SMART RTKU – Sejak dulu hasil gotong-royong masyarakat selalu menakjubkan.
Begitu pun hasil yang dilakukan warga RT 66 Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara.
Mereka bekerja dengan diam, tapi diam-diam mampu mewujudkan hasil ketahanan pangan.
Mereka membuka lahan kosong di sekitar dan memanfaatkannya dengan anggaran swadaya.
Udin, warga setempat yang aktif mengelola kebun, mengungkap saat ini biaya pupuk menjadi kendala utama untuk mengembangkan kebun warga.
Harga pupuk yang mencapai Rp 35 ribu per kilogram, membuat seluruh kebutuhan operasional masih harus ditanggung swadaya melalui iuran warga.
“Pupuk mahal, Rp 35 ribu per Kilogram Mas, selama ini yah kami swadaya patungan antar warga tidak subsidi,” ungkap Udin, Rabu 8 Juli 2026.
Meski demikian, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan kebun tersebut.
Mereka tak patah arang. Kebun warga tetap berjalan, dikelola bersama-sama.
Inisiatif warga RT 66 mendapat apresiasi dari Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Batu Ampar, Purosho.
Menurut Purosho kreativitas masyaraka yang mampu mengubah lahan tidak produktif menjadi sumber ketahanan pangan sebagai langkah yang patut dicontoh.
Dalam pengamatannya, warga RT 66 tanpa menunggu instruksi dari siapa pun, telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Sekaligus membangun kemandirian pangan di tingkat masyarakat. Ini yang luar biasa, tanpa diminta ibu dan bapak bapak kreatif menjalankan ketahanan pangan di lingkungan seperti ini,” papar Purosho.

Ia berharap program urban farming ini tidak berhenti dalam waktu singkat, melainkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lainnya.
Dengan semangat kebersamaan yang telah terbangun, lahan tidur di RT 66 kini bukan lagi sekadar tanah kosong.
Melainkan simbol harapan bahwa ketahanan pangan dapat tumbuh dari kebersamaan, kreativitas, dan kepedulian warga terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Bagi masyarakat RT 66 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, ketahanan pangan tidak harus diwujudkan melalui hamparan sawah yang luas.
Sebaliknya, mereka membuktikan bahwa sebidang lahan yang lama terbengkalai, mampu disulap menjadi kebun produktif melalui konsep urban farming.
Padahal kebun itu awalnya hanya berupa lahan yang sebelumnya dipenuhi semak belukar.
Lahan itu berada di tengah warga RT 66, yang kini berubah menjadi area yang menghasilkan aneka sayuran segar.
Kebun tersebut berdiri di atas tanah milik salah seorang warga yang tidak menetap di lingkungan RT 66 Batu Ampar.
Setelah memperoleh izin dari pemiliknya, warga bergotong royong membersihkan lahan dan mulai mengelolanya sebagai kebun bersama.
Hasil berkebun bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekitar.
“Daripada jadi lahan tidur dihinggapi sejak belukar jadi hutan, kita izin untuk menanam sayur dan buahan disini, Mas,” tutur Yati, Ketua RT 66.
M. Taufik
Editor: Agung














