SMART RT – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan memperkuat daya saing pelaku UMKM agar mampu menembus pasar internasional.
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Balikpapan, Kalimantan Timur mendampingi 41 UMKM selama tiga bulan dalam gelaran Nusantara Export Academy 2026.
“Pendampingan kami lakukan selama tiga bulan, ini untuk memastikan kesiapan produk dan rencana ekspor para peserta bisa lebih matang,” ujar Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi.
Melalui program Nusantara Export Academy atau NEA 2026, sebanyak 41 UMKM potensial dari Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser dibekali pengetahuan, pendampingan, hingga mendapat fasilitas penjajakan bisnis dengan calon pembeli luar negeri.
Workshop berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Para peserta mendapat pendampingan intensif selama tiga bulan, untuk memastikan materi yang diperoleh dapat diimplementasikan hingga menghasilkan transaksi ekspor.
Robi menjelaskan, program ini bagian strategi memperluas akses pasar global bagi UMKM, sekaligus memperkuat diversifikasi ekspor daerah.
“UMKM di wilayah Balikpapan, PPU, dan Paser memiliki produk yang unik dan berpotensi ekspor,” jelas Robi, Jumat 17 Juli 2026.
Namun potensi itu masih menghadapi tantangan, mulai pemahaman prosedur ekspor, akses buyer internasional, kesiapan produk sesuai standar global, hingga strategi pemasaran internasional.
Karenanya Nusantara Export Academy hadir menjawab tantangan tersebut melalui pelatihan yang terintegrasi dengan pendampingan berkelanjutan.
Bank Indonesia Balikpapan terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah agar bisa naik kelas hingga menembus pasar internasional.
Program ini memberikan pelatihan dan pendampingan intensif agar UMKM benar-benar siap menjadi eksportir.
Adapun khusus workshop berlangsung 13–15 Juli 2026, yang diikuti 41 UMKM potensial ekspor dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Produk yang dibawa peserta beragam, mulai makanan dan minuman olahan, kriya, hingga wastra khas daerah yang dinilai memiliki peluang besar bersaing di pasar global.
Robi Ariadi mengatakan banyak UMKM sebenarnya memiliki produk berkualitas, namun masih menghadapi tantangan untuk masuk pasar ekspor.
“Nah, kami ingin meningkatkan kesiapan UMKM agar mampu bersaing di pasar internasional. Tidak hanya pelatihan, peserta juga akan mendapat pendampingan selama tiga bulan agar ilmunya benar-benar bisa diterapkan,” ujarnya.
Program ini tindak lanjut dari Komitmen Bersama Perluasan Akses Ekspor yang telah menyepakati BI dengan sejumlah mitra strategis.
Diantaranya Bea Cukai Kaltim, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas pelaku usaha, hingga perbankan.
Selama pelatihan, peserta mendapat materi langsung dari para praktisi dan lembaga terkait.
Mereka dikenalkan Kode HS, memahami prosedur ekspor, strategi pemasaran internasional, pembiayaan ekspor, hingga memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pembeli dari berbagai negara.
Peserta juga mengikuti sesi One-On-One Mentoring, penyusunan rencana aksi ekspor, Business Matching dengan calon Buyer internasional, hingga pendampingan transaksi ekspor.
Sejumlah hasil positif mulai terlihat.
Para peserta kini mampu mengidentifikasi HS Code produknya, memahami cara meningkatkan kualitas kemasan, memperpanjang masa simpan produk, sampai memanfaatkan pasar global sebagai pintu masuk pasar internasional
Melalui NEA 2026, Bank Indonesia berharap semakin banyak UMKM di wilayah Balikpapan, PPU, dan Paser yang mampu menembus pasar ekspor sehingga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
BI menggandeng Akademi Mudah Ekspor (AME) sebagai mitra utama pendampingan.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur memberi materi ihwal prosedur ekspor, penentuan HS Code, layanan kepabeanan, hingga pemanfaatan platform UKME atau Usaha Kecil Menengah Ekspor dan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).
Di sisi lain, LPEI membekali peserta dengan informasi mengenai pembiayaan ekspor dan Coaching Program for New Exporters (CPNE).
Adapun agregator ekspor Master Bagasi membuka peluang kurasi produk, pengiriman sampel, serta akses jaringan diaspora Indonesia di berbagai negara sebagai pintu masuk ke pasar internasional.
Peserta juga memperoleh pendampingan ihwal peningkatan kualitas kemasan, penyusunan label informasi gizi, peningkatan masa simpan produk.
Termasuk penguatan kapasitas produksi, hingga strategi pemasaran melalui platform digital dan marketplace internasional.
Melalui Nusantara Export Academy 2026, Bank Indonesia berharap semakin banyak UMKM di wilayah Balikpapan, PPU, dan Paser yang mampu melakukan ekspor secara mandiri.
Keberhasilan in diharapkan bisa meningkatkan daya saing pelaku usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi global.
M. Taufik
Editor: Agung














