SMART RT – Dulu, Ketua RT 39 di kawasan Besakih, Perumahan Regency, Balikpapan Joko terbiasa mengejar pertandingan.
Ia bisa berangkat ke kota lain hanya untuk memastikan satu pertandingan sepak bola atau tinju menjadi berita di halaman olahraga.
Saat ini, rutinitasnya berbeda.
Tidak ada lagi perjalanan meliput pertandingan, mengejar narasumber, atau mengirim tulisan ke meja redaksi.
Setelah pensiun dari industri farmasi, sebagian waktunya justru dihabiskan di lingkungan tempat ia tinggal selama lebih dari dua dekade.
Joko, yang lahir di Banyuwangi pada 3 Desember 1965, tercatat sebagai Ketua RT 39 di kawasan Besakih, Perumahan Regency, Balikpapan.
Di usianya yang kini 60 tahun, ia masih menjadi salah satu orang yang dicari warga ketika ada persoalan di lingkungan.
Peran tersebut tentu tidak datang tiba-tiba.
Joko pertama kali mengenal Kalimantan ketika datang untuk bekerja.
Sebelumnya, sebagian besar hidupnya dihabiskan di Yogyakarta, sejak masa sekolah hingga kuliah.
Ketika pertama kali tiba di Balikpapan, suasana yang dilihatnya sangat berbeda dengan Yogyakarta yang telah lama dikenalnya.
Ia masih mengingat perjalanan menuju Samarinda yang ketika itu banyak melewati kawasan yang sepi.
“Saya turun di Balikpapan, langsung lewat hutan. Ya Allah, sepi betul Kalimantan,” kenangnya kepada media ini.
Kesan sebagai pendatang itu perlahan berubah.
Ia kemudian tinggal di Samarinda sekitar dua tahun sebelum mendapat tawaran bekerja di Balikpapan pada 1999.
Sejak saat itu, Kalimantan Timur menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Joko menghabiskan masa sekolah hingga kuliahnya di Yogyakarta.
Di kota itu ia kemudian menjadi wartawan lepas untuk Koran Kedaulatan Rakyat. Ia ditugaskan di desk olahraga.
Tinju dan sepak bola menjadi dua hal yang paling sering ia liput.
Joko tidak hanya bekerja dari meja. Jika ada pertandingan, ia berangkat langsung ke lokasi.
Probolinggo, Jember, Kediri, Solo hingga Semarang pernah menjadi tujuan liputannya.
Honor yang diterimanya ketika itu tidak besar.
Joko masih mengingat masa ketika satu berita olahraga hanya menghasilkan puluhan ribu rupiah.
Namun pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum kemudian beralih ke dunia farmasi.
Seorang teman lama semasa SMA, Bowie Arianto, yang telah lebih dahulu tinggal di Samarinda, menjadi salah satu yang membuka jalan baginya untuk bekerja di industri tersebut.
Menariknya, Joko sebenarnya bukan lulusan farmasi. Ia memiliki latar belakang filsafat dari perguruan tinggi di Yogyakarta.
Ia pun harus belajar dari awal.
Walhasil, Joko mengikuti pelatihan dan mempelajari berbagai jenis obat, termasuk cara kerja serta penggunaannya.
Dari Samarinda, kariernya kemudian berkembang.
Setelah sekitar dua tahun bekerja di Samarinda, ia mendapat tawaran bergabung dengan Boehringer Ingelheim, perusahaan farmasi asal Jerman.
Tawaran itu membawanya pindah ke Balikpapan pada 1999. Ia kemudian menetap di kota ini hingga pensiun.
Lima tahun setelah pindah ke Balikpapan, Joko membeli rumah di Regency.
Saat itu, kawasan tersebut belum seramai sekarang. Rumah masih jarang dan suasananya relatif sepi.
Bahkan, keputusan untuk membeli rumah di sana sempat mendapat penolakan dari istrinya.
“Istri saya dulu enggak mau. Katanya rumah dekat bulan, enggak ada orang,” tutur Joko.
Namun Joko tetap mengambil keputusan. Ia membeli dua kapling dengan harga sekitar Rp43 juta per kapling. Ukurannya sekitar 6 x 12 meter.
Dua puluh dua tahun kemudian, pemandangan itu berubah.
Regency pun berkembang menjadi kawasan hunian dengan 13 RT dan ribuan penduduk.
Rumah-rumah berdiri semakin rapat, fasilitas bertambah, dan kawasan yang dulu terasa sunyi berubah menjadi lingkungan yang jauh lebih ramai.
Joko menjadi saksi dari perubahan itu.
Ia bahkan sudah menjadi ketua RT sejak kawasan tersebut masih terdiri dari sedikit RT.
Selama sekitar 15 hingga 20 tahun menjalankan tugas tersebut, ia melihat persoalan warga ikut berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Sebagai Ketua RT 39 di Besakih, urusannya bukan hanya surat-menyurat warga.
Ia bersama Forum RT Regency juga ikut menjembatani berbagai kebutuhan masyarakat.
Salah satu yang pernah ditangani berkaitan dengan pendidikan.
Saat itu ada anak-anak warga yang belum tertampung di sekolah.
Forum RT mengumpulkan persoalan tersebut dan menyampaikannya kepada pihak sekolah serta Dinas Pendidikan.
Hasilnya, anak-anak tersebut akhirnya mendapatkan tempat untuk bersekolah.
Bagi Joko, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa forum warga dapat membantu menyelesaikan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat.
“Forum RT itu untuk membantu menjembatani warga,” katanya.
Peran tersebut kembali terlihat ketika sejumlah konsumen di kawasan Regency menghadapi persoalan terkait rumah yang mereka beli.
Berdasarkan laporan dari sejumlah RT yang dihimpun forum, ada sekitar 300 konsumen yang menghadapi persoalan dengan kondisi berbeda-beda.
Ada rumah yang belum dibangun meski sudah dibayar, bangunan yang baru selesai sebagian.
Ada juga rumah yang sudah berdiri tetapi legalitasnya belum diterima konsumen.
Joko tidak menempatkan persoalan tersebut sebagai urusan satu RT saja.
Forum mencoba menghimpun laporan warga dan menjembatani komunikasi dengan pihak pengembang maupun pemerintah.
Ia juga mendorong agar pembahasan melibatkan pihak pusat pengembang karena menurutnya sejumlah keputusan berada di tingkat pusat.
Bagi Joko, warga pada dasarnya menginginkan rumah yang telah mereka beli dapat dihuni dan memiliki legalitas yang jelas.
“Orang beli rumah itu kan pasti kepengen punya rumah. Kepengen rumahnya ada dan legalitasnya clear,” tekannya.
Kasus tersebut menjadi salah satu persoalan yang kini dikawal Forum RT.
Namun bagi Joko, fungsi forum tidak berhenti pada satu masalah.
Selama warga membutuhkan penghubung, forum tetap berjalan.
Dua puluh dua tahun setelah membeli rumah di Regency, Joko telah melewati banyak perubahan di kawasan tersebut.
Rumah yang dulu berada di lingkungan lengang kini berada di tengah permukiman yang jauh lebih ramai.
Setelah puluhan tahun bekerja, kesehariannya pun berubah. Tak ada lagi perjalanan meliput pertandingan atau agenda pekerjaan dari satu kota ke kota lain.
Kini, waktunya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga, sembari tetap menjalani aktivitasnya sebagai Ketua RT 39.
M. Taufik/ Caca
Editor: Agung













