SMART RTKU – Ada seorang tukang kebun diminta majikannya mengambil buah yang manis.
Namun, berkali-kali diambilkan, buah itu tetap terasa masam. Hal itu membuat majikan hampir marah.
Ia bertanya,’ “Sudah bertahun-tahun engkau bekerja sebagai penjaga kebun, tapi kenapa masih tak bisa membedakan mana buah yang manis dan masam?”
Penjaga kebun itu menundukkan kepalanya. Lalu perlahan menjawab.
“Maaf, Tuan. Anda meminta saya menjaga dan mengurus kebun. Bukan untuk mencicipi buahnya.”
“Saya tidak pernah memakannya, tolong maafkanlah bila saya tidak tahu bedanya ciri buah yang manis atau tidak,” ujarnya.
Majikan itu terhentak. Ruang jiwanya tercabik. Bertahun-tahun, tidak satu pun buahnya diambil penjaga kebunnya.
Bahkan sekadar mencicipi tidak. Ia tercengang dengan amanah penjaga kebun itu.
Singkat kisah, sang majikan akhirnya menikahkan putrinya dengan penjaga kebun tersebut.
Dari pernikahan mereka, lahirlah alim ulama ternama, Syeikh Abdullah bin Mubarok at-Taabi.
Syaikh Abdullah bin Mubarak, lahir 118 H, wafat 181 H. Beliau salah satu ulama besar dari masa Tabi’ut Tabi’in yang sangat masyhur.
Beliau dihormati karena keluasan ilmunya, sikap kehati-hatiannya, kezuhudan, kedermawanan, dan keberaniannya di medan jihad.
Syekh Mubarok juga bergelar Amirul Mu’minin fil Hadits. Membaca kisahnya, membuat kita berdecak kagum. Sekaligus malu.
Betapa dahsyat integritas orang-orang terdahulu. Jika dibanding kita, mungkin tak ada seujung kuku.
Mereka sangat gemar menjaga amanah. Integritas orang yang amanah membuat tercengang siapapun.
Orang amanah tak melulu lahir dari orang pendidikan, kaya raya, bangsawan, atau srata sosial tinggi lainnya. Tetapi bisa dari mana saja.
Bukan dari keturunan atau kekayaan, melainkan lahir dari perilaku: akhlak dan adab. Kita rindu tauladan dari sosok yang amanah.
Bagaimana sekarang? Anda yang lebih cerdik menjawab pertanyaan ini.
Saya ingin mengajak Anda mengingat ucapan mantan Ketua BEM UGM, Tyo.
Terlepas pro kontra kesantunan dalam kritiknya, tapi banyak dari statement Tyo menohok kita.
Salah satunya kritik Tyo terkait orang-orang yang dekat kekuasaan.
Ia menilai orang-orang lingkaran penguasa bukan dipilih lantaran kompetensi, moralitas dan integritasnya. Melainkan loyalitasnya.
Meski inkompetensi, tidak memegang nilai-nilai integritas, asal dekat penguasa maka bisa masuk ke dalam lingkaran mereka.
Bahkan masuk dalam jajaran kabinet. Terima tidak terima, itu lah kenyataannya.
Orang-orang yang mengendalikan pemerintahan saat ini bukan karena kemampuan, melainkan karena kedekatan. Karena bekas tim suksesnya.
Sebetulnya tak ada masalah merekrut jajaran dari tim sukses.
Tapi sebaiknya harus melihat latarnya, kompetensi, integritas dan moralitasnya.
Kenyataannya, kita bisa menilai sendiri. Ini terjadi bukan saja di tingkat pusat tapi juga daerah. Nyaris di semua daerah.
Bahkan di daerah kian menyebar kerajaan-kerajaan kecil, politik dinasti.
Misalnya DPRD yang seharusnya mengawasi pemerintahan, menjadi lemah karena mereka kakak beradik.
Apa yang diharapkan dari pemerintahan seperti itu? Bagaimana bisa amanah dengan sistem saling membela sesama keluarga.
Padahal jelas mereka tengah memimpin pemerintahan, memimpin rakyat banyak.
Tapi karena sistemnya dinasti maka saling menutupi.
Tak perlu kita bermimpi mendapat pemimpin sekelas orangtua Syeikh Abdullah bin Mubarok at-Taabi.
Untuk memimpikan para dinasti daerah punya integritas saja, rasanya mustahil.
Dari mana integritasnya? Kalau mengelola daerah dianggap seperti perusahaan atau bahkan keluarga. Seenaknya.
Saya teringat apa yang pernah disampaikan Mantan Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wirjawan.
Ia mendesak orientasi kepemimpinan nasional ditata ulang.
Menurutnya bangsa ini harus berhenti mabuk pada elektabilitas dan popularitas.
Sudah saatnya bergeser pada ukuran yang lebih menentukan: integritas, kapabilitas, dan etikabilitas.
Desakan itu ia sampaikan saat Public Lecture Series, Senin 22 Juni 2026.
“Kepemimpinan mendatang haruslah ditata ulang. Kita tidak boleh mabuk pada elektabilitas dan popularitas, tetapi harus bergeser orientasi untuk melihat integritas, kapabilitas, dan etikabilitas,” saran Wirjawan.
Masih banyak orang-orang berintegritas di kota dan Republik ini.
Masalahnya, kita, apakah berani menolak suap politik 200-300k? Apakah bisa menolak sembako dari calon pemimpin?
Atau apakah mau menelaah rekam jejak calon-calon pemimpin kita.
Apakah mau berlelah-lelah, menyelidiki integritas, kapasitas dan etikabilitas mereka?
Rudi Agung














