Erling Haaland, pemain berpostur 195 cm bersama Timnas Norwegia sukses meruntuhkan mimpi Timnas Brazil di Piala Dunia 2026.
Brazil kalah 1-2 dari The Viking, dan Haaland mencetak brace. Pertandingan ini mengejutkan banyak orang.
Perhatian khalayak bola mengarah pada pola kerja tim Norwegia yang berhasil menyita perhatia dunia.
Iwan Nugroho, seorang dosen, menuliskan catatannya di Kompas edisi 7 Juli 2026. Lezat sekali mengunyah tulisannya.
Katanya, piala dunia belum berakhir.
Masih ada kesempatan menikmati gaya permainan kick and rush Inggris, La Nuestra-nya Argentina, tactical football Perancis, tiki taka Spanyol.
Namun, suguhan gaya direct play dan entertainment tim Norwegia dan Erling Haaland, mungkin masih ditunggu khalayak bola.
Gaya main direct play tim Norwegia, serangan balik dan gol-golnya membuat hiburan yang tak kalah heboh.
Pasca pertandingan mengalahkan Brasil, Erling Haaland memimpin entertainment selebrasi ikonik Viking Row.
Menciptakan gemuruh sorak, nyanyian, dan gerakan serempak mendayung massal di dalam di Stadion MetLife.
Teori motivasi Herzberg menjelaskan dua faktor yang menggerakkan bekerjanya kepemimpinan.
Pertama, higienis merujuk kepada persyaratan atau kebutuhan dasar, bisa berupa kompensasi, lingkungan kerja dan kualitas hubungan personal.
Kedua intrinsik, faktor pendorong yang menciptakan kepuasan dalam bekerja, seperti prestasi, pengakuan dan tanggungjawab.
Nugroho melihat teori motivasi Hezberg bekerja dalam tim Norwegia.
Organisasi apa pun, seperti halnya tim sepak bola, yang bekerja efektif, membutuhkan kolaborasi orang-orang di dalamnya.
Secara simple dan tulus, hanya untuk kepentingan tim. Tidak ada intrik, politik, atau potensi toxic di dalam tim.
Mereka ini orang-orang yang rendah hati, dan penuh empati, untuk saling memberikan dukungan psikologis memelihara kekompakan dan situasi tim.
Tim Norwegia menunjukkan kualitas hubungan personal dan lingkungan yang supportif menghasilkan kemenangan sejauh ini.
Ketiga sosok, yakni pelatih, kapten tim dan Haaland; mampu menempatkan diri di antara tim, menciptakan kolaborasi dan resiliency di bawah tekanan di lapangan untuk menghasilkan gol-gol dan kemenangan.
Dari Nurgoho dan tim Norwegia kita belajar. Sebuah tim, organisasi ataupun kelompok kerja professional membutuhkan kekompakan dan ketulusan.
Hilangkan ego, iri, dengki dan segala penyakit yang bisa merusak tim. Hilangkan keinginan agar diakui berkat kerja sendiri.
Segala kepentingan harus diprioritaskan untuk target dan capaian yang telah dicanangkan tim. Buang ego pribadi.
Dengan begitu, sebuah tim, lingkungan kerja, organisasi atau kelompok profesional akan lebih mudah mencapai tujuannya.
Meraih target dari rencana yang dibuat sebelumnya. Jika dalam sebuah tim atau kelompok profesional ada personal yang toxic, itu bisa membuyarkan target.
Menggagalkan rencana dan menjauhi tim dari target yang ingin dicapainya.
Semua ini butuh sosok leader yang bijak. Yang bisa mengayomi, merangkul sekaligus memotivasi.
Seperti Haaland, pelatih dan kapten tim yang mampu menempatkan diri di antara tim, menciptakan kolaborasi dan resiliency di bawah segala tekanan.
Kita bisa meniru mereka. Pelan-pelan. Meninggalkan sifat toxic dalam diri. Menanggalkan kepentingan pribadi.
Fokuskan segala kepentingan untuk tim. Masing-masing bertanggung jawab terhadap bagiannya. Tanpa perlu mengusik porsi orang lain.
Semua perlu fokus pada tujuan besar bersama. Tak ada yang lebih baik, tak ada yang paling buruk. Semua sama. Hasil kerja bareng-bareng.
Rudi Agung














