas Mulia, tidak hanya dilatih membuat jurnal atau laporan keuangan.
Tetapi juga diuji kemampuannya dalam analisis data keuangan, penggunaan software audit, etika profesi, hingga komunikasi bisnis.
“Mahasiswa diajarkan untuk membuat aplikasi digital yang terkait dengan dunia akuntansi,” paparnya.
Penerapan sistem OBE di Kampus Putih, juga diperkuat dari hasil analisa SWOT: metode perencanaan untuk menilai Kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats).
Termasuk hasil kajian setelah melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan Ciputra Group.
Karena itu, Eko tidak khawatir dengan banyaknya jurusan Akuntansi di kampus-kampus lain di Balikpapan.
Ia meyakini, jurusan Akuntansi di Universitas Mulia memiliki keunggulan yang tak dimiliki jurusan serupa di kampus Balikpapan lainnya.
Eko mengamini data BPS terbaru yang dirilis Agustus 2026, yang mengungkapkan data soal sejuta Sarjana yang menganggur.
Terbanyak dari jurusan Akuntansi. Karena itu untuk menyiasati hal tersebut, Universitas Mulia menggandeng dunia industri.

Gandeng Kerjasama Banyak Pihak
“Selain mengupgrade kurikulum dan proses pembelajaran, kami juga bekerjasama dengan dunia industri,” jelasnya.
Langkah ini untuk mempersiapkan jebolan Akuntansi UM bisa siap pakai setelah lulus.
Eko menerangkan, selama ini proses pembelajaran menggunakan metode studi kasus (case method) dan berbasis proyek (project-based learning).
“Kurikulumnya disesuaikan standar dunia kerja dan teknologi akuntansi terkini,” terang Eko.
Selain bekerjasama dengan industri, pihaknya juga menggandeng Perbankan, OJK, BI, MNC Sekuritas, dan lainnya.
Apalagi, kata Eko, Universitas Mulia Balikpapan fokus pada Global Technopreneur Campus.
“Jadi, lulusan Akuntansi UM bukan hanya diserap di industri, tapi juga ada yang membuka lapangan usaha sendiri,” ucap Eko.
Pihaknya pun menerapkan strategi mengurangi kesenjangan antara teori kampus dan praktik di kantor akuntan atau perusahaan.
Eko yang punya basic Akuntansi Perpajakan, alumnus dari Universitas Hasanuddin Makassar.
Ia meyakini, Kampus Putih Balikpapan mampu bersaing dengan kampus lain di luar kota.
Sebab, lanjutnya, Universitas Mulia berupaya menjawab perubahan cepat di dunia bisnis, perpajakan, dan teknologi finansial (fintech) agar lulusan siap pakai.
“Atau mereka mampu membuka usaha sendiri dan membuka lapangan kerja,” imbunnya.
Lantas, terkait mahasiswa baru tahun ini ada berapa yang mendaftar di UM?
Menjawab pertanyaan itu, Eko bersyukur kampusnya diminati banyak mahasiswa.
“Tahun ini Akuntansi buka tiga kelas,” katanya. Selain kelas pagi, pihaknya juga membuka kelas malam untuk para pekerja. Keduanya reguler.
Kelas malam tetap memberlakukan kuliah harian laiknya kelas pagi. Kuliahnya mulai pukul 17.00-22.00 WITA, Senin-Jumat.
“Beda dengan Kelas Eksekutif, kelas malam tetap masuk tiap hari.”
Sedangkan Kelas Eksekutif hanya kuliah sepekan dua kali, Jumat dan Sabtu.
Di tengah disrupsi digital saat ini, apa tantangan terberat bagi para dosen?
Kata Eko, setiap dosen harus update informasi dan perkembangan apapun.
Termasuk bagi dosen Akuntansi. Mereka harus familier dengan segala perubahan.
Apalagi Kampus Putih tengah mengejar Akreditasi Unggul.
Karena itu, tantangan bagi seorang Kaprodi pun lebih berat dari dosen reguler.
“Kira harus multitalenta, ngurusin mahasiswa, kurikulum, buka jaringan, bimbingan, dan lainnya,” kata Eko.
Selain itu, memikirkan Capaian Pembelajaran Lulusan atau CPL. Ini disusun berdasar standar nasional pendidikan tinggi.
CPL mencakup empat unsur penting: sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus.
CPL di dunia universitas adalah target, kemampuan, atau kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa setelah selesai kuliah dan lulus dari program studi tertentu.
“Dari CPL, dibuat lagi CPMK Capaian Pembelajaran Mata Kuliah, yang lebih kecil untuk tiap-tiap kelas atau semester,” jelasnya.
Meski tugas dan tantangannya luar biasa besar, ia tetap bergembira menjalani profesinya sebagai seorang pendidik. Pun sebagai Kaprodi.
M. Taufik
Editor: Agung














