SMART RT – Satya Nugraha, S.STP, namanya. Wanita muda kelahiran Bulungan Kaltara 1987, punya banyak cerita.
Nyaris setahun, ia diamanahi menjadi Lurah Telagasari Kecamatan Balikpapan Kota, Balikpapan.
“Oktober bulan depan, pas setahun saya diangkat jadi lurah,” ujar Satya, kala berbincang dengan media ini, Rabu.
Satya terbilang aktif turun ke bawah.
Lewat pembawaan karakternya yang ceria, supel dan ramah, mudah baginya merangkul warga.
Nyaris tak ada hambatan dalam melaksanakan program-program pemerintah.
Wanita anggun ini jebolan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, angkatan ke-17.
STPDN, yang kini diintegrasikan menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), memang diarahkan mencetak calon pejabat.
Alumni STPDN pada masanya diarahkan menjadi pamong praja di pemerintah daerah atau pemerintahan dalam negeri karena sifat sekolahnya yang spesifik untuk pemerintahan daerah.
Satya Nugraha, masuk 2005 lulus tahun 2009. Setelah itu, ia ditugaskan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Berjalan waktu, Satya menikah dan ikut suaminya yang juga PNS ke Kota Balikpapan.
Di kota ini, Satya ditugaskan di Setda Pemkot di bidang organisasi. Kemudian mengurus pengadaan barang dan jasa.
Selanjutnya dipindah ke Dinas Pendapatan Daerah, saat ini berganti nama menjadi Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BPPRD atau Bapenda).
Setelah beberapa tahun tugas di sana, ia diangkat menjadi Lurah Telagasari.
“Masing-masing penugasan selama empat tahun,” ujarnya.
Satya berkisah, ada perbedaan antara bertugas di dinas dan lurah.
Kalau di dinas atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD), lebih pada urusan administratif dan regulasi.
Berbeda saat menjadi lurah, yang lebih banyak dihabiskan dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Meski begitu, ia punya pengalaman sama saat di Dispenda. Yang juga bersentuhan dengan warga.
“Jadi tidak begitu kaget. Dimanapun kita ditugaskan harus selalu siap, sesuai sumpah jabatan,” tegasnya.
Satya mengaku menikmati menjadi lurah.
Meski jam kerjanya 24/7 alias harus selalu standby selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
“Kalau di OPD hari Sabtu-Minggu kan kita bisa santai di rumah. Sekarang lebih banyak dihabiskan ketemu warga, tapi justru di sini enjoynya,” kata Satya.
Ia pun menikmati tugasnya sebagai lurah.
Sehari-harinya lurah lebih banyak dihabiskan untuk pendataan awal, pendampingan, penyaluran, sampai laporan akhir.
“Apapun program pemerintah, lurah pasti terlibat di dalamnya,” jelasnya.
Memang, kalau mengacu tupoksinya, tugas pokok dan fungsi lurah melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan camat, sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan daerah.
Selain itu melaksanakan tugas pemerintahan lainnya berdasar ketentuan yang berlaku.
Karena itu, Satya pun rajin keliling wilayah di Kelurahan Telagasari.
Sampai-sampai ia hafal betul karakteristik wilayahnya.
“Warga RT 33 membudidayakan anggur. Di RT 24 membudidayakan terong, tomat, cabe, dan tanaman-tanaman inflasi,” jelasnya.
Di RT 45 lebih lengkap lagi. Warga di sana gencar melakukan penanaman buah, membudidayakan lele, dan beragam jenis ketahanan pangan lain.
Ada juga pengelolaan sampah. Di RT 36 menggencarkan tanaman hidroponik yang hasilnya sudah bisa masuk ke minimarket.
“Hasil pangan mereka sudah masuk ke Yova (jaringan retail lokal di Balikpapan yang memiliki format supermarket dan minimarket). Kapan-kapan kita main ke RT 36 ya,” ajak Satya.
Apa tantangan lurah yang paling berat?
Ditanya itu, Satya mengatakan pada dasarnya tidak ada.
Kata Satya, selama melayani warga dengan hati, bersikap humanis, semua tantangan bisa diselesaikan.
“Yang saya takutkan kalau musim hujan. Kenapa? Karena di sini wilayah perbukitan , saya takut warga tertimpa musibah longsor,” ujar Satya.
Menurutnya topografi perumahan di Telagasari rentan longsor. Bahkan ada rumah yang dindingnya perbukitan.
Kelurahan Telagasari memang dikenal sebagai wilayah yang punya topografi perbukitan.
Karakteristiknya khas, permukaannya memiliki elevasi atau ketinggian lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.
Namun dengan puncak yang lebih landai daripada pegunungan.
Banyak perumahan yang dibangun di dinding-dinding perbukitan.
“Bencana longsor masih menjadi salah satu ancaman di sini,” jelasnya.
Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Balikpapan, di Kelurahan Telagasari memang beberapa kali terjadi longsor.
Misalnya pada Juni 2025 longsor terjadi di RT 43, kemudian pada November 2025 kejadian serupa menimpa wilayah RT 25.
Kala itu, longsor mengancam bangunan mushola serta rumah warga di bawah tebing.
Kasus yang menjadi perhatian adanya pergerakan tanah yang berdampak di sekitar Jalan Tanjungpura RT 25, dekat Mushola Sirotul Mustaqim.
Kondisi kontur tanah yang curam dan curah hujan tinggi memicu potensi longsor susulan. Ini mengancam pemukiman di bawah tebing.
“Makanya suka takut kalau musim hujan ada warga saya yang tertimpa bencana longsor.”
Menurut data BPS yang dilansir 8 November 2024, jumlah penduduk Kelurahan Telagasari Balikpapan Kota per tahun 2023 sebesar 17.974 jiwa.
Wilayah dengan perbukitan ini termasuk daerah padat penduduk.
Wilayah ini didominasi kawasan permukiman padat, area perkantoran, serta kawasan bisnis atau pertokoan.
Adapun kondisi geografisnya banyak kawasan lereng atau perbukitan.
“Sehingga kegiatan seperti penghijauan dan pengelolaan lingkungan sangat penting menjaga kualitas ekosistem dan mencegah kerusakan lahan,” jelas Satya.
Satya Nugraha, wanita muda ini telah memiliki dua buah hati. Yang paling besar sudah memasuki sekolah dasar kelas 2 SD.
Sehari-harinya tinggal di kawasan Sepinggan Balikpapan Selatan.
Terbilang agak jauh dari rumahnya menuju kantornya, di Balikpapan Kota. Meski begitu, ia tetap semangat dan terus berkomitmen memberi manfaat.
Menunaikan tugas dan tanggungjawabnya secara profesional dan proporsional. Menjalani amanah sepenuh hati.
M. Taufik
Editor: Agung













